Archive for the ‘ Perikanan Budidaya ’ Category

Inilah Malung, Ikan Unik Ikon Masyarakat Jambi

JAMBI, JITUNEWS.COM – Jambi juga punya ikan unik, namanya ikan malung. Ikan malung merupakan jenis ikan laut berbentuk pipih dan panjang. Ukurannya bisa mencapai 1,5 meter. Sayangnya, hasil laut itu masih jarang dikonsumsi dan dimanfaatkan masyarakat.

Dikutip dari detikfood, untuk mengolah ikan malung ini, menurut Slamet, juru masak dari Jambi, pembuatannya sama seperti ikan biasa.

Awalnya ikan dibersihkan dan diberi air jeruk nipis agar tak amis. Isi perut ikan juga dikeluarkan sebelum pengolahan.

Kemudian baru diberi bumbu dari bawang merah, bawang putih, kunyit, kemiri dan garam. Karena panjang, ikan perlu dipanggang di arang yang dibuat secara khusus seukurannya. Prosesnya pun bisa 2 jam.

Saat dimakan, daging ikan ini terasa empuk enak. Meski begitu, perlu sedikit berhati-hati dengan duri kecil dalam daging ikan.

Keunikan lainnya dari ikan malung adalah keberadaan gelembung atau pelampung ikan dari bagian perut. Gelembung ikan yang punya nama pelupo ini memiliki ukuran panjang dan berwarna putih gading transparan.

Gelembung tidak dibuang saat membersihkan ikan. Justru bagian ini paling banyak dicari di sana daripada konsumsi daging ikan malung. Sebab dipakai orang Tionghoa untuk obat. Bahkan sampai diekspor ke China.

Gelembung ikan pun harganya jauh lebih mahal dibanding ikan malung. Bisa sampai Rp 2-7 juta per kilogram!

Tapi pelupo yang sudah dikeringkan itu bisa dimanfaatkan untuk olahan makanan juga. Misalnya gorengan atau isian sup. Setelah diolah, pelupo yang kering kaku jadi lunak dan agak kenyal.

Penulis : Riana

Ribuan Ton Ikan Mati di Sungai Kampar


PANGKALANKERINCI -Sudah beberapa hari ini masyarakat Sungai Ara, Kecamatan Pelalawan, kehilangan mata pencariannya. Pasalnya, satu-satunya Sungai Kampar yang menjadi mata pencarian mereka kini terkena limbah. Akibatnya, dalam beberapa hari ini ribuan ekor mati mengapung di sungai. Bahkan, ikan-ikan yang masuk dalam kerambah miliki warga pun kedapatan mati.

