Archive for the ‘ Pembenihan ’ Category

Ilustrasi balai benih ikan. FOTO NET

BANJARNEGARA – Balai Benih Ikan (BBI) yang ada di Desa Pucang, Kecamatan Bawang dalam waktu dekat akan di jadikan Pusat Informasi Perikanan (PIP). Berbagai informasi perikanan nantinya akan di sediakan di kantor tersebut.

“Saat ini kami sedang mengadakan koordinasi dengan pihak terkait untuk memperlancar proses tersebut. Mudah-mudahan tahun 2015 nanti sudah bisa terealisasi,” kata Kelapa Bidang Perikanan Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan (Dintankannak) Banjarnegara Totok Setya Winarna.

Di PIP rencananya semua informasi ataupun kegiatan perikanan ada di lokasi tersebut, termasuk pusat kesehatan hewan (perikanan) serta menjadi denfarm bagi pembudidaya perikanan. “PIP juga akan menjadi demplot perikanan bagi pelajar yang saat ini menjadikan perikanan sebagai satu jurusan. Meski begitu PIP juga membuka kesempatan seluas luasnya bagi masyarakat yang ingin memperoleh informasi perikanan,” katanya.

PIP nantinya juga akan dilengkapi dengan laboratorium, perpustakaan, budidaya, pembenihan, dan tempat praktik lapangan bagi pembudidaya perikanan. Bagi sekolah yang ingin menjadikan perikanan sebagai satu muatan lokal, PIP juga menyediakan petugas untuk mengisi materi tentang perikanan.

Kelompok Pengelolah dan Pemasar (Poklasar) juga dapat memanfaatkan PIP sebagai media untuk memasarkan produk hasil perikanan. “Semua persyaratan sudah kami penuhi tinggal nanti dana dari pusat. Sedangkan dana melalui APBD sudah diberikan melalui penambahan khusus bagi PIP, untuk pelaksanaannya memang masih harus ditambah beberapa sarana seperti laboratorium, obat obatan, pro biotik, dan perkolaman. Karena nantinya juga akan menjadi pusat kajian sehingga membutuhkan banyak kolam, inlet dan outlet kolam budidaya,” ujarnya. (oel)

Sumber : Satelit News

Hugua: Populasi ikan perlu zona pemijahan

Dokumen foto kehidupan masyarakat Bajo di Desa Mola Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, yang termasuk kelompok Bajo Darat dan memiliki kawasan pemijahan ikan secara tradisional. (ANTARA/Zabur Karuru)

Kendari – Bupati Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Hugua mengatakan bahwa untuk mempertahankan populasi ikan yang belakangan ini cenderung menurun diperlukan zona pemijahan di beberapa wilayah perairan laut di Indonesia.

“Untuk melindungi dan mempertahankan populasi ikan yang menjadi sumber pendapatan para nelayan, pemerintah harus perlu menyediakan kawasan pemihajan ikan di wilayah laut Indonesia,” katanya di Kendari, Sabtu.

Menurut dia, zona pemijahan ikan akan menjadi sumber stok perikanan dan dalam jangka panjang akan berfungsi sebagai kawsan pemulihan (recovery) populasi ikan yang berkesinambungan .

Pemerintah, menurut dia, harus menjadikan setiap wilayah pemijahan ikan sebagai kawasan taman nasional yang kelestariannya terus dijaga dan dilindungi dari berbagai ancaman kerusakan, terutaman ancaman ilegal fishing dan pencemaran lingkungan.

“Untuk memproteksi gangguan perairan laut, terutama zona pemijahan ikan, pemerintah harus memastikan kalau aktivitas pertambangan di darat tidak menganggu atau mencemari kawasan laut yang bisa merusak ekosistem di laut,” katanya.

Menurut dia, air laut yang tercemar bukan hanya mengancam kelestarian ekosistem di laut, melainkan juga dapat membahayakan atau menghilangkan mata pencaharian penduduk pesisir.

Pada wilayah-wilayah yang lautnya tercemar oleh lumpur tanah yang meluber dari aktifitas pertambangan, kata dia sangat memungkinkan mengganggu usaha budidaya rumput laut, ikan, teripang dan mutiara milik warga sekitar.

“Makanya, pada wilayah-wilayah tertentu pemerintah harus berani membekukan aktivitas pertambangan yang dianggap bisa mengancam keselamatan lingkungan dan ekosistem laut,” katanya.

