Archive for the ‘ Patin ’ Category

SDA Dukung Peningkatan Produksi Ikan Patin

JAKARTA, Inspirasi Bangsa (20/8) — Sumber daya alam di Indonesia berupa sungai besar sangat mendukung peningkatan produksi ikan Patin, kata Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto di Jakarta, Selasa.

“Indonesia memiliki sumber daya alam yang tak kalah dengan Vietnam dalam memproduksi patin,” katanya yang berani menargetkan produksi ikan patin bisa mencapai 300 ton per hektare seperti yang ada di sepanjang aliran Sungai Mekong-Vietnam.

Ia mengemukakan, saat ini pihaknya sudah mulai melakukan hal itu di lahan pasang surut Sungai Batanghari Jambi.

Ketersediaan benih unggul juga sedang disiapkan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya untuk mengantisipasi lonjakan permintaan benih patin yang diperkirakan meningkat seiring dengan berkembangnya usaha budidaya patin.

Ikan patin yang oleh peternak di Jawa dikenal sebagai lele bangkok menjadi primadona baru sejak lima tahun terakhir karena permintaan masih cukup tinggi sementara teknik budidaya tidak jauh berbeda dengan ikan lele. (Laras)

Sumber : Inspirasi Bangsa

Ikan Patin Indonesia Tak Kalah Dengan Vietnam

Sumber daya alam untuk ikan patin di Indonesia tidak kalah dengan Vietnam sehingga pemerintah Indonesia juga berani menetapkan target tinggi untuk produksi ikan patin di Tanah Air.

“Indonesia memiliki sumber daya alam yang tak kalah dengan Vietnam dalam memproduksi patin,” kata Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa.

Menurut Slamet, KKP berani menargetkan produksi ikan patin bisa mencapai 300 ton per hektare seperti yang ada di sepanjang aliran Sungai Mekong-Vietnam.

Ia mengemukakan, saat ini pihaknya sudah mulai melakukan hal itu di lahan pasang surut Sungai Batanghari Jambi.

“ini akan mampu meningkatkan produksi patin nasional dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya dan menambah pendapatan daerah tersebut,” katanya.

Selain itu, ujar dia, ketersediaan benih unggul juga sedang disiapkan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya untuk mengantisipasi lonjakan permintaan benih patin yang diperkirakan meningkat seiring dengan berkembangnya usaha budidaya patin.

Sebelumnya, Ketua Dewan Pembina Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) M Riza Damanik mengatakan sektor kelautan dan perikanan masih kerap jadi “anak bawang” atau terpinggirkan dari arus utama pemerintahan.

“Kelautan sebagai mainstream baru selalu menjadi ‘anak bawang’ di antara sektor-sektor lain semacam pertambangan dan kehutanan,” kata Riza Damanik di Jakarta, Rabu (13/8).

Untuk itu perlu perombakan dalam pendekatan yang menjadi lebih terpadu. Dengan demikian, lanjutnya, laut akan mengantarkan Indonesia menjadi negara sejahtera.

“Sekaligus laut menjadi batas kita pula dalam memanfaatkan sumber daya alam tadi,” kata Riza.(ant/ris)

Sumber : Ciputra News

IKAN PATIN Dari kanan ke kiri, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Kadiskanla) Sergai HM Ramlam Matondang, Direktur Jenderal (Dirjen) Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto, Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) KKP Saut Hutagalung dan Kadiskanla Sumut Jhony Waldi, memperlihatkan produksi budidaya ikan patin milik petani di Kelurahan Tualang, Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Senin (18/8). (medan bisnis//junitasianturi)

Perbaungan – Hingga sementer I tahun 2014, produksi budidaya ikan patin secara nasional telah mencapai kisaran 200-an ribu ton. Angka ini diharapkan meningkat hingga di atas produksi ikan patin tahun 2013 yang mencapai 410 ribu ton.
“Karena itu, untuk mendukung dan meningkatkan produksi budidaya ikan patin di tanah air termasuk di Sumatera Utara tahun 2015, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan menganggarkan dana sekitar Rp 20 miliar,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto saat melakukan kunjungan kerja (kunker) ke lokasi budidaya ikan pati di Kelurahan Tualang, Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Senin (18/8).
Kunker tersebut juga dilakukan bersama Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) KKP Saut Hutagalung. Kedua dirjen tersebut didampingi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Diskanla) Sumut Jhony Waldi, Kadiskanla Sergai HM Ramlam Matondang, beserta jajaran KKP lainnya.

