Archive for the ‘ Gurame ’ Category

Pasokan gurami ke Sumut tergantung Sumbar

MEDAN - Sumatera Utara sangat tergantung atas pasokan bibit ikan gurami dari Sumatera Barat setelah banyak permintaan.

“Makanya harga gurami di Sumut (Sumatera Uttara) mahal. Mulai dari anakan hingga ukuran untuk siap dimakan, hampir 100 persen berasal dari Sumbar (Sumatera Barat),” kata penjul bibit ikan di Tanjung Morawa, Deli Serdang, M. Pasaribu, akhir pekan.

Bibit ikan gurami itu dijual mulai dari harga Rp1.000 hingga Rp3.000 per ekor, sedangkan untuk ukuran besar siap dimakan berkisar Rp40.000an per kilogram.

Menurut dia, ketergantungan pada Sumbar itu sudah berlangsung lama setelah sebelumnya dipasok dari Jawa.

Pasokan dari Jawa dikurangi karena mutunya kurang bagus atau ikannya rentan mati sampai di Sumut.

“Meski harga dari Jawa lebih murah, tetapi karena rentan mati, pedagang merugi. Jadi pedagang memilih memasok dari Sumbar,” katanya.

Dia mengakui permintaan bibit ikan di Sumut cukup banyak sejalan dengan menjamurnya bisnis restoran di daerah itu khususnya Kota Medan.

Banyak anggota masyarakat berbisnis pembesaran ikan untuk dijual ke rumah makan dan restoran besar.

Penjual lain bibit ikan, B Hutapea, menyatakan selain gurami, bibit ikan yang diminati di Sumut adalah nila dan ikan mas.

“Tetapi persaingan bisnis pembibitan ikan itu semakin ketat, karena jumlah pembibit semakin banyak,” katanya.

Sumber : Waspada Online

Mengenal Ikan Gurami

Kebutuhan ikan bagi penduduk Indonesia pada tahun 2015 diperkirakan 10,5 juta ton atau hampir dua kali lipat dari potensi stok ikan laut Indonesia saat ini. Pemenuhan kebutuhan protein hewani tersebut tentu sudah tidak mungkin lagi dipenuhi oleh ikan hasil tangkapan yang menunjukkan penurunan jumlah dari tahun ke tahun (Khairuman dkk, 2003). Untuk itu kebutuhan ikan harus dipasok dari hasil budidaya sehingga pengembangan budidaya ikan-ikan ekonomis penting menempati posisi yang sangat strategis. Salah satu pengembangan budidaya ikan ekonomis penting di Indonesia yaitu budidaya air tawar khususnya budidaya gurami (Osphronemous goramy Lac).

Gurami merupakan jenis ikan air tawar ekonomis penting yang sudah dikenal dan diperdagangkan secara luas di Indonesia serta komoditas unggulan selain patin, lele, nila dan mas. Gurami mempunyai harga cukup tinggi dan peluang pasar ekspor terbuka lebar. Di Indonesia, masyarakat Jawa menyebutnya gurami atau gurameh; di Sumatera dikenal sebagai ikan kalau, kala atau kaloi; sementara di Kalimantan disebut dengan ikan kala atau kalai (Khairuman dkk, 2003). Menurut the Complete Aquarist’s Guide to Freshwater yang diedit John Gilbert disebut gurami asli dari Kepulauan Sunda Besar.

Teknologi pembenihan dan pembesaran ikan gurami sudah dikuasai dengan baik dan sudah disebarluaskan ke berbagai daerah di tanah air. Namun teknologi yang sudah dikuasai tersebut masih banyak persoalan yang timbul yaitu masalah lingkungan dan serangan penyakit. Berbagai persoalan dalam budidaya gurami dapat diatasi dengan baik melalui pendekatan segmentasi atau pemilahan (Agus, 2001 dan Sitanggang dkk, 2007). Segmen-segmen usaha (pemeliharaan sistem berjenjang); mulai dari pemeliharaan larva, pendederan hingga pembesaran yang dapat mempersingkat periode usaha (Khairuman dkk, 2003).

Usaha budidaya gurami dapat dilakukan di kolam-kolam tradisional dan lahan-lahan sempit perkotaan. Jika usaha ini dilakukan dengan baik, maka kontinuitas produksi ikan gurami yang sering kali menjadi persoalan di restauran-restauran dan rumah makan-rumah makan atau konsumen ikan kiranya akan teratasi. Maka, usaha budidaya gurami di samping meningkatkan pendapatan bagi pemeliharanya sekaligus juga dapat menghasilkan devisa bagi negara (Sitanggang dkk, 2007).

Klasifikasi ikan gurami adalah sebagai berikut:

Klas : Pisces

Sub Kelas : Teleostei

Ordo : Labyrinthici

Sub Ordo : Anabantoidae

Famili : Anabantidae

Genus : Osphronemus

Species : Osphronemus goramy (Lacepede)

Jenis gurami yang sudah dikenal masyarakat diantaranya: gurami angsa, gurami jepun, blausafir, paris, bastar dan porselen. Ciri-ciri umum ikan gurami yaitu tubuh agak panjang, pipih, mulut kecil, memiliki garis lateral tunggal, sisiknya stenoid dan sirip ekornya membulat (Khairuman dkk, 2003).

Sumber : Ditjen Perikanan Budidaya

Provinsi-Provinsi Penghasil Ikan Gurame

Gurame adalah ikan perairan air tawar yang sudah dibudidayakan. Ikan gurame merupakan ikan air tawar yang berbeda dibandingkan dengan ikan air tawar lainnya. Tidak seperti ikan air tawar lainnya, ikan gurame termasuk ikan yang memerlukan perhatian ekstra dalam membudidayakannya. Pemeliharaan ikan gurame untuk mencapai ukuran konsumsi memerlukan waktu yang panjang, sekitar 8 -10 bulan. Oleh karena itulah ikan gurame tergolong ikan yang mahal dikarenakan proses pemeliharaannya tersebut.

Gurame masuk dalam kategori ikan yang diunggulkan oleh perikanan budidaya. Walaupun perkembangannya tidak sepesat ikan air tawar lainnya. Namun, gurame tetap menjadi andalan perikanan budidaya karena memiliki nilai jual yang lebih baik dibandingkan dengan ikan air tawar lainnya. Selain itu, gurame juga mudah dalam pemasarnnya.

Pengembangan ikan gurame tidak seperti halnya ikan mas dan ikan nila yang telah memiliki induk unggulan, hasil dari perekayasaan genetic. Namun, seiring dengan banyak berkembangnya para pembudidaya ikan gurame maka beberapa tahun belakangan ini telah dikembangkan untuk menghasilkan bibit unggul ikan gurame. Salah satunya adalah Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi Jawa barat.

Jika dilihat berdasarkan data statistik 2010, perkembangan ikan gurame sudah mencapai ke hampir seluruh Indonesia. Bahkan sentra budidaya ikan gurame tidak hanya terdapat di pulau Jawa tetapi terdapat pula di luar jawa. Berikut ini beberapa provinsi penghasil ikan gurame di Indonesia :

Jawa barat

Jawa barat menduduki peringkat pertama sebagai penghasil ikan gurame pada tahun 2010 yaitu sebesar 12.970 ton. Walaupun angka 2010 masih lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya namun penurunan produksi ikan gurame jawa barat, tidak serta merta menggeser provinsi ini sebagai penghasil utama ikan gurame.

Sumatera Barat

Tahun 2010 adalah tahunnya provinsi sumatera barat terutama karena keberhasilan provinsi ini dalam mengembangkan budidaya ikan guramenya. Tahun 2010, produksi gurame provinsi ini mencapai 10.660 ton. Naik tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 6.510 ton. Produksi sebesar 10.660 ton menempatkan Sumatera Barat sebagai penghasil ikan gurame nomor dua menggeser provinsi Jawa Timur yang pada tahun sebelumnya berada di posisi kedua.

