Archive for the ‘ Karamba ’ Category

Ratusan Ton Ikan Danau Maninjau Mati

Ratusan ton ikan budi daya di Danau Maninjau, Agam, Sumatera Barat, membusuk, Senin 11 Agustus 2014.

VIVAnews – Ratusan ton ikan budi daya dengan keramba di Danau Maninjau, Agam, Sumatera Barat, membusuk. Kerugian masyarakat Kecamatan Tanjung Raya, itu diduga mencapai miliaran rupiah.

Menurut Samsir, warga setempat yang juga memiliki keramba di lokasi tersebut, ikan mulai mati pada Jumat malam, 8 Agustus 2014 dan diketahui keesokan harinya. Sejak itu, jumlah ikan mati terus bertambah hingga Senin 11 Agustus 2014.

Masyarakat setempat membudi daya ikan menggunakan jaring yang dibentuk segi empat dengan ukuran 5 kali 5 meter, lalu diisi dengan berbagai jenis ikan air tawar seperti nila dan ikan mas.

“Kami belum tahu berapa jumlah yang mati. Tapi melihat jumlah keramba, ikan mati mencapai 200 ton, bahkan lebih. Sebab ada ratusan keramba yang jadi korban,” kata Samsir.

Penyuluh Perikanan Kecamatan Tanjung Raya Asrul Deni Putra mengatakan, ada 400 ton lebih jumlah ikan yang mati dari 537 petak keramba. Untuk kerugian secara keseluruhan, belum ada data yang valid, namun, harga ikan tersebut Rp20 hingga Rp22 ribu per kilogram.

Petugas dari Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Agam, Aswirman mengatakan, dari informasi yang dihimpunnya, jumlah ikan mati mencapai 300 ton.

“Penyebabnya karena endapan pakan ikan yang mengandung zat fosvor dan amoniak. Zat itu menyebabkan oksigen di dalam air berkurang. Sehingga, ikan yang berada di keramba akan kesulitan bernapas dan akhirnya mati,” kata Aswirman. (art)

Sumber : VIVA News

PURWAKARTA (Pos Kota) – Perum Jasa Tirta II Jatiluhur menargetkan perairan Jatiluhur terbebas dari polutan pakan ikan akibat menjamurnya pembudidaya ikan keramba jaring apung (KJA) yang kondisinya kian memprihatinkan. “Sehabis Lebaran ini, KJA-KJA di Waduk Jatiluhur ini ditertibkan,” ujar Direktur Pengelolaan Air (Dirlola) PJT II Jatiluhur Harry M Sungguh dihubungi Pos Kota.

Harry mengungkapkan, saat ini keberadaan KJA di perairan Jatiluhur sudah melampaui ambang batas. Dimana lembaganya mencatat batas normal KJA sebanyak 2000 KJA. “Saat ini sudah diatas 10.000 KJA. Artinya ini sudah over kuota dan harus segera ditertibkan,” jelasnya.

Diakuinya, bila kondisi ini dibiarkan khawatir menggangu terhadap operasional turbin sebagai penggerak listrik dan penyalur air untuk kebutuhan irigasi pertanian dan air baku untuk minum warga DKI Jakarta.

Lebih jauh dia menambahkan, penertiban ini bukan kali pertama dilakukan, akan tetapi merupakan penertiban lanjutan melibatkan PJT II Jatiluhur, kepolisian, Satpol PP Purwakarta, dan Dinas Peternakana Perikanan Pemkab Purwakarta. Hanya saja, diakui dia, lembaganya kesulitan untuk memproteksi wilayah perairannya dari pihak pihak yang secara sembunyi sembunyi membangun KJA. “Tahu tahunya sudah menjamur. Kalau kondisinya sudah begini, memang agak sulit ditertibkan,” imbuh dia.

Meski demikian, lembaganya sudah bertekad sekalipun tidak sekaligus membebaskan perairan Jatiluhur dari polutan pakan ikan KJA, akan tetapi setidaknya dapat meminimalisir tingkat polusi air Jatiluhur. “Polanya akan diterbitkan perlahan lahan. Para pemilik KJA yang tak berijin kita tertibkan,” ujarnya.

Mereka akan diminta oleh sendirinya melucuti KJA-KJA yang mereka tanam di perairan Jatiluhur seperti jaring, jerigen serta bambu yang dibangun berpetak petak diatas air Jatiluhur. “Bagi yang membandel, akan diseret ke tepi waduk memakai perahu air yang kita siapkan,” pungkasnya. (dadan)

Teks : Keramba ikan di Waduk Jatiluhur sudah sangat mengkhawatirkan mutu ai

Dalam rangka mendukung visi Kementerian Kelautan dan Perikanan yaitu menjadikan Indonesia sebagai penghasil ikan terbesar tahun 2015, budidaya ikan sistem KJA memiliki prospek yang cerah untuk peningkatan produksi ikan. Peningkatan produksi ikan sebesar 353% secara langsung akan berdampak pada meningkatnya usaha budidaya ikan intensif dengan tingkat kepadatan ikan yang tinggi dan pemberian pakan buatan. Pada saat jumlahnya melampaui batas tertentu dapat mengakibatkan proses sedimentasi yang tinggi berupa penumpukan sisa pakan di dasar perairan yang akan menyebabkan penurunan kualitas perairan (pengurangan pasokan oksigen dan pencemaran air danau/waduk).

