Kehadiran ikan gabus di kolam budidaya sangat tidak diharapkan karena dianggap sebagai hama. Namun sebenarnya komoditas air tawar termahal.

Ikan bernama ilmiah Channa striata ini di Yogyakarta laku dijual dengan Rp30 ribu/kg berukuran 3-5 ekor/kg. Pembelinya pasien rumah sakit yang menderita kekurangan albumin. Albumin adalah protein untuk mempercepat pemulihan jaringan sel tubuh yang rusak. Protein ini juga berperan mengikat obat-obatan dan logam berat yang tidak mudah larut dalam darah.

Peluang pasar terbuka makin lebar karena pasokan ikan yang berjuluk the snakehead ini masih mengandalkan tangkapan dari alam. Ditambah lagi, tingginya tingkat pencemaran sungai membuat gabus makin sulit diperoleh. Saat pasokan seret seperti kala musim kemarau, harga gabus melonjak tajam. “Bisa dijual Rp15 ribu/ekor untuk size 4-5 ekor/kg,” ujar Andhi Rahardjo, pemilik Andhi Fish Jogja di Rejokusuman, Banguntapan, Kab. Bantul, Yogyakarta.

Melihat peluang itu, Andhi pun giat membenihkan gabus sejak setahun lalu. “Memang produksi benihnya baru 10 ribu ekor/bulan. Semua berasal dari kolam sendiri,” terang mahasiswa tingkat akhir jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, UGM ini. Pasarnya ke Juwana, Pati (Jateng), Bekasi dan Bogor (Jabar), Lamongan, Pacitan dan Madiun (Jatim). Benih ukuran 6-7 cm dijual Rp1.000/ekor di tempat.

Minimalkan Kanibalisme

Sayangnya, Andhi mengaku belum bisa melakukan usaha pembesaran karena terbatasnya lahan. Maklum, ikan ini harus dipelihara dengan kepadatan rendah, maksimal 30 ekor/m2 karena sifat kanibalnya tinggi.

Meminimalkan sifat kanibal gabus tidaklah sukar. Sejak umur dua minggu setelah menetas, benih gabus diberi pakan pelet. Sebelumnya benih diberi pakan cacing sutera. Caranya, Andhi mencampur benih nila dengan benih gabus. Jumlah nila sebanyak 15-20%. Menurut dia, “Benih nila akan mengajari benih gabus untuk makan pelet.”

Dengan cara begitu angka kelangsungan hidup (survival rate-SR) meningkat. “Bisa 90% untuk ikan dewasa, asalkan ikan selalu kenyang,” tambahnya. Peralihan pakan harus dilakukan bertahap agar benih tidak terkejut.

Andhi membesarkan benih hingga ukuran 6-7 cm dengan pelet. Untuk pemeliharaan selanjutnya, termasuk pada induk, Andhi juga memberikan pelet. Ukuran peletnya disesuaikan dengan kebutuhan. “Ini untuk menekan kanibalisme. Kalau diberi pakan daging membuat ikan menjadi semakin kanibal,” terangnya. Gabus diberi pakan tiga kali sehari, yaitu pagi, sore, dan pukul 8-9 malam dengen pertimbangan gabus termasuk ikan yang aktif pada malam hari.

Membudidayakan gabus tidak rumit karena ikan ini tidak cengeng terhadap perubahan kualitas air. Daya tahan hidupnya sekuat lele sehingga SR 90% tidaklah sulit dicapai. Selain itu, kocolan, sebutan gabus di Jawa, juga tidak membutuhkan air yang mengalir. “Air tenang sudah cukup,” tandas Andhi.

Berdasarkan pengalamannya, satu kilogram pelet lele menghasilkan 0,6-0,7 kg gabus (FCR 1,4-1,7). Dengan SR 90%, harga pelet Rp7.000/kg, ikan gabus Rp30 ribu/kg, benih 6-7 cm Rp1.000/ekor, keuntungan budidaya gabus cukup menjanjikan. “Paling kita hanya menambah biaya obat jamur Rp20 ribu per 1.000 ekor,” hitung anggota Kelompok Pembudidaya Mina Karya ini.

Hanya saja waktu pemeliharaan dari ukuran 6-7 cm hingga 3-5 ekor memang masih cukup panjang, berkisar lima bulan. “Sedang kalau dari menetas sampai tujuh bulan,” kata dia. Untuk itu, pembudidaya harus mengatur waktu tebar agar bisa panen di setiap waktu tertentu.

Waspada Pancaroba

Saat umur 7 bulan, gabus sudah mulai bertelur tetapi daya tetas dan daya hidup anakannya rendah. Induk sebaiknya dipilih yang berumur setahun lebih dengan bobot minimal 1,5 kg. Perbandingannya, 1 (jantan) : 4 (betina).

Seekor induk mampu menghasilkan 2.000-2.500 anakan. Induk bertelur kembali tiga bulan kemudian pada musim penghujan. Sewaktu kemarau, selang waktu bertelurnya empat bulan. Kematian anakan cukup tinggi pada musim pancaroba sebab stres lingkungan yang cukup berat terutama jika suhu udara berfluktuasi.

Yang perlu diwaspadai adalah saat peralihan pakan cacing ke pelet, tingkat kematian mencapai 20% – 30%. “(Peralihan pakan) pada musim pancaroba lebih susah lagi. Kematian bisa 90%,” kisah Andhi.

Sedangkan titik kritis pada fase pembesaran ketika pindah kolam. Butuh waktu dua-tiga minggu bagi ikan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Karena itu pembudidaya harus lebih memperhatikan kondisi ikan pada waktu-waktu tersebut, terutama dalam hal kualitas air.

Ketinggian air kolam pemeliharaan minimal 80 cm. Tujuannya, agar ikan tidak lompat ke luar dan memperbanyak persediaan makanan alami. Selain itu, juga bermanfaat untuk menciptakan suasana gelap sebab ikan predator ini cenderung nyaman di tempat gelap.

Isman (Yogyakarta)

Analisis Usaha Pendederan Sederhana untuk 1.000 ekor:

Benih 1.000 x Rp1.000 Rp1.000.000

Pakan 300 kg x Rp7.000 Rp2.100.000

Obat-obatan Rp20.000

Biaya produksi Rp3.120.000

Penjualan size 5 ekor, SR 90%

Jumlah ikan yang hidup 900 ekor

Bobot panen 900/5 ekor 180 kg

Penjualan 180 kg x Rp30.000 Rp5.400.000

Keuntungan Rp2.280.000


Sumber : Tabloid Agrina