“Semejak hari Rabu (10/12) lalu, banyak ikan yang mengapung di tengah Sungai Ara. Kalau dihitung-ditung, warga sudah mendapatkan ratusan kilogram ikan yang mengapung di sungai,” terang Kepala Desa Sungai Ara Jepri dihubungi awak media melalui telepon genggamnya, Jumat (12/12).
Masyarakat yang kebanyakan bermata pencarian sebagai penangkap ikan atau nelayan merasa dirugikan dengan kondisi ini. Pasalnya, ikan-ikan yang mati itu diduga kuat akibat limbah dari perusahaan.
“Tapi kalau perusahaannya sendiri, saya tak tahu, Pak. Tapi yang jelas banyaknya ikan yang mati ini akibat limbah dan ini jelas merugikan masyarakat yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan,” katanya.
Matinya ikan-ikan yang diduga kuat akibat limbah itu, merupakan yang pertama kali terjadi di desa mereka. Jelas hal ini menimbulkan keganjilan bagi masyarakat, karena tak biasanya peristiwa ini terjadi di Sungai Ara.
“Jadi ikan-ikan itu seperti mati, Pak, tapi saat kami tangkap ternyata masih hidup. Tapi banyak juga ikan yang kami temukan sudah mati di sungai,” katanya.
Terpisah, Kepala Badan Lingkungan Hidup Pelalawan Syamsul Anwar saat dikonfirmasikan mengatakan, pihaknya sudah mengetahui hal itu. Bahkan bersama Dinas Peternakan sudah turun ke lokasi untuk mengambil sampelnya.
“Kami sudah turun ke lokasi bersama Dinas Peternakan. Kalau Disnak mengambil sampel ikan yang matinya, sedangkan kami mengambil sampel airnya untuk diuji di laboratorium,” ujarnya.
Ditanya soal kematian ratusan ikan itu akibat limbah perusahaan, Syamsul tak mau menjawab hal itu. Menurutnya, pihaknya baru dapat kepastian soal kematian ikan-ikan tersebut jika hasil uji sampel air yang diambil itu sudah diketahui hasilnya. Pasalnya, uji sampel air yang berasal dari Sungai Ara itu dibawa ke Pekanbaru.
“Paling tidak, butuh waktu seminggu untuk kita ketahui hasilnya. Nanti, hasilnya akan kita sinergikan dengan hasil dari Dinas Perikanan yang mengambil sampel ikannya. Dari situ, baru kita ketahui apakah ikan-ikan itu mati karena limbah perusahaan atau karena apa,” ungkapnya.
Terpisah, Ketua Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia saat dimintai komentarnya soal ini menginginkan ketegasan dari Pemkab Pelalawan dalam hal ini instansi yang berwenang yakni BLH Pelalawan dan Dinas Perikanan. Artinya, jika limbah ini ternyata berasal dari perusahaan maka BLH dan Disnak harus bisa tegas pada perusahaan tersebut.
“Jangan seperti yang sudah-sudah, jika ada persoalan seperti ini tak pernah tuntas menyelesaikannnya. Jadi saya harapkan, Pemkab Pelalawan dalam hal ini BLH dan Disnak harus terbuka dan transparan penyebab kematian ikan-ikan di Sungai Ara. Apalagi selama ini kita tahu bahwa Sungai Ara merupakan mata pencaharian bagi amsyarakat, kasihan jika sumber hidup masyarakat malah diracuni limbah dari perusahaan yang tak tanggungjawab,” tutupnya.(rtc/mel)

Sumber : riaumandiri.com

BUDIDAYA IKAN : Jogja Penghasil ‘Juara’

JOGJA-Hobi memelihara ikan, membawa keberuntungan bagi Indro Mur. Apalagi saat ini Jogja menjadi pusat penjualan bibit ikan hias yang ternama. Ikan hias apa yang bisa mendatangkan untung?

Saat ini ada bermacam-macam jenis ikan hias. Salah satunya adalah ikan mas koki. Ikan mas hias (Carassius auratus auratus) adalah ikan air tawar dari familia Cyprinidae dan ordo Cypriniformes. Ikan ini adalah salah satu ikan yang pertama kali berhasil didomestikasi, dipelihara, dan dibudidayakan manusia. Kini ikan mas hias atau kadang disebut secara singkat sebagai ikan mas, adalah salah satu ikan hias akuarium yang paling populer. Varietas Carassius auratus auratus yang telah didomestikasi dan menampilkan mutasi tubuh bersirip ekor ganda dan berbentuk memampat bulat disebut ikan mas koki.

Saat ini, permintaan bibit ikan ini sangatlah besar. Sayangnya, peternak di Jogja tidak mampu untuk memenuhi permintaan tersebut. Indro Mur atau yang biasa disapa Gatot mengungkapkan, setiap kali menyetor bibit ikan mas koki ke pedagang, dalam waktu singkat akan ludes. Tingginya permintaan ini tidak diimbangi dengan suplai. Sementara jumlah peternak ikan mas koki tidak sampai 30 orang.

Ketua Komunitas Mondolan, komunitas peternak, pedagang dan penghobi ikan mas koki kepada Harianjogja.com beberapa waktu lalu mengatakan ikan mas koki Jogja dikenal sangat bagus dibandingkan dengan ikan mas koki dari Tulungagung. Adapun Tulungagung merupakan penghasil bibit ikan.

Sedangkan Jogja dikenal sebagi penghasil ikan mas koki yang bagus. Bahkan seringkali menjadi juara dalam setiap kontes. Gatot sendiri mengaku sering meraih juara dalam berbagai kontes ikan mas koki. Bahkan ikan dari Jogja juga sering menjadi juara dalam setiap lomba.