Sisa pakan dan metabolisme dari aktifitas pemeliharaan ikan dalam KJA serta limbah domestik yang berasal dari kegiatan pertanian maupun dari limbah rumah tangga menjadi penyebab utama menurunnya fungsi ekosistem danau yang berakhir pada terjadinya pencemaran danau, mulai dari eutrofikasi yang menyebabkan ledakan (blooming) fitoplankton dan gulma air seperti enceng gondok (Eichornia crassipes), upwelling dan lain-lain yang yang dapat mengakibatkan organisme perairan (terutama ikan-ikan budidaya) serta diakhiri dengan makin menebalnya lapisan anaerobik di badan air danau.

Kondisi inilah yang mengakibatkan salah satunya adalah kematian massal ikan tiap tahun terjadi di berbagai danau/waduk di Indonesia. Selain self polution (sisa pakan dan feses ikan budidaya), meningkatnya polusi di area ini diperparah oleh adanya buangan limbah pabrik tekstil dan buangan limbah rumah tangga yang memang penduduknya sudah terlalu padat tinggal di sekitar kedua waduk tersebut. Melihat akibat yang ditimbulkan dari budidaya ikan sistem KJA di danau/waduk maka budidaya ikan sistem KJA perlu mengindahkan manajemen budidaya yang berkelanjutan. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui manajemen budidaya ikan yang berkelanjutan di kawasan danau/waduk.

Keuntungan merupakan target utama dalam menjalankan bisnis industri budidaya perikanan khususnya budidaya sistem KJA di danau/waduk. Pembudidaya ikan berpikir kearah bagaimana cara-cara terbaik untuk memaksimalkan keuntungan sehingga memicu berbagai permasalahan terkait dengan sistem budidaya yang berkelanjutan. Adapapun permasalahan yang timbul yaitu penurunan fungsi ekosistem danau/waduk berupa pencemaran perairan budidaya yang secara langsung mengakibatkan menurunnya produksi perikanan. Maka sudah sepatutnya mencari solusi pemecahannya berupa manajemen budidaya ikan sistem KJA yang berkelanjutan yang sesuai dengan konsep dasar pemikiran pembangunan perikanan budidaya. Manajemen budidaya ikan yang berkelanjutan adalah pengelolaan yang dapat berlanjut sepanjang waktu sebagai hasil proses kebijakan sosio-politik, menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan secara ekologis harus dapat menjamin kelestarian sumberdaya perairan. Secara umum budidaya ikan sistem KJA merupakan kegiatan ekonomi yang menguntukan jika dikelola dengan baik. Belajar dari pengalaman yang sudah terjadi diperlukan cara pengelolaan atau manajemen perairan danau/waduk sesuai dengan daya dukung. Tujuan pengelolaan tersebut yaitu peningkatan produksi ikan dan memelihara produksi dan sumber daya perairan tersebut sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pemanfaatan danau/waduk.

Pemilihan lokasi

Danau/waduk yang dipilih sebagai kawasan untuk pengembangan budidaya ikan sistem KJA dengan minimal danau/waduk 100 ha dengan memperhatikan daya dukungnya. Pemanfaatan danau/waduk untuk kegiatan budidaya ikan sistem KJA harus dilakukan secara rasional dan tetap mengacu pada tata ruang yang telah ditentukan serta kondisi sumber daya dan daya dukung perairannya dengan maksud untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mempertahankan fungsi utama waduk. Pembagian zonazi untuk perairan waduk secara umum dilakukan dengan mengacu pada kondisi lingkungan fisik, sifat kehidupan dan penyebaran populasi ikan dalam usahanya mengelola perikanan yang terpadu dan lestari (Ilyas et al, 1989).

Salah satu penyebab kematian massal ikan budidaya adalah penurunan tinggi muka air. Apabila tinggi muka air menurun maka jarak karamba jaring apung dengan dasar menjadi lebih dekat, akibatnya ikan budidaya semakin mendekati lapisan hipolimnion yang reduktif. Sementara kedalaman perairan dangkal, sehingga jarak KJA dan dasar menjadi semakin dekat. Akibatnya kolom air yang reduktif semakin mendekati KJA. Kolom air menjadi anoksik atau lapisan anoksik telah mencapai permukaan sehingga dapat disebutkan bahwa penyebab kematian massal karena kekurangan oksigen dan tingginya konsentrasi zat toksik (H2S) (Simarmata, 2007). Sebaiknya pada saat tinggi muka air minimum, padat tebar ikan di KJA dikurangi atau ikan budidaya diganti dengan jenis yang lebih toleran terhadap konsentrasi DO yang rendah. Menurut Krismono (1999), kegiatan budaya ikan sistem KJA di danau/waduk, kedalaman air disyaratkan minimal 5 m pada jalur yang berarus horizontal. Kedalaman tersebut dimaksudakan untuk menghindari pengaruh langsung kualitas air yang jelek dari dasar perairan