Slamet mengatakan, meski pemasaran ikan patin sejauh ini masih di dalam negeri namun permintaan ikan patin terutama dalam bentuk fillet atau olahan lainnya cukup tinggi. “Karena itu, KKP akan terus mendongkrak produksi ikan patin ini baik dari segi budidayanya maupun hilirisasisnya dalam hal ini pengolahannya,” kata Slamet.

Adapun upaya yang akan dilakukan dalam mendongkrak produksi dan mutu ikan patin terutama di Sumut, menurut Slamet dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, dengan melakukan intensifikasi untuk meningkatkan produktivitas. Kedua, melakukan ekstensifikasi dengan meningkatkan lahan-lahan produktif. Dan, yang terakhir adalah kemandirian benih ikan patin di tingkat petani pembudidaya.

Karena selama ini kata Slamet, petani ikan patin di Sumut termasuk di Sergai masih mengandalkan benih dari luar daerah seperti Riau, Jambi maupun Sukabumi (Jawa Barat). Itu mengakibatkan kualitas benih menjadi rendah karena lama di perjalanan yang diikuti dengan tingkat kematian benih yang tinggi.

“Karena itulash tahun 2015, kita akan buat percontohan-percontohan benih ikan patin di kalangan petani di Sumatera Utara termasuk Sergai. Sehingga petani bisa memproduksi benih sendiri dan tidak ketergantungan lagi dengan daerah luar,” jelasnya.

Jadi, lanjut dia, anggaran yang akan dialokasikan sebesar Rp 20 miliar tahun 2015 antara lain untuk membuat percontohan benih tadi, bantuan pengadaan mesin pembuat pellet dan lain sebagainya.

Terhadap sentra ikan patin di Tanah Air, Slamet mengatakan, cukup luas dan hampir meneyebar di seluruh propinsi di Indonesia. Namun, produksi yang terbanyak masih dihasilkan dari Jambi, Riau, Sumsel, Sumut, Jawa Baratm Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. ( junita sianturi)

Sumber : Medan Bisnis

KARANGANYAR – Harsanto (57) warga Desa Karangpandan, Kecamatan Karangpandan melampaui batasan fisiknya dalam meraih sukses. Pria berkebutuhan khusus ini membidik bisnis makanan olahan berbahan dasar ikan patin.

Budidaya ikan patin ini sudah dilakoninya selama 16 tahun. Awal tahun 1998, ia membangun beberapa petak kolam bermodal uang pribadi untuk membudidayakan ikan di pekarangan rumah. Tak butuh penanganan ekstra untuk menggemukkan ikan-ikan peliharaannya, mengingat pengairan di tempat tinggalnya sangat mendukung. Berbagai tahap percobaan dilakoninya sebelum akhirnya menghasilkan makanan ringan dari ikan patin. Mulai dari daging ikan diolah menjadi baso sampai dikeringkan berbentuk abon, merupakan kreasi dan inovasi pria ini. Yang paling diminati dari bagian tubuh ikan patih, yakni kulitnya yang diolah menjadi krispy dan olahan duri menjadi kerupuk. Awalnya, Harsanto merintis usaha dari menjual baso ikan patin yang kemudian merambah ke berbagai varian.

”Dari tubuh ikan patin ini dapat dimanfaatkan. Saya mengerjakan semuanya, mulai dari pembibitan, kemudian diolah menjadi makanan ringan sampai pemasaran,” ujarnya kepada KRjogja.com dengan bangga.

Hasil kerja keras selama 16 tahun ini dirasanya sangat menggembirakan. Aneka produk ikan patin olahannya dipasarkan sampai ke luar Karanganyar, dari semula hanya terbatas di lingkungan desa. Dan lagi, produk pupuk organik dari isi perut ikan patin diminati petani. Metode yang digunakan membuat pupuk dari jerohan, yakni melalui proses fermantasi yang hasilnya tak kalah dengan pupuk organik lainya. Pundi-pundi uang Harsanto kian tebal lantaran omzet per bulan pria ini mencapai jutaan rupiah.

“Belum banyak yang membidik makanan olahan dari ikan patin di Karanganyar. Sehingga, ini potensi yang sangat bagus,” jelas dia.