”Tetapi memang pemiliknya sudah bukan orang Jogja, tetapi ikan tersebut diternak oleh peternak Jogja,” katanya.

Menurut Gatot, peternak Jogja bisa dikatakan sangat kreatif. Mereka bisa menghasilkan bibit berkualitas. Bahkan Gatot juga sering membuat bibit-bibit unggul. Misalnya, ikan mas koki hitam yang sering dia sebut ikan kelelawar yang beberapa kali menyabet gelar juara dalam kontes ikan. Ikan mas koki, kata Gatot bisa dibentuk sesuai keinginan.

“Misalnya, kita ingin ikan dengan kepala yang menonjol atau ikan dengan warna yang hitam. Itu bisa dilakukan kalau tahu caranya Tetapi prosesnya memang lama,” katanya.

Perhitungan Bisnis Ikan Mas Koki
Indukan 3 ekor (satu betina, dua jantan) harga per ekor Rp200.000
Setiap dua minggu sekali indukan akan bertelur dan menghasilkan bibit 3.000-6.000
Harga jual bibit usia 2 bulan Rp300 per ekor
Harga pakan Rp300.000 per bulan

Pengeluaran
Bibit Rp600.000
Makan Rp300.000
Pendapatan
10.000 x Rp300 = Rp3 juta
Pendapatan Rp3 juta-Rp900.000 = Rp2,1 juta

Sumber : Harian Jogja

Ribuan ikan mati diduga akibat limbah pabrik


Purbalingga - Ribuan ikan yang dibudidayakan dalam kolam milik warga Kelurahan Penambongan, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, mati diduga akibat limbah pabrik yang masuk ke aliran Kali Keramaian.

“Kasus matinya ikan-ikan dalam kolam pertama kali diketahui pada Sabtu (20/9). Saat itu, saya melihat banyak ikan yang terapung di dalam kolam,” kata salah seorang pemilik kolam, Mardoko, di Kelurahan Penambong RT 03 RW 03, Kabupaten Purbalingga, Selasa.

Dia pun segera berupaya menyelamatkan ikan-ikan itu, namun hanya sedikit yang bisa diselamatkan.

Ia menduga aliran air Kali Keramaian yang digunakan warga setempat untuk mengairi kolam telah tercemar oleh limbah sejumlah pabrik di bagian hulu.

Oleh karena itu, dia mengharapkan Pemerintah Kabupaten Purbalingga dan kepolisian menindaklanjuti kasus dugaan pencemaran tersebut.

“Akibat kejadian ini, kami menderita kerugian yang sangat besar karena dari dua kolam milik saya saja, kerugiannya mencapai Rp20 juta karena berisi sekitar dua kuintal ikan gurami dan nila. Itu belum termasuk kolam-kolam milik warga lainnya,” kata dia menjelaskan.

Terkait kasus matinya ribuan ikan yang mati di kolam warga Kelurahan Penambongan, Bupati Purbalingga Sukento Rido Marhaendrianto segera mendatangi lokasi kejadian.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati meminta dinas terkait untuk segera menindaklanjuti hasil temuan itu agar warga tidak mengalami kerugian yang lebih besar.

“Saya minta, Dinas Peternakan Dan Perikanan (Dinnakan) serta Badan Lingkungan Hidup (BLH) untuk segera melakukan investigasi lebih lanjut guna mengetahui apakah sumber dari kejadian tersebut akibat dari pencemaran air limbah pabrik atau ada sebab lain,” katanya.

“Kami akan segera menyelidiki kejadian tersebut,” tegasnya.

Editor: Fitri Supratiwi
Sumber : ANTARANEWS.COM

Potensi Ikan Hias di Riau Belum Dikembangkan


PEKANBARU: Geografi Riau yang terdiri dari lautan dan sungai-sungai diyakini memiliki potensi besar ikan hias yang cantik-cantik. Hanya saja selama ini potensi ikan hias tersebut belum dikembangkan secara profesional.

Salah satu jenis ikan hias yang saat ini banyak diburu para penggemar ikan hias adalah jenis Botia. Ikan hias yang berasal dari Kabupaten Kuantan Sengingi (Kuansing) ini memiliki sisik berwarna kuning motif belang sