Archive for the ‘ Pakan ’ Category

Daftar Pakan Teregistrasi (s.d April 2011)

Dalam rangka pengawasan pengadaan dan peredaran pakan ikan dan bahan baku untuk pembuatan pakan ikan/udang, dimana pengadaannya sebagian besar berasal dari impor, maka Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya mengeluarkan Surat Keterangan Teknis/Rekomendasi bagi perusahaan importir bahan baku pakan ikan/udang dan atau perusahaan pakan ikan/udang yang telah memenuhi persyaratan teknis antara lain bahan tersebut betul-betul merupakan pakan/bahan baku untuk pembuatan pakan ikan/udang yang bebas antibiotik.

Sampai dengan bulan April 2011 telah mengeluarkan 452 buah Surat Keterangan Teknis kepada 29 perusahaan pakan ikan/udang dan importir pakan/bahan baku pakan ikan/udang.

Download : Daftar Pakan Teregistrasi s.d April 2011

Sumber : Ditjen Perikanan Budidaya

Daftar Pakan Teregistrasi

Dalam rangka pengawasan pengadaan dan peredaran pakan ikan dan bahan baku untuk pembuatan pakan ikan/udang, dimana pengadaannya sebagian besar berasal dari impor, maka Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya mengeluarkan Surat Keterangan Teknis/Rekomendasi bagi perusahaan importir bahan baku pakan ikan/udang dan atau perusahaan pakan ikan/udang yang telah memenuhi persyaratan teknis antara lain bahan tersebut betul-betul merupakan pakan/bahan baku untuk pembuatan pakan ikan/udang yang bebas antibiotik.

Sampai dengan bulan Desember 2010 telah mengeluarkan 406 pucuk Surat Keterangan Teknis kepada 26 perusahaan pakan ikan/udang dan importir pakan/bahan baku pakan ikan/udang.

Download : DAFTAR PAKAN TEREGISTRASI

Read the rest of this entry

Pakan Segar Untuk Lobster Air Tawar

Pakan segar adalah pakan yang berasal dari organisme perairan yang kemudian diolah sedemikian rupa sebelum diberikan kepada lobster air tawar dalam keadaan segar.

Beberapa organisme perairan yang banyak dijumpai dilingkungan sekitar kolam dan bisa digunakan sebagai sumber pakan segar untuk lobster air tawar adalah keong mas, ikan runcah dan cacing tanah.

Penggunaan pakan segar ini ditujukan untuk meningkatkan nafsu makan serta untuk meningkatkan kualitas daging dari lobster air tawar.

Bau menyengat yang dikeluarkan oleh pakan segar ini diharapkan dapat membuat lobster air tawar tertarik untukmendatanginya dan kemudian mengkonsumsinya.Pakan segar dapat diberikan melalui beberapa cara, diantaranya :

  1. Sumber pakan segar ditangkap, untuk kemudian dipotong – potong hingga ukuran tertentu dan kemudian langsung diberikan kepada lobster air tawar.
  2. Sumber pakan segar disterilkan terlebih dahulu selama 3 hari dengan cara direndam ke dalam air hangat yang telah dicampur dengan garam ikan. Tindakan ini ditujukan untuk mencegah resiko penularan penyakit yang terkandung didalam tubuh sumber pakan segar.

Pakan segar biasa diberikan pada malam hari dengan dosis mencapai 75 % dari total dosis pakan harian. Sebelum menggunakan pakan segar sebagai pakan untuk lobster air tawar, ada baiknya faktor – faktor berikut ini diperhatikan, diantaranya :

  1. Jenis organisme air dan kemungkinan permasalahan yang dapat timbul, mengingat dalam kondisi tertentu, penggunaan pakan segar dapat memperburuk kondisi air kolam.
  2. Penggunaan pakan segar harus diimbangi dengan pengolahan air kolam sebagai wujud antisipasi atas kemungkinan terjadinya akumulasi pakan yang tidak termakan. Tindakan ini dilakukan agar kualitas air selalu sesuai dengan syarat hidup lobster air tawar.

Salah satu jenis organisme air yang biasa digunakan untuk sumber pakan segar adalah keong mas. Berikut ini adalah cara untuk mengolah keong mas yang akan dijadikan sebagai pakan segar :

Peralatan :

* 1 buah ember plastik berkapasitas sedang.
* 1 buah anco bambu berukuran sedang.
* 1 buah panci aluminium berkapasitas sedang.
* 1 buah kompor.
* 1 buah sendok bambu pengaduk.
* 1 buah garpu.
* 1 buah sikat gigi.
* Selang air.
* 1 buah talenan.
* 1 buah pisau cincang.
* 1 buah gayung plastik.

Bahan – bahan :

* 1 kg keong mas segar.
* 10 liter air bersih.
* 350 gram garam ikan.