Ia mengakui, sektor pertambangan banyak memberikan kontribusi pendapatan terhadap negara, namun di saat yang sama bisa mengganggu keseimbangan lingkungan, sehingga sebaiknya tidak dibolehkan lagi untuk terus beroperasi mengeruk sumber daya mineral di dalam bumi. (*)

Editor: Priyambodo RH

Sumber : Antara News

Merawat Benih Ikan Betutu

Telur ikan betutu mempunyai bentuk lonjong dan berukuran sangat kecil (0,833 mm).
Setelah melalui prose ovulasi dan pembuahan, telur – telur ikan betutu akan menempel pada permukaan lempeng sarang dengan kepadatan 80 butir / cm2.
Telur dapat dipindahkan ke dalam akuarium yang dapat menampung kurang lebih 2 – 3 lempeng sarang. Agar oksigen dapat merata, dalam setiap akuarium dapat ditambahkan 2 – 3 titik aerasi.
Selama dalam masa inkubasi, suhu air harus selalu dijaga agar dapat stabil dikisaran 26 – 28 derajat celcius dan pH air harus selalu dijaga agar dapat stabil dikisaran 7. Jika berada dalam lingkungan hidup yang ideal, telur akan menetas 2 – 4 hari setelah dipindahkan.

PERAWATAN LARVA

Setelah menetas, telur ikan betutu dapat segera dipindahkan ke dalam bak (berbahan fibre atau kayu berlapis plastik) yang mempunyai ukuran 6 m2 dan tinggi 50 cm. Air dalam bak harus setinggi 40 cm dengan kepadatan tebar 40 ekor larva per liter air.

Lima hari setelah menempati bak ini, larva ikan betutu dapat segera diberi makanan tambahan dan dipelihara selama 30 hari hingga larva ikan betutu mempunyai panjang 1 cm. Setelah mencapai panjang 1 cm, larva ikan betutu dapat dipindahkan lagi ke dalam bak (berbahan fibre atau kayu berlapis plastik) yang mempunyai ukuran 10 m2 dan tinggi 50 cm.

Sebelum digunakan, dasar bak harus dilapisi dulu dengan pasir setebal 5 cm dan dipupuk dengan menggunakan campuran pupuk urea (10 gram / m2), TSP (15 gram / m2 dan kotoran ayam) (250 gram / m2).

Tujuan dari proses pemupukan ini adalah agar didalam bak terdapat pakan alami. Seminggu setelah dipindahkan, benih / bibit ikan betutu dapat segera didederkan dengan syarat benih sudah mempunyai panjang 2 – 3 cm. Kepadatan tebar yang dianjurkan adalah 1.000 ekor / m2, dengan masa pemeliharaan selama 1 bulan.

PAKAN

  • Benih berumur 3 – 7 hari dapat diberi pakan berupa kuning telur rebus.
  • Benih berumur 7 – 30 hari dapat diberi pakan berupa rotifier, moina dan artemia.
  • Benih berumur 30 – 60 hari dapat diberi pakan berupa cacing rambut.
  • Benih berumur 60 hari lebih dapat diberi pakan berupa cincangan ikan runcah.

Sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan

Memijahkan Ikan Patin Dengan Cara Kawin Suntik

Ikan patin merupakan salah satu jenis ikan komersil selain dari ikan mas, lele atau gurame.

Dikarenakan ikan patin tidak bisa atau sulit untuk memijah sendiri, maka hal itu dapat dilakukan dengan sistem kawin suntik.

Prosesnya adalah sebagai berikut :

SELEKSI INDUKAN

Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh ikan patin yang akan dijadikan indukan adalah :

  • Berumur 2,5 tahun ke atas.
  • Mempunyai bobot 2,5 kg.
  • Sedang berada dalam masa produktif.
  • Sebelum dipijahkan, induk harus dipelihara secara khusus di kolam indukan.

PROSES PENYUNTIKKAN

  • Wadah yang akan digunakan sebagai tempat penyuntikkan dapat berupa karamba jaring berukuran 2 x 1 x 0,5 meter.
  • Hormon yang akan digunakan dalam proses ini adalah hormon gonadotropim yang diperoleh dari ikan mas donor.
  • Penyuntikkan hanya dilakukan terhadap induk betina saja.
  • Penyuntikkan dilakukan sebanyak 2 kali dengan dosis yang berbeda untuk setiap suntikkan.