Daya dukung danau/waduk, desain, tata letak dan konstruksi KJA

Menurut Soemarwoto (1991), bahwa luas areal perairan waduk yang aman untuk kegiatan budidaya ikan di KJA adalah 1% dari luas seluruh perairan waduk dengan pertimbangan bahwa angka 1% tersebut non significant untuk luasan suatu waduk serbaguna sehingga dianggap tidak akan mengganggu kepentingan fungsi utama waduk.
Memperbaiki konstruksi KJA yang ramah lingkungan dengan pelampung polystyrene foam. KJA yang terbuat dari bambu dengan pelampung polystyrene foam merupakan KJA yang paling ramah lingkungan dibandingkan dengan KJA lainnya (Prihadi dkk, 2008).
Menurut Rochdianto (2000), letak antara jaring apung sebaiknya berjarak 10–30 m agar arus air leluasa membawa air segar ke dalam jaring-jaring tersebut, sedangkan menurut Schmittou (1991), jarak antar unit KJA yang baik adalah 50 m.
Pengendalian/pengurangan jumlah KJA yang beroperasi.
Pemindahan lokasi KJA pada saat akan terjadi umbalan yang terjadi secara menyeluruh (holomictic) ke lokasi perairan yang lebih dalam (Enan dkk, 2009).
Untuk meningkatkan DO di perairan menggunakan: 1). kincir yang dapat dipasang pada setiap unit KJA atau pada satu lokasi KJA (Enan dkk, 2009), 2). pompa air yang dipancarkan dari atas (Krismono, 1995), dengan penambahan oksigen murni yang diberikan pada saat oksigen kritis (dini hari) (Danakusumah, 1998).
Keramba jaring apung ganda/berlapis dikembangkan dengan tujuan untuk mengurangi beban dari sisa pakan, yang dapat mencemari perairan.
Kuantitas limbah pakan yang signifikan tinggi perlu diadakan restorasi waduk melalui pengangkatan sedimen (dredging) agar kegiatan perikanan dapat aman dari tingginya bahan toksik dan limbah pencemaran ini berpeluang dijadikan pupuk pertanian (Yap, 2003).

Manajemen pakan

Pemberian pakan dengan sistem pompa akan mengakibatkan banyak pakan yang terbuang di dasar perairan danau/waduk. Untuk mengurangi pakan yang terbuang ke dasar danau/waduk, efisiensi pakan dapat dilakukan dengan cara pemberian pakan berselang-seling dalam hal ini ikan tidak setiap hari diberi makan namun diberikan berselang-seling yakni satu hari diberi makan, hari berikutnya tidak diberi makan (dipuasakan) ternyata pertumbuhan tidak terganggu dan efisiensi pakan 20–30% (Krismono, 1999). Efisiensi pakan juga dapat dilakukan dengan menggunakan benih unggul yang efektif memanfaatkan pakan sedangkan untuk kondisi kualitas air yang jelek menggunakan benih ikan patin (Pangasius sp) yang tahan kualitas air jelek (Prihadi, 2005). Selain itu, perlu melakukan upaya pemberian pakan dengan kadar fosfor yang rendah atau pemberian enzim fitase terhadap ketersediaan fosfor dari sumber bahan nabati pakan ikan. Penerapan pemberian pakan yang efektif dengan rasio 3% dengan pakan yang rendah kandungan fosfornya dengan pemberian tepung ikan seyogyanya dikurangi, sehingga dapat mengurangi limbah (sisa pakan) yang masuk ke perairan danau. Oleh karena itu, perlu alternatif lain sebagai substitusi tepung ikan yaitu antara lain protein sel tunggal (PST), tepung rumput laut. Kualitas pakan, selain ditentukan oleh nilai nutrisinya, dalam Suhenda et al. (2003) juga disebutkan bahwa pakan yang baik untuk pembesaran ikan dalam KJA adalah berbentuk pelet yang tidak mudah hancur, tidak cepat tenggelam serta mempunyai aroma yang merangsang nafsu makan ikan.

Pemilihan jenis ikan dan penebaran benih

Jenis ikan yang dibudidayakan di KJA harus memenuhi kriteria:

  • Tidak mengancam keanekaragaman hayati di perairan waduk;
  • Mempunyai nilai ekonomis tinggi;
  • Dalam proses budidaya menghasilkan limbah organik yang sedikit.

Pemilihan benih bertujuan untuk mendapatkan benih yang sehat dan bermutu. Beberapa hal yang harus diperhatikan:

  • Benih ditebar sesuai SNI yang dijamin dengan sertifikat sistem mutu perbernihan dan padat penebaran sesuai dengan SNI pembesaran di KJA;
  • Sebelum ditebar benih harus dilakukan penyesuaian dengan kondisi perairan.

Pola dan perizinan usaha

Kegiatan usaha budidaya ikan sistem KJA dapat dilakukan melalui Pola Swadaya dan Pola Kemitraan Usaha. Dalam pengelolaan danau/waduk, hendaknya tidak memikirkan keuntungan dari aspek ekonomi saja tetapi juga harus mempertimbangkan aspek lingkungan. Hal ini dapat dilakukan dengan pengelolaan zonasi danau/waduk yang sesuai. Selain itu, sisi perizinan pendirian KJA diprioritaskan pada masyarakat sekitar danau/waduk. Tetapi masalah yang muncul dari masyarakat sekitar waduk waduk yaitu ketiadaan modal.

Pengembangan budidaya ikan sistem KJA harus dibangun pada suatu sistem produksi yang secara ekologi, ekonomi dan sosial mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan yang didukung dengan inforamsi ilmiah dan peraturan. Stratergi yang dilakukan pada budidaya ikan sistem KJA yang berkelanjutan yaitu meningkatkan kemampuan daya dukung lingkungan danau/waduk. Manajemen budidaya ikan sistem KJA dapat dilakukan dengan pemilihan lokasi, penentuan daya dukung, desain, tata letak, konstruksi KJA, manajemen pakan, pemilihan jenis ikan dan penebaran benih serta pola dan perizinan usaha.