Cara pengolahan :

  1. Dengan menggunakan sikat gigi, bersihkan keong mas dari semua kotoran yang melekat dicangkang dan tubuhnya.
  2. Kumpulkan keong mas yang sudah bersih ke dalam sebuah wadah.
  3. Masukkan keong mas ke dalam ember, lalu taburi dengan 50 gram garam grosok. Aduk beberapa kali lalu diamkan selama 15 menit.
  4. Isi panci dengan air bersih sebanyak 10 liter, lalu masukkan garam grosok sebanyak 300 gram ke dalamnya dan rebus hingga mendidih.
  5. Masukkan keong mas ke dalam rebusan air garam, lalu diamkan selama 15 menit.
  6. Angkat dan tiriskan lalu angin – anginkan keong mas hingga aman untuk dipegang.
  7. Dengan menggunakan garpu, cungkilah daging keong mas tersebut dari cangkangnya.
  8. Potong semua sungutnya, keluarkan isi perutnya dan cuci hingga bersih.
  9. Cincang daging keong mas tersebut hingga menjadi kecil – kecil.
  10. Daging keong mas siap untuk diberikan kepada lobster air tawar.

Sumber : Info Agribisnis

Budidaya Maggot

Saat ini budidaya maggot telah dilakukan di Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Jambi Kapasitas produksi mencapai 200-300 kg/minggu. Kapasitas ini masih bisa ditingkatkan lagi dengan peningkatan fasilitas, terutama wadah budidaya. Pengembangan budidaya maggot kini masih terus dikaji, baik terkait dengan nilai gizinya ataupun prospek pengembangan dan aplikasinya sebagai pakan ikan maupun sebagai pengganti tepung ikan.


Sebagai media tumbuh maggot dipilih bungkil kelapa sawit. Alasannya karena bahan ini mempunyai kandungan gizi yang lebih baik dibandingkan produk limbah lainnya seperti ampas tahu, ampas kecap serta ketersedianya cukup banyak dan kontinyu di Jambi.

Budidaya maggot bisa dilakukan pada skala kecil dengan menggunakan drum/baskom dan skala besar pada bak-bak yang berukuran besar yang kedap air. Fermentasi bungkil kelapa sawit menggunakan air dengan perbandingan 1 bagian bungkil kelapa sawit dengan 2 bagian air. Bungkil yang telah dicampur air dimasukan dalam tong/baskom atau bak berukuran besar dan ditempatkan di ruangan terbuka.

Agar media tidak terkena air hujan, wadah budidaya diberi atap sebagai pelindung. Disamping itu untuk memudahkan lalat Black soldier menempelkan telur maka di atas media fermentasi ditempatkan daun kering. Setelah 2-4 minggu pemeliharaan, maggot sudah bisa dipanen. Ukuran panen disesuaikan dengan bukaan mulut ikan yang akan diberi pakan maggot (jika maggot segar).

BBAT Jambi menyebutkan, bahwa untuk setiap 10 kg bungkil kelapa sawit dalam tong/baskom bisa menghasilkan 3-3,5 kg maggot. Sedangkan untuk 1 unit bak 3 x 10 m bisa menghasilkan 150 – 316 kg maggot (PKM 350-750 kg). Dengan kata lain, 1 kg maggot bisa dihasilkan dari 3 kg bungkil kelapa sawit (konversi PKM : maggot=3:1) dalam waktu 2-4 minggu.

Sayangnya, budidaya maggot ini masih terkendala pasokan sulitnya mendapatkan bungkil kelapa sawit dari pabrik. Bukan itu saja, harga bungkil sawit dari tahun ke tahun juga selalu meningkat. Jika harga ini telah menembus Rp 1.000 per kg, maka kegiatan ini menjadi tidak menguntungkan bagi pembudidaya ikan. Di sini peran pemerintah sangat diharapkan untuk menstabilkan harga bungkil kelapa sawit agar tetap di bawah Rp 1.000 per kg.

Dalam penggunaan maggot sebagai pakan ikan, bisa diberikan dalam dua cara. Yakni langsung (maggot hidup/) dan ke dua tepung maggot sebagai sumber protein pakan menggantikan tepung ikan. Penggunaan pakan maggot telah dilakukan pada beberapa ikan di BBAT Jambi. Antara lain pada ikan patin, nila merah, nila hitam, mas, toman, gabus dan arowana. Juga pada beberapa ikan konsumsi lainnya di BBPBAT Sukabumi dan ikan hias di LR-BIHAT di Depok, Jawa Barat.