Penyuntikkan 1 :
Dilakukan pada siang hari ; dosisnya 1/3 bagian ; disuntikkan pada bagian punggung atas ; berguna untuk mematangkan telur.

Penyuntikkan 2 :
Dilakukan pada malam hari ; dosisnya 2/3 bagian (ditambahkan HCG) ; disuntikkan pada bagian punggung arah perut ; berguna untuk memisahkan telur yang menggumpal menjadi butiran.
PROSES PEMIJAHAN

  • Perbandingan jumlah antara induk jantan dan induk betina yang akan dipijahkan adalah 3 jantan : 1 betina.
  • Pemijahan akan terjadi dalam kurun waktu 10 jam pasca penyuntikkan yang ke 2.
  • Setelah itu, induk betina diurut untuk mengeluarkan sel telurnya dan induk jantan diurut untuk mengeluarkan sel spermanya.
  • Sel telur dan sperma ditempatkan ke dalam sebuah wadah dan lalu diaduk dengan menggunakan bulu.
  • Sebelum dipindahkan ke dalam akuarium penetasan, cairan telur dan sperma harus diencerkan dulu dengan bantuan larutan infus.
  • Didalam akuarium penetasan, telur disebar secara merata dan airnya diberi larutan methaline blue untuk melindungi telur dari serangan jamur.

PROSES PENDEDERAN

Dalam kurun waktu 9 jam setelah proses pemindahan telur ke dalam akuarium penetasan, telur harus diperiksa untuk mengetahui mana yang akan menetas dan mana yang akan gagal menetas.

Telur yang akan menetas mempunyai warna bening dan telur yang akan gagal menetas mempunyai warna putih susu.

Telur – telur ini akan menetas dalam kurun waktu 15 jam kemudian, dimana setelah menetas dan menjadi larva, mereka harus segera dipindahkan ke dalam akuarium pendederan yang mampu menampung 3.000 ekor larva.

Di dalam akuarium pendederan, suhu air harus selalu dijaga dikisaran 29 – 30 derajat C dengan maksud agar nafsu makan larva ikan patin selalu terjaga. 1 hari pasca penetasan, larva dapat diberi makan 4 jam sekali berupa artemia dan diberikan selama kurang lebih 7 hari.

Menginjak hari ke 8, pakannya benih dapat diganti dengan cacing sutera dan ketika umurnya sudah mencapai 1 bulan pakannya ikan patin dapat diganti dengan pelet udang yang halus.

Sumber : Info Agribsinis Perikanan

Pembenihan Ikan Manvis (Pterophyllum scalare)

Manvis yang juga dikenal dengan nama Angelfish merupakan salah satu jenis ikan hias yang digemari oleh masyarakat di Indonesia. Ikan ini berasal dari sungai Amazone di Amerika Selatan. Manvis memiliki bentuk dan warna tubuh serta gerakan yang sangat indah dan menarik sehingga sangat cocok untuk dipelihara di dalam akuarium sebagai pajangan. Budidaya Manvis di Indonesia telah berkembang dengan pesat baik sebagai kesenangan maupun usaha yang bersifat komersial.

Secara alami Manvis hidup di perairan yang tenang dan banyak tanamannya. Jenis ikan ini cocok sekali dipelihara di dalam akuarium bersama jenis ikan yang gerakannya lamban. Manvis sangat sayang terhadap anaknya dan bila ada gangguan dari luar manvis melindungi anaknya dengan jalan menyimpan di dalam mulutnya. Sifat seperti ini kurang menguntungkan pada saat pemijahan karena tempatnya harus benar-benar aman. Dalam usaha pembenihan biasanya pembudidaya menggunakan kolam yang terbuat dari semen.