Jawa Timur

Produksi ikan gurame Jawa Timur sebenarnya tidak mengalami penurunan bahkan terjadi peningkatan produksi dibandingkan tahun sebelumnya sehingga tidak dapat dikatakan jika budidaya ikan gurame di provinsi mengalami penurunan. Hanya saja peningkatan produksinya masih kalah dibandingkan dengan Sumatera Barat. Produksi ikan gurame Jawa Timur tahun 2010 adalah sebesar 9.525 ton sedangkan produksi di tahun 2009 sebesar 8.425 ton

Jawa Tengah

Perikanan budidaya air tawar Jawa Tengah berkembang dengan baik. Hal ini terlihat dari perkembangan produksi budidaya air tawarnya yang selalu meningkat. Begitu pula dengan ikan guramenya yang termasuk diunggulkan oleh provinsi ini untuk mengangkat perikanan budidaya air tawarnya. Produksi ikan gurame jawa tengah tahun 2010 adalah sebesar 7.475 ton. Naik sekitar 1.300 ton dibandingkan tahun sebelumnya 2009 sebesar 6.145 ton. Gurame termasuk ikan air tawar ketiga dengan produksi tertinggi di provinsi ini setelah lele dan nila.

DI Yogyakarta

Provinsi ini merupakan provinsi dengan jumlah kabupaten/kota yang tidak banyak. Tapi perikanan budidayanya mampu bersaing dengan provinsi yang memiliki area yang lebih luas. Tengok saja produksi lele, nila dan guramenya yang dapat bersaing dengan provinsi di pulau jawa lainnya. Ikan gurame yang diandalkan provinsi ini produksinya tahun 2010 mencapai 6.031 ton sedangkan tahun sebelumnya sebesar 2.694 ton. Dengan produksinya yang sebesar tersebut provinsi ini berada diurutan kelima sebagai penghasil ikan gurame.

Lampung

Lampung sebenarnya lebih dikenal sebagai penghasil terbesar udang terutama udang vaname karena di provinsi ini terdapat perusahaan yang mengembangkan budidaya udang vaname. Tapi tidak bisa dipandang sebelah mata untuk perikanan budidaya air tawarnya. Gurame pada tahun 2010 produksi mencapai 4.098 ton naik dari tahun 2009 yang sebesar 3.453 ton

Sumatera Selatan

Sumatera Selatan adalah salah satu kekuatan pulau sumatera sebagai penghasil ikan air tawar perikanan budidaya. Provinsi ini dikenal sebagai sentranya pengahasil ikan patin hasil budidaya. Selain penghasil ikan patin ternyata provinsi ini juga menghasilkan ikan gurame terbesar ketiga di pulau sumatera. Produksi ikan guramenya pada tahun 2010 adalah sebesar 2.518 ton naik sedikit dibandingkan tahun 2009 yang sebesar 2.126 ton.

Masih banyak lagi provinsi yang berhasil dalam mengembangkan budidaya ikan gurame dan tidak hanya terbatas di pulau sumatera dan pulau jawa saja namun sudah menyebar ke Indonesia bagian timur pula. Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara termasuk yang telah membudidayakan ikan gurame. Bahkan di pulau Sulawesi dan Papua juga membudidayakan ikan dengan nilai jual yang cukup tinggi ini.

Teknik budidaya ikan gurame sebetulnya tidaklah sulit namun perlu diperhatikan beberapa hal berikut agar dalam membudidaya ikan gurame dapat berhasil, yaitu :

1. Lokasi

Pilih lokasi dengan jenis tanah liat berpasir yang dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.

2. Kemiringan tanah

Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3–5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi dan lokasi pemeliharaan berada pada ketinggian 1–400 m di atas permukaan laut

3. Sumber air

Salah satu syarat utama budidaya gurami adalah air yang bersih. Karena itu hindari pemakaian air yang keruh dan kotor. Sebab jika kotoran itu bercampur dengan pakan, bakal memicu timbulnya bakteri,parasit dan cacing

4. Kualitas Air

Kandungan oksigen optimum yang dapat menunjang pertumbuhan ikan adalah 2 mg/l. Gurami tergolong ikan yang sangat peka terhadap perubahan suhu. Gurami tergolong ikan yang peka terhadap suhu rendah sehingga jika suhu perairan lebih rendah daripada kisaran suhu optimal, gurami tidak akan produktif. Ikan gurami dapat tumbuh dengan baik pada perairan dengan kisaran pH 5–10. Namun pH optimum yang dapat menunjang perkembangan dengan baik adalah 6,5–8,5.

Sumber : Ditjen Perikanan Budidaya

Membuat Induk Ikan Gurame

Induk tidak mesti membeli, terutama bagi pembudidaya lama. Karena membeli itu harus dengan uang. Sedangkan uang itu sangat penting buat anda. Akan lebih baik uang itu digunakan untuk keperluan lain, misalnya untuk menambah skala usaha, dan memperluas lahan usaha.

Induk ikan gurame untuk kebutuhan sendiri, bisa diperoleh dari hasil kegiatan sendiri. Sisanya bisa dijual kepada pembudidaya lain. Dengan begtu, anda tidak perlu harus mengeluarkan uang, sebaliknya anda bisa memperoleh keuntungan dari hasil penjualan induk-induk itu.

Bahkan bila induk-induk itu berkualitas baik, anda akan menjadi salah satu penghasil induk nomor satu di daerah anda, dan permintaanpun akan terus meningkat. Dan itu merupakan peluang bagi anda untuk memperoleh keuntungan. Tinggal tergantung anda saja.

Induk dari hasil kegiatan sendiri hanya bisa diperoleh dengan dua cara. Tentu saja, semua itu dilakukan dengan menggunakan induk-induk yang anda punya, atau dengan tidak membeli dari pembudidaya lain. Yaitu induk asal, atau induk yang pertama dibeli dari pihak lain, dan induk dari keturunan induk asal, atau anak-anaknya.

Cara pertama yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan backcross, yaitu dengan mengawinkan antara anak dengan ibunya atau dengan mengawinkan antara anak dengan bapaknya. Inilah cara yang terbaik. Karena kualitas genetiknya (bapak dan ibu) lebih baik.

Bila tidak backcross, bisa juga dengan cara kedua, yaitu dengan mengawinkan antara anak-anaknya, tapi bukan dari satu keturunan. Karena itu, setiap pembudidaya harus memiliki minimal dua kelompok induk yang berbeda garis keturunannya.

Untuk memperoleh induk yang berkualitas baik, baik dari hasil backcross atau dari hasil mengawinkan antara anak dengan anaknya, maka benih hasil kegiatan-kegiatan harus diseleksi, secara ketat atau dipilih benih-benih yang berkualitas baik sesuai dengan tanda-tanda yang telah disarankan, atau sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).

Seleksi ini dilakukan dalam beberapa tahap. Tahap pertama dilakukan pada benih hasil pendederan pertama, yaitu dengan memilih benih-benih yang pertumbuhannya paling cepat, dan bentuk tubuhnya normal atau tidak cacat, sehat dan tidak luka, sisiknya tersusun rapi, bertubuh gemuk, atau tidak kurus, kepala relatif kecil, gerakannya lincah dan respon terhadap pakan tambahan.

Tahap kedua dilakukan pada benih hasil pendederan kedua dengan tanda-tanda yang sama seperti yang disebutkan di atas. Tahap ketiga dilakukan pada benih hasil dari pendederan ketiga, dan dengan tanda-tanda yang sama. Demikian seleksi dilakukan terus sampai menjelang calon induk dengan tanda-tangda yang sama. Dengan jalan seperti itu akan didapatkan calon-calon induk yang berkualitas baik.

Dalam mendapatkan calon induk dari hasil kegiatan ini ada sebagian pembudidaya yang ingin mencari mudahnya saja, tanpa memikirkan efek negatif dari semua yang mereka lakukan, yaitu dengan mengawinkan induk jantan dan betina yang berasal dari satu keturunan dari hasil pilihan mereka. Padahal mengawinkan induk-induk dari satu keturunan dapat menyebabkan perkawinan dalam satu keturunan atau lebih dikenal dengan istilah inbreeding.

Inbreeding pada ikan dapat berakibat kurang baik, yaitu menurunnya kualitas benih yang dihasilkan, dimana pertumbuhannya akan semakin lambat, tidak tahan pada perubahan lingkungan dan mudah terserang penyakit. Perlakuan ini bila terus berlanjut dapat berakibat semakin menurunnya kualitas genetik,dan akhirnya bisa hancur.

Ada satu cara mudah untuk menghindari inbreeding, yaitu dengan mengambil salah satu jenis kelamin yang dihasilkan dari kegiatan sendiri, sedangkan jenis kelamin lainnya mengambil dari daerah lain atau saling tukar dengan pembudidaya lain. Misalnya betina berasal dari kegiatan sendiri, sedangkan jantan berasal dari pembudidaya lain, atau sebaliknya.

Atau bisa juga membeli beberapa pasang induk dari daerah lain kemudian salah satu jenis kelaminnya dikawinkan dengan jenis kelamin yang dipunyai atau disilang. Induk betina dari daerah atau pembudidaya lain dikawinkan dengan induk jantan dari dipunyai, atau sebaliknya. Induk-induk tersebut harus ditandai atau perputarannya harus dicatat agar mudah mengontrolnya.

Perkembangan Telur Ikan Gurame

Telur ikan gurame akan berkembang dengan sendirinya. Kecepatan perkembangan ini tergantung dari suhu. Dalam suhu rendah, perkembangannya lambat. Dalam suhu lebih tinggi, perkembangannya lebih cepat. Suhu yang baik dalam penetasan telu adalah 28 – 30 O C. Perkembangan telur menjadi larva dapat diamati setiap hari dengan mata telanjang. Atau tidak di bawah mikroskop.

Berikut hasil pengamatannya :
Hari pertama : Telur diambil sarang dan dipisahkan. Telur itu berwarna kuning muda, bening atau mengkilat atau tidak pucat (telur yang baik) dan agak teransparan. Telur-telur itu berdiameter rata-rata 1,2 mm.

Hari kedua : Bentuk sudah mulai berubah, atau mulai sedikit lonjong. Bila diamati lebih dekat terdapah benang halus yang transparan. Tanda itu menandakan telur telah menetas, atau fase lewat telur. Benang halus itu pertanda ekor mulai tumbuh.

Hari ketiga : Ekor sudah lebih jelas dan agak gelap. Pada hari itu kepala mulai terlihat dengan sepasang mata yang berwarna hitam. Pada hari itu juga larva sudah mulai bergerak dengan posisi terbalik atau perut di atas dan punggung di bawah. Posisi itu disebabkan karena kuning telur yang cukup besar.

Hari keempat : Kepala nampak lebih jelas lagi dan matan semakin hitam. Demikian juga dengan ekor, selain hitam juga semakin panjang. Pada hari itu juga, larva bergeral lebih lincah tapi hanya di permukaan air dengan posisi tubuh masih terbalik, tetapi kuning telur sudah mulai berkurang.

Hari kelima : Kepala semakin sempurna dan terlihat dengan jelas dengan kornea mata yang semakin jelas pula. Ekor semakin memangjang dan berwarna hitam, dengan bagian tepinya transparan. Kuning telur tinggal sedikit, terlihat dalam perut. Larva sudah terlihat bisa berenang, tapi bergerak sekitarnya.

Hari keenam : Kepala hampir sempurna dengan kornea mata hitam. Ekor semakin panjang dan hitam. Kuning telur masih terlihat dalam perut. Dalam keadaan yang lebih sempurna ini, larva dapat berenang lebih bebas, tetapi cenderung hanya berkumpul, dan bergerombol di pojok-pojok.

Hari ketujuh : Semua organ tubuh hampir sempurna, mulai dari kepala, badan dan ekor, dengan mata agak kecil dan kornea yang jelas. Badan terlihat jelas dengan perut yang agak teransparan. Pada hari itu, kuning telur hanya setitik saja. Larva terlihat masih di pojok-pojok tapi sudah serng berpindah-pindah.

Hari kedelapan : Larva sudah total sempurna. Seluruh organ tubuh sudah terbentuk, mulai dari kepala, badan, dan ekor, termasuk ke lima sirip-siripnya, yaitu sirip punggung, sisrip dada, sirip perut, sirip anus dan sirip ekor. Kuning telur sudah habis. Larva bisa berenang bebas, tidak hanya di pojok-pojok saja.