Ia berniat memperluas usahanya dengan membuka lapak baso ikan patin bersistem jejaring. Meurutnya, konsumen akan menaruh hati produk ini karena cita rasa khas, halal dan belum banyak dijumpai di Bumi Intanpari.

Harsanto mengatakan, setiap manusia memiliki kelebihan yang diberikan Tuhan agar bisa bertahan hidup dan berkompetisi. Kelebihan ini tidak dibatasi kekurangan fisik maupun mental.

“Jangan berkecil hati atas kekurangan anda. Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mau berusaha, ini moto hidup saya,” kata dia. (*-10)


Sumber : KRJogja.com

Memijahkan Ikan Patin Dengan Cara Kawin Suntik

Ikan patin merupakan salah satu jenis ikan komersil selain dari ikan mas, lele atau gurame.

Dikarenakan ikan patin tidak bisa atau sulit untuk memijah sendiri, maka hal itu dapat dilakukan dengan sistem kawin suntik.

Prosesnya adalah sebagai berikut :

SELEKSI INDUKAN

Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh ikan patin yang akan dijadikan indukan adalah :

  • Berumur 2,5 tahun ke atas.
  • Mempunyai bobot 2,5 kg.
  • Sedang berada dalam masa produktif.
  • Sebelum dipijahkan, induk harus dipelihara secara khusus di kolam indukan.

PROSES PENYUNTIKKAN

  • Wadah yang akan digunakan sebagai tempat penyuntikkan dapat berupa karamba jaring berukuran 2 x 1 x 0,5 meter.
  • Hormon yang akan digunakan dalam proses ini adalah hormon gonadotropim yang diperoleh dari ikan mas donor.
  • Penyuntikkan hanya dilakukan terhadap induk betina saja.
  • Penyuntikkan dilakukan sebanyak 2 kali dengan dosis yang berbeda untuk setiap suntikkan.

Penyuntikkan 1 :
Dilakukan pada siang hari ; dosisnya 1/3 bagian ; disuntikkan pada bagian punggung atas ; berguna untuk mematangkan telur.

Penyuntikkan 2 :
Dilakukan pada malam hari ; dosisnya 2/3 bagian (ditambahkan HCG) ; disuntikkan pada bagian punggung arah perut ; berguna untuk memisahkan telur yang menggumpal menjadi butiran.
PROSES PEMIJAHAN

  • Perbandingan jumlah antara induk jantan dan induk betina yang akan dipijahkan adalah 3 jantan : 1 betina.
  • Pemijahan akan terjadi dalam kurun waktu 10 jam pasca penyuntikkan yang ke 2.
  • Setelah itu, induk betina diurut untuk mengeluarkan sel telurnya dan induk jantan diurut untuk mengeluarkan sel spermanya.
  • Sel telur dan sperma ditempatkan ke dalam sebuah wadah dan lalu diaduk dengan menggunakan bulu.
  • Sebelum dipindahkan ke dalam akuarium penetasan, cairan telur dan sperma harus diencerkan dulu dengan bantuan larutan infus.
  • Didalam akuarium penetasan, telur disebar secara merata dan airnya diberi larutan methaline blue untuk melindungi telur dari serangan jamur.

PROSES PENDEDERAN

Dalam kurun waktu 9 jam setelah proses pemindahan telur ke dalam akuarium penetasan, telur harus diperiksa untuk mengetahui mana yang akan menetas dan mana yang akan gagal menetas.

Telur yang akan menetas mempunyai warna bening dan telur yang akan gagal menetas mempunyai warna putih susu.

Telur – telur ini akan menetas dalam kurun waktu 15 jam kemudian, dimana setelah menetas dan menjadi larva, mereka harus segera dipindahkan ke dalam akuarium pendederan yang mampu menampung 3.000 ekor larva.

Di dalam akuarium pendederan, suhu air harus selalu dijaga dikisaran 29 – 30 derajat C dengan maksud agar nafsu makan larva ikan patin selalu terjaga. 1 hari pasca penetasan, larva dapat diberi makan 4 jam sekali berupa artemia dan diberikan selama kurang lebih 7 hari.

Menginjak hari ke 8, pakannya benih dapat diganti dengan cacing sutera dan ketika umurnya sudah mencapai 1 bulan pakannya ikan patin dapat diganti dengan pelet udang yang halus.

Sumber : Info Agribsinis Perikanan