Berikut ini adalah saran yang perlu dilakukan dalam mendukung manajemen budidaya ikan sistem KJA yang berkelanjutan di Danau/Waduk, yaitu :

  • Perlu menerapkan budidaya ikan berbasis trophic level (aquaculture based trophic level) agar produktivitas perairan tetap optimal.
  • Perlu pendekatan sosial budaya dan sosialisasi peraturan yang tepat pada strategi pengurangan jumlah KJA dan penataan kembali lokasi budidaya ikan sistem KJA.
  • Perlu koordinasi antara pembudidaya, pengelola waduk, pemerintah, masyarakat sekitar waduk dalam memanfaatkan danau/waduk dan menjaga kelestariannya.
  • Perlu dukungan sarana dan prasarana yang terkait budidaya KJA dalam upaya manajemen budidaya ikan sistem KJA yang lestari dan berkelanjutan.

Sumber : Ditjen Perikanan Budidaya

Danau/waduk pada umunya dimanfaatkan sebagai pencegah banjir, pembangkit tenaga listrik, pensuplai air bagi kebutuhan irigasi pertanian, kegiatan perikanan dan untuk kegiatan pariwisata. Danau/waduk merupakan perairan tertutup yang keberadaanya telah memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya. Dengan adanya berbagai aktivitas tersebut akan memberikan dampak tersendiri bagi kualitas perairan waduk, terutama fitoplankton sebagai produsen primer perairan yang berperan mendukung kehidupan organisme air lainnya (ikan). Salah satu pemanfaatannya yaitu kegiatan budidaya ikan sistem karamba.

Sifat perairan danau/waduk yang masih dianggap sebagai common property (milik bersama) dan open access (sifat terbuka) menyebabkan pertumbuhan KJA di berbagai tempat berkembang sangat pesat dan cenderung tidak terkontrol dan tak terkendali. Maraknya KJA menghasilkan permasalahan tersendiri bagi lingkungan yaitu akan menghasilkan sejumlah limbah organik (terutama yang mengandung unsur nitrogen dan fosfor) yang besar akibat pemberian pakan yang tidak efektif dan efisien sehingga terjadi sisa pakan yang menumpuk di dasar perairan. Pada saat jumlahnya melampaui batas tertentu, limbah tersebut akan menyebabkan pencemaran danau/waduk. Pencemaran perairan yang diakibatkan oleh kegiatan pertanian, pariwisata dan perikanan dapat memacu peningkatan kandungan bahan organik yang pada akhirnya menimbulkan proses penyuburan perairan atau sering disebut eutrofikasi. Akibat yang ditimbulkan dari penyuburan perairan yaitu tidak terkendalinya perkembangbiakan tumbuhan air seperti enceng gondok (Eichornia crassipes) dan ganggang rantai (Hydrilla).

Berkaitan dengan kenyataan tersebut di atas dan manfaat danau yang besar bagi masyarakat sekitar serta kondisi perairan yang sudah terganggu khususnya masalah pencemaran, untuk menjaga agar kondisi waduk tidak terus menurun maka upaya pengelolaan yang perlu dilakukan di bidang perikanan budidaya yaitu menerapkan perikanan budidaya sistem KJA yang berbasis trophic level (Trophic Level Based Aquaculture). Maka tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui penerapan budidaya perikanan sistem KJA yang berbasis trophic level untuk mencegah eutrofikasi.

Eutrofikasi adalah proses pengayaan (enrichment) sistem biologi oleh elemen-elemen nutrisi (unsur hara) terutama oleh nitrogen dan fosforus (Barus, 2002). Dampaknya yaitu peningkatan produksi dan biomassa alga, perifiton dan biomassa tanaman air yang lebih tinggi yang disimilasi oleh peningkatan unsur-unsur tersebut. Penyebab eutrofikasi menurut Morse et al. (1993 dalam Saefumillah, 2003), 10% berasal dari proses alamiah di lingkungan air itu sendiri, 7% dari industri, 11% dari detergen, 17% dari pupuk pertanian, 23% dari limbah manusia dan 32% dari limbah peternakan. Menurut Azwar dkk (2004), jumlah pakan sistem KJA yang diberikan per hari mencapai 3,3% bobot ikan dan dari jumlah pakan yang diberikan tersebut ada bagian yang tidak dikonsumsi mencapai 20–25% pakan yang dikonsumsi diekskresikan ke lingkungan.

Eutrofik merupakan kondisi perairan yang kaya akan unsur hara. Peningkatan unsur hara ini akan memacu pertumbuhan fitoplankton yang cepat dan berakibat pada peningkatan turbiditas perairan yang akan menghambat pertumbuhan produsen-produsen bentik, memutus rantai makanan dan hilangnya habitat bagi beberapa spesies (Nebel and Wright, 1993). Nitrogen dan fosfor merupakan nutrien yang berperan cukup dominan dalam kaitan dengan produktivitas (Sawyer et al, 1994). Unsur N dan P biasanya menjadi unsur utama dalam produktivitas primer (fitoplankton). Hampir setengah dari fosfor yang tekandung dalam limbah rumah tangga berasal dari detergen (Goldman dan Horne, 1983). Nitrogen dan fosfor ini diperlukan tumbuhan dan produsen primer sebagai unsur pembentuk enzim metabolisme dan penyusun klorofil. Selain itu, kandungan unsur-unsur ini di perairan dapat juga sebagai variabel penentuan kualitas perairan dalam kaitan penyuburan perairan (eutrofikasi). Air berada tingkatan eutrofik jika fosforus (total fosforus) dalam air dalam rentang 35 – 100 µg/l.