Untuk memijahkan Manvis, induk yang digunakan harus yang benar-benar sudah dewasa dan matang gonad agar didapatkan anakan yang bagus dan sehat. Manvis siap memijah setelah berumur 9 – 12 bulan. Setiap kali memijah dapat menghasilkan 300 – 400 anakan. Pemilihan Induk Jenis kelamin Manvis dapat dibedakan dengan melihat bentuk morfologisnya :

1. Induk Jantan
* Pada umur yang sama, ukuran lebih besar daripada induk betina
* Jika dilihat dari atas, perut terlihat ramping
* Kepala agak besar, bagian antara mulut dan punggung berbentuk garis cembung.
2. Induk Betina
* Ukuran relative lebih kecil dari induk jantan
* Perut agak membesar dan menonjol
* Kepala agak kecil dan bagian antara sirip punggung dan kepala membentuk garis lurus

Tempat Memijah :

Ada beberapa tempat yang dapat digunakan, antara lain kolam dan akuarium.

1. Kolam

  • Kolam dibuat dari tanah biasa atau dari semen, berukuran 1 m2 dengan kedalaman 80 cm
  • Kolam yang masih baru tidak boleh langsung digunakan, bau semennya harus dihilangkan terlebih dahulu dengan cara direndam dengan air selama beberapa hari.
  • Setelah bau semen hilang, kolam direndam lagi dengan air biasa selama 4 hari, selanjutnya dibersihkan lagi dan dikeringkan.
  • Pada saat akan dipakai kolam diisi dengan air tawar sampai kedalaman 30 – 60 cm
  • Bila kolam pemijahan terletak di tempat terbuka, perlu diberi tanaman air, misalnya enceng gondok.

2. Akuarium

  • Akuarium yang digunakan berukuran sedang yaitu panjang 100 cm, lebar 75 cm dan tinggi 50 cm dengan ketebalan kaca 5 – mm.
  • Sebelum digunakan Akuarium dibersihkan terlebih dahulu, kemudian diisi air tawar dengan ketinggian 30 – 40 cm.
  • Di dalam akuarium diberi pecahan genteng untuk memberi bau air yang alami
  • Pada wadah pemijahan dimasukkan pula potongan paralon atau benda lain yang permukaannya halus sebagai tempat menempelnya telur yang telah dibuahi
  • Selanjutnya induk yang telah siap pijah dimasukkan ke dalam akuarium secara berpasangan.
  • Air yang digunakan untuk pemijahan harus jernih dengan keasaman normal (pH 6,8 – 8,2) dan suhunya antara 24 – 26 0C. apabila menggunakan air yang berasal dari PAM atau sumur hendaknya diendapkan terlebih dahulu selama ± 24 jam.
  • Saat memijah Manvis memerlukan tempat yang gelap, oleh karena itu wadah pemijahan diberi tanaman air yang mengapung (enceng gondok) dan dindingnya ditutup dengan kertas warna gelap.

Manvis memijah pada malam hari ketika suasana tenang dan sepi. Telur yang telah dibuahi menempel pada tempat yang telah disediakan. Setelah memijah induk secara bergantian menjaga telurnya dengan mengibaskan ekornya untuk menambah oksigen.

Telur akan menetas 24 – 36 jam dari saat dibuahi pada suhu optimal, antara 27-31 0C. Burayak sudah tumbuh sirip pada saat umur 40 – 60 jam. Pada masa tersebut makanannya masih berupa egg yolk sac (kuning telur) dan belum memerlukan makanan tambahan.

Pada umur 3-4 hari, persediaan egg yolk sac sudah habis. Burayak mulai aktif berenang dan induk mulai melepaskannya. Pada saat ini merupakan saat yang rawan dalam usaha budidaya manvis. Biasanya burayak segera dipindahkan ke kolam pendederan yang ukurannya lebih besar dan diberikan pakan alami berupa rotifera.

Pembesaran manvis dilakukan dalam kolam yang berukuran 3 – 4 m2 dengan kedalaman air 30 cm. Padat tebar untuk setiap kolam 150 – 200 ekor atau disesuaikan dengan ukuran kolam yang ada. Untuk memberi suasan teduh dan tenang, kolam diberi peneduh berupa enceng gondok, anyaman bambu atau seng.

Pakan yang diberikan sesuai dengan bukaan mulut dan umur burayak manvis. Pada minggu pertama biasanya masih diberi pakan rotifera, setelah agak besar diberi kutu air yang disaring, kemudian diberi kutu air yang tidak disaring dan terakhir diberi pakan cacing sutera atau rambut. Setelah mencapai usia dewasa, manvis dapat diberi pakan buatan/ pelet secara bergantian dengan cacing sutera.

Sumber : Ditjen Perikanan Budidaya