Hasilnya cukup sangat memuaskan. Misalnya pada ikan patin, substitusi maggot segar dengan pakan komersial pada ikan patin jambal menunjukan bahwa benih patin jambal yang diberi pakan substitusi maggot hidup 25% dan pakan komersial 75%, menghasilkan laju pertumbuhan terbaik serta bisa menurunkan biaya pakan Rp 352 per kg ikan. Substitusi maggot masih bisa ditingkatkan sampai 35% tanpa menurunkan performan pertumbuhan dan efisiensi pakan. Sebagai sumber protein pakan pengganti tepung ikan, penggunaan protein tepung maggot sekitar 28%. Pada pembesaran ikan patin siam kebutuhan protein tepung maggot mencapai 34,7%.

Pada ikan nila merah, penggunaan maggot segar 50% ditambah pakan komersial 50% akan menghasilkan laju pertumbuhan terbaik. Selain itu bisa menurunkan biaya pakan sebesar Rp 1.819 per kg ikan. Substitusi maggot masih bisa ditingkatkan sampai 54% tanpa menurunkan performan pertumbuhan dan efisiensi pakan. Sedangkan sebagai sumber protein pengganti tepung ikan, tepung maggot bisa digunakan sebanyak 50% sebagai sumber protein pakan untuk pakan pembesaran ikan nila merah. Hasil penelitian lainnya, maggot bisa menggantikan 50% pakan komersial pada ikan lele.

Sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan

Maggot Pakan Alternatif

Makin ketatnya persaingan di pasar internasional telah menuntut produsen perikanan dunia untuk berlomba menghasilkan produk berkualitas terbaik dengan harga terendah. Karena itu selain tak henti melakukan pembaruan teknologi, efisiensi produksi juga kian nyaring digaungkan oleh banyak pihak, terutama dalam hal pakan. Sebab biaya pakan menyumbang sekitar 60% terhadap biaya produksi usaha perikanan budidaya.

Sampai sekarang ini, harga pakan cenderung naik dari waktu ke waktu akibat kian menipisnya ketersediaan tepung ikan sebagai bahan baku utama pakan. Lebih celaka lagi, Indonesia selama ini menggantungkan se bagian besar pemenuhan tepung ikan dari pasokan impor sehingga sulit menghindari melambungnya harga pakan.

Namun kebingungan soal pakan tidak perlu lagi dikahawtirkan lagi, Sebab putra-putri Indonesia sudah bisa menemukan bahan pengganti tepung ikan. Bahan yang dimaksud adalah maggot. Yani larva lalat bunga dari spesies Hermetia illucens (larva Black Soldier Fly) yang diproduksi melalui proses biokonversi. Biokonversi ini merupakan proses untuk mengubah bentuk dari produk yang kurang bernilai menjadi produk bernilai menggunakan agen biologi.

Maggot, Menguntungkan

Maggot memang layak jadi harapan baru di bisnis perikanan budidaya. Hasil penelitian dari Loka Riset Kemeneteriean Kelautan dan Perikanan menyebutkan, maggot memiliki kadar protein yang sama dengan tepung ikan yaitu sekitar 40-50%. Kelebihan lainnya, maggot mudah dibudidayakan secara massal dengan menggunakan bungkil kelapa sawit (Palm Kernel Meal/PKM) sebagai media tumbuh.

Tentang maggot, keberadaanya bisa ditemui hampir di seluruh dunia dengan ukuran larva sekitar 2 cm. Beberapa kelebihan belatung ini antara lain bisa mereduksi sampah organik, bisa hidup dalam toleransi pH yang cukup luas, tidak membawa atau menjadi agen penyakit, masa hidup cukup lama (± 4 minggu) dan untuk mendapatkanya tidak memerlukan teknologi tinggi,.

Sementara Black Soldier Fly (Hermentia illucens)—sang lalat—adalah serangga yang hidup di pepohonan yang berbunga. Sari bunga (madu) merupakan makanan utamanya. Siklus hidupnya selalu melakukan metamorfosa seperti kupu-kupu. Selanjutnya, si prajurit hitam yang sudah dewasa akan kawin dan selanjutnya meletakkan telurnya pada media yang memungkinan sebagai makanan bagi larvanya. Dalam waktu 2-4 hari telur akan menetas menjadi maggot kecil, selanjutnya akan bertambah besar sampai 2 cm pada umur 4 minggu. Sampai umur 2 minggu maggot masih berwarna putih dan selanjutnya warna semakin berubah menjadi kekuningan sampai hitam dan menjadi pupa pada umur ± 4 minggu. Setelah 4 minggu pupa akan menetas menjadi serangga dewasa.

Mengenai kandungan gizi maggot jika dibandingkan tepung ikan secara umum tak kalah. Maggot juga mengandung asam amino dengan kadar yang sedikit lebih rendah daripada tepung ikan. Sedangkan kandungan asam lemak linoleat (n-6) tepung maggot lebih tinggi daripada tepung ikan.