Kondisi eutrofik sangat memungkinkan alga untuk tumbuh berkembang dengan pesat (blooming) akibat ketersediaan fosfor yang berlebihan. Perairan dikatakan blooming fitoplankton jika kelimpahan fitoplanktonnya mencapai 5 x 106 sel/l (Goldman dan Horne, 1983). Akibatnya eutrofikasi menjadi masalah bagi perairan danau/waduk yang dikenal dengan algal bloom. Hal ini dikenali dengan warna air yang menjadi kehijauan, berbau tidak sedap dan kekeruhannya menjadi semakin meningkat serta banyak enceng gondok yang bertebaran di danau/waduk. Kualitas air di perairan danau/waduk menjadi sangat rendah yang diikuti oleh rendahnya konsentrasi oksigen terlarut, bahkan sampai batas nol. Hal ini menyebabkan ikan dan spesies lainnya tidak bisa tumbuh dengan baik pada akhirnya terjadi kematian massal ikan. Permasalahan lain yaitu Cyanobacteria (blue-green algae) yang diketahui mengandung toksin sehingga membawa resiko bagi kesehatan manusia`dan hewan. Algal bloom juga menyebabkan hilangnya nilai konservasi, estetika, rekreasional dan pariwisata. Jika kondisi ini dibiarkan terus menerus akan menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem danau/waduk. Untuk menjaga agar kondisi waduk tidak terus menurun maka upaya pengelolaan yang perlu dilakukan di bidang perikanan budidaya yaitu menerapkan perikanan budidaya sistem KJA yang berbasis trophic level (Trophic Level Based Aquaculture).

Kegiatan budidaya KJA intensif membawa konsekuensi penggunaan pakan buatan yang besar sehingga hasil produksi dari komoditas ungulan lebih banyak yaitu ikan trophic level tinggi daripada produksi jenis ikan trophic level rendah. Dalam sistem budidaya berbasis trophic level, jumlah ikan pemakan plankton, perifiton dan detritus (trophic level rendah) jauh lebih besar dari pada jumlah ikan karnivora (trophic level tinggi). Budidaya ikan berbasis trophic level yaitu sistem budidaya ikan yang menggabungkan kegiatan usaha budidaya ikan karnivora, omnivora, herbivora, plankton feeder dan detritus feeder dalam perairan umum (danau/waduk). Sisa pakan utuh yang diberikan kepada ikan karnivora akan menjadi pakan bagi ikan omnivora seperti halnya dalam budidaya ikan mas dan nila dalam karamba jaring apung ganda di Waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur. Sisa pakan tersuspensi akan menjadi makanan bagi plankton feeder dan detritus feeder sedangkan sisa pakan yang terurai akan menjadi nutrient dan berfungsi sebagai pupuk bagi kompleks makhluk yang epiphyton yang pada gilirannya akan menjadi mangsa ikan pemakan epiphyton seperti ikan nilem, sepat siam, baronang dan lain-lain serta ikan herbivora. Selain dapat memanfaatkan pakan yang tersisa, budidaya perikanan berbasis trophic level akan berfungsi pula sebagai pembersih air (Cholik dkk, 2005).

Prinsip budidaya ikan berbasis trophic level yaitu semua nutrien limbah budidaya yang jumlahnya lebih banyak daripada nutrien yang diretensi menjadi daging ikan, dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya kembali. Budidaya ikan berbasis trophic level dapat menghasilkan komoditas utama (yang diberi pellet dan bernilai ekonomis tinggi) dan komoditas ber-trophic level rendah dalam jumlah yang besar dari komoditas utama dengan biaya murah sehingga banyak menyerap tenaga kerja dan menyediakan pangan protein bagi banyak orang, mengurangi biaya produksi komoditas utama, berperan meningkatkan daya saing ekspor sebagai pemakan limbah budidaya berperan sebagai “cleaning service” (Harris, 2006).

Danau/waduk berisi variasi jenis ikan yang memiliki tingkat kesukaan pakan berbeda-beda namun bersifat saling menguntungkan. Komposisinya merupakan gabungan dari jenis ikan karnivora, omnivora, herbivora, plankton feeder, dan detritus feeder. Dengan demikian, badan danau/waduk layaknya sebuah kolam besar bermotifkan polikultur. Komoditas utama dan bernilai ekonomis tinggi ditepatkan pada KJA, sedangkan pada hamparan di luarnya berisi komoditas “biaya murah” yang bisa menempatkan ikan tambakan, ikan nilem, iken tawes, ikan sepat siam, ikan mola juga kijing terpilih sebagai penghuninya. Penerapan budidaya perikanan sistem KJA berbasis trophic level di danau/waduk diharapkan akan menciptakan ekosistem perairan waduk terbebas dari berbagai limbah sisa pakan dan kotoran, sekaligus meningkatkan kelestarian lingkungannya.

Akuakultur yang berkelanjutan (sustainable) memiliki ciri-ciri efisien dalam penggunaan sumber daya, produktif dan tidak merusak lingkungan. Hal ini dapat dicapai melalui penerapan konsep sistem perikanan budidaya berbasis tingkat kesukaan pakan (trophic level based aquaculture). Dalam sistem ini, wadah budidaya seperti KJA dipelihara berbagai jenis biota air yang memiliki kesukaan pakan yang berbeda-beda namun bersifat saling menguntungkan. Komposisi biota ditandai dengan dominasi jumlah biota autotrophe dan pemakan plankton disusul dengan biota herbivora, omnivora dan karnivora yang jumlahnya terkecil. Penerapan budidaya perikanan berbasis trophic level akan terciptanya ekosistem perairan danau/waduk terbebas dari berbagai limbah sisa pakan dan kotoran, sekaligus meningkatkan kelestarian lingkungannya.

Saran-saran budidaya ikan sistem KJA dengan trophic level, antara lain, yaitu :

Perlu mengembangkan budidaya ikan sistem KJA di danau/waduk bersifat ramah lingkungan.
Perlu menempatkan KJA yang disesuaikan dengan kondisi fisik waduk dan tata ruang yang ditetapkan.
Perlu digalakkan usaha budidaya ikan yang ber-trophic level rendah (herbivora) dalam rangka mengurangi buangan limbah ke perairan melalui pemberian pakan.

Sumber : Ditjen Perikanan Budidaya

Di beberapa danau/waduk, para pembudidaya ikan memanfaatkannya sebagai lahan budidaya ikan yang menggunakan sistem keramba atau Keramba Jaring Apung (KJA). Sifat perairan danau/waduk yang masih dianggap sebagai common property (milik bersama) dan open access (sifat terbuka) menyebabkan pertumbuhan KJA di berbagai tempat berkembang sangat pesat dan cenderung tidak terkontrol dan tak terkendali. Hal tersebut didukung dengan budidaya ikan berbasis pakan buatan (pelet) dimana aktivitas budidayanya menggunakan pemberian pakan hampir 70% dari proses produksinya.

Budidaya ikan berbasis pelet (budidaya intensif) merupakan kegiatan usaha yang efisien secara mikro tetapi inefisien secara makro, terutama apabila ditinjau dari segi dampaknya terhadap lingkungan. Pertumbuhan jumlah keramba yang terus meningkat yang berarti terus meningkatnya jumlah ikan yang dipelihara akan menghasilkan sejumlah limbah organik yang besar akibat pemberian pakan yang tidak efektif dan efisien.
Pada saat jumlahnya melampaui batas tertentu dapat mengakibatkan proses sedimentasi yang tiggi berupa penumpukan sisa pakan di dasar perairan, limbah tersebut akan menyebabkan penurunan kualitas perairan (pengurangan pasokan oksigen dan pencemaran air danau/waduk) yang pada akhirnya mempengaruhi hewan yang dipelihara. Sisa pakan dan metabolisme dari aktifitas pemeliharaan ikan dalam KJA serta limbah domestik yang berasal dari kegiatan pertanian maupun dari limbah rumah tangga menjadi penyebab utama menurunnya fungsi ekosistem danau yang berakhir pada terjadinya pencemaran danau, mulai dari eutrofikasi yang menyebabkan ledakan (blooming) fitoplankton dan gulma air seperti enceng gondok (Eichornia crassipes), upwelling dan lain-lain yang yang dapat mengakibatkan organisme perairan (terutama ikan-ikan budidaya) serta diakhiri dengan makin menebalnya lapisan anaerobik di badan air danau. Melihat akibat yang ditimbulkan dari pemberian pakan ikan budidaya ikan sistem KJA terhadap kualitas perairan di danau/waduk maka penulis tertarik akan hal tersebut. Adapun tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui pengaruh pakan ikan terhadap kualitas perairan danau/waduk pada budidaya ikan sistem KJA.

A. Pembahasan

Pertumbuhan jumlah KJA yang dibudidayakan di danau/waduk secara intensif yang terus meningkat yang berarti terus meningkatnya jumlah ikan yang dipelihara akan menghasilkan limbah organik (kotoran ikan dan sisa pakan yang tidak termakan) yang akan merangsang produktivitas perairan dan mempengaruhi karakteristik biotik dan abiotik perairan (Krismono, 1992). Budidaya ikan dalam KJA secara intensif merupakan usaha perikanan yang dapat dikembangkan dengan pemberian pakan komersil (pelet). Semakin banyak KJA yang beroperasi akan semakin banyak limbah yang masuk ke perairan. Limbah tersebut berasal dari pemberian pakan yang berlebihan yang akan menimbulkan dampak lanjut ke perairan berupa kotoran dan sisa pakan.

Kegiatan budidaya ikan sistem KJA yang dikelola secara intensif membawa konsekuensi penggunaan pakan yang besar yang bagaimanapun efisiensinya rasio pemberian pakan, tidak seluruh pakan yang diberikan akan termanfaatkan oleh ikan-ikan peliharaan dan akan jatuh ke dasar perairan. Pakan ikan merupakan penyumbang bahan organik tertinggi di danau/waduk (80%) dalam menghasilkan dampak lingkungan (Garno, 2000). Jumlah pakan yang tidak dikonsumsi atau terbuang di dasar perairan oleh ikan sekitar 20–50%. Berbagai pendapat mengenai jumlah pakan yang terurai di danau /waduk:

1. Lukman & Hidayat (2002) bahwa sisa pakan dalam bentuk kotoran ikan yang jatuh ke perairan sekitar 50% dari pakan yang diberikan.
2. Krismono (1993) dalam Krismono dan Wahyudi (2002), pemberian pakan dengan sistem pompa memberi sumbangan berupa pakan yang terbuang sekitar 20 ? 30% untuk setiap unit KJA dengan ukuran 7 x 7 x 3 m3.
3. Philips et al., (1993), Boyd (1999), Mc Donad et al., (1996), 30% dari jumlah pakan yang diberikan tertinggal sebagai pakan yang tidak dikonsumsi dan 25-30% dari pakan yang dikonsumsi akan diekskresikan.
4. Sutardjo (2000), limbah pakan yang terbuang ke perairan yang diperkirakan sekitar 30–40%.
5. Azwar dkk (2004), jumlah pakan pada sistem KJA yang diberikan per hari mencapai 3,3% bobot ikan dan dari jumlah pakan yang diberikan tersebut ada bagian yang tidak dikonsumsi mencapai 20–25% dari pakan yang dikonsumsi tersebut akan diekskresikan ke lingkungan.
6. Rachmansyah (2004), pakan yang diberikan pada ikan hanya 70% yang dimakan oleh ikan dan sisanya sebanyak 30% akan lepas ke badan perairan danau sebagai bahan pencemar atau limbah.

Umumnya di danau/waduk, pemberian pakan adalah dengan sistem pompa yaitu pemberian pakan sebanyak-banyaknya (Kartamihardja, 1995 dalam Nastiti et al., 2001) akibatnya terjadi pemberian pakan berlebih (over feeding). Pemberian pakan yang dilakukan secara adbilitum (terus menerus hingga ikan betul-betul kenyang) menyebabkan banyak pakan yang terbuang (inefisiensi pakan) dan terakumulasi di dasar perairan. Sisa pakan yang tidak termakan dan ekskresi yang terbuang pada akhirnya akan diuraikan olej jasad-jasad pengurai yang memerlukan oksigen. Dalam kondisi anaerob penguraian akan berjalan dengan baik, namun dari proses anaerobik ini dihasilkan berbagai gas beracun yang dapat mencemari perairan danau/waduk. Disamping hal tersebut, sisa pakan dan buangan padat ikan akan terurai melalui proses dekomposisi membentuk senyawa organik dan anorganik, beberapa diantaranya senyawa nitrogen (NH3, NO2, NO3) dan fosfor (PO4) (Juaningsih, 1997). Senyawa-senyawa nitrogen (N) dan fosfor (P) diperlukan oleh fitoplankton dan tumbuhan air lainnya. Di perairan fitoplankton merupakan produsen primer yang mempengaruhi kelimpahan organisme. Sisa-sisa pakan dan kotoran ikan dari KJA berperan sebagai pupuk yang dapat menyuburkan perairan danau/waduk. Apabila dalam keadaan hipertropik berakibat pertumbuhan yang tidak terkendali (blooming) plankton jenis tertentu.

Kotoran ikan dapat menimbulkan deposisi yang meningkat di dasar perairan, selanjutnya mengakibatkan penurunan kadar oksigen di bagian dasar. Menurut Lukman (2006) menjelaskan bahwa pasokan oksigen dalam pengelolaan KJA adalah untuk respirasi biota, pembusukan feses ikan dan pembusukan sisa pakan ikan. Menurutnya untuk setiap gram organik (limbah budidaya ikan) diperlukan 1,42 gram oksigen. Konsentrasi oksigen yang tersedia berpengaruh secara langsung pada kehidupan akuatik khususnya respirasi aerobik, pertumbuhan dan reproduksi. Konsentrasi oksigen terlarut di perairan juga menentukan kapasitas perairan untuk menerima beban bahan organik tanpa menyebabkan gangguan atau mematikan organisme hidup (Umaly and Cuvin, 1988). Sumber oksigen di perairan berasal dari: difusi atmosfir, fotosintesis,angin, dan susupan oksigen terlarut. Sedangkan penggunaan oksigen terlarut di lapisan perairan (Simarmata, 2007):

1. Lapisan permukaan perairan terdapat (a) proses pembentukan biomassa dalam karamba dan kotoran (ekskresi & feses) serta sisa pakan; (b) proses pembentukan, melalui fotosintesa, memanfaatkan unsur hara menjadi biomassa fitopankton+oksigen.
2. Lapisan tengah terjadi proses mineralisasi sisa pakan/ kotoran ; membebaskan unsur hara. N, P, K, Si dengan memanfaatkan oksigen (DO), akibatnya cadangan DO berkurang, diindikasikan dengan adanya ODR (Oxygen Depletion Rate) atau HODR (Hypolimnion Oxygen Depletion Rate).
3. Lapisan bawah atau dasar perairan, menampung akumulasi sisa pakan/kotoran ikan serta produk dekomposisi sisa pakan seperti: CO2, H2S, NH3, CH4 pada kondisi anaerob. Peningkatan unsur hara (N, P, Si) tersebut potensial menunjang perkembangan fitoplankton (bloom), yang di dominasi oleh kelompok cyanophyceae Mycrocytis sp. Perkembangan fitoplankton tersebut akhirnya mengganggu keseimbangan DO di perairan.

Bahan organik dan nutrien yang berasal dari luar dan dari kegiatan budidaya KJA akan mempengaruhi ketersediaan oksigen dan daya dukung perairan. Daya dukung perairan yaitu kemampuan perairan dalam menerima, mengencerkan dan mengasimilasi beban tanpa menyebabkan perubahan kualitas air atau pencemaran. Cadangan oksigen di perairan danau/waduk sangat terbatas. Apabila beban melampaui ketersediaan cadangan oksigen, akan terjadi deplesi, lalu defisit dan menyebabkan pencemaran. Pada akhirnya pemberian pakan ikan yang berlebihan pada buddiaya ikan sistem KJA menjadi penyebab utama menurunnya fungsi ekosistem danau yang berakhir pada terjadinya pencemaran danau, mulai dari eutrofikasi yang menyebabkan ledakan (blooming) fitoplankton dan gulma air seperti enceng gondok (Eichornia crassipes), upwelling dan lain-lain yang yang dapat mengakibatkan kematian pada organisme perairan (terutama ikan-ikan budidaya) serta diakhiri dengan makin menebalnya lapisan anaerobik di badan air danau.

B. Kesimpulan dan Saran

1. Kesimpulan

Pertumbuhan jumlah KJA yang dibudidayakan di danau/waduk secara intensif yang terus meningkat akan menghasilkan sejumlah limbah organik (terutama yang mengandung unsur nitrogen dan fosfor) yang besar akibat pemberian pakan yang tidak efektif dan efisien sehingga terjadi sisa pakan yang menumpuk di dasar perairan. Limbah organik pada budidaya ikan sistem KJA menjadi penyebab utama menurunnya fungsi ekosistem danau yang berakhir pada terjadinya pencemaran danau (eutrofikasi, upwelling dan lain-lain) yang yang dapat mengakibatkan kematian pada organisme perairan (terutama ikan-ikan budidaya) serta diakhiri dengan makin menebalnya lapisan anaerobik di badan air danau.

2. Saran

1. Perlunya pengaturan musim tanam, pengendalian jumlah KJA dan padat tebar ikan di KJA dikurangi atau ikan budidaya diganti dengan jenis yang lebih toleran terhadap konsentrasi DO yang rendah seperti ikan patin, lele, dan betutu.
2. Perlu disosialisasikan tentang cara pemberian pakan yang sesuai dengan ketentuan yaitu 3% dari berat badan ikan yang dibudidayakan dan diberikan tiga kali sehari yang dimaksudkan untuk mengurangi jumlah sisa pakan yang masuk perairan
3. Perlu disosialisasikan KJA yang ramah lingkungan yaitu KJA ganda dan konstruksi KJA dengan pelampung polystyrene foam.

C. Daftar Pustaka

Azwar, ZI., Ningrum, S dan Ongko, S. 2004. Manajemen Pakan Usaha Budidaya Ikan di Karamba Jaring Apung. Dalam Pengembangan Budidaya Perikanan di Perairan Waduk. Pusat Riset Budidaya Perikanan. Jakarta.
Boyd, C. E. 1999. Management of Shrimp Ponds to Reduce the Eutrophication Potential of Effluents. The Advocate. December 1999 : 12-13.

Juaningsih, N. 1997. Eutrofikasi di Waduk Saguling Jawa Barat. Laporan Penelitian Balai Penelitian Air Tawar Purwakarta Jawa Barat. Hal 40 – 44.

Krismono. 1992. Penelitian Potensi Sumberdaya Perairan Waduk Wadaslintang, Mrica, Karangates dan Waduk Selorejo untuk Budidaya Ikan dalam Keramba Jaring Apung. Buletin Penelitian Perikanan Darat. Vol. II No. 2 Juni. 20 hal.

Lukman dan Hidayat. 2002. Pembebanan dan Distribusi Organik di Waduk Cirata. Jurnal Teknologi Lingkungan. P3TL-BPPT. Vol. 3 (2): 129 – 135.

Mc. Donald, M.E, Tikkanen, C. A, Axler, R. P , Larsen, C. P dan Host, G. 1996. Fish Simulation Culture Modekl (FIS-C) : A Bioenergetics Based Model for Aquacultural Wasteload Application. Aquacultural Engineering. 15 (4): 243 – 259.
Nastiti, A.S., Krismono, dan E.S. Kartamiharja. 2001. Dampak Budidaya Ikan dalam KJA terhadap Peningkatan Unsur N dan P di Perairan Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 7 (2): 22-30.

Phillips, M.J, Clarke, R. dan Mowat, A. 1993. Phosphorus Leaching from Atlantic Salmon Diets, Aquacultural Engineering. 12 (1993) : 47 – 54.

Rachmansyah. 2004. Analisis Daya Dukung Lingkungan Perairan Teluk Awarange Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan bagi Pengembangan Budidaya Bandeng dalam Keramba Jaring Apung. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. Disertasi.

Simarmata, A. H. 2007. Kajian Keterkaitan antara Kemantapan Cadangan Oksigen dengan Beban Masukan Bahan Organik di Waduk Ir. H. Juanda Purwakarta Jawa Barat. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. Disertasi.

Sutardjo. 2000. Pengaruh Budidaya Ikan pada Kualitas Air Waduk (Studi Kasus pada Budidaya Ikan dalam Keramba Jaring Apung, di Ciganea, Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat). Program Studi Ilmu Lingkungan. Program Pascasarjana. Universitas Indonesia. Jakarta. Tesis.
Umaly, R.C and M.A.L.A Cuvin. 1988. Limnology. National Book Store Publisher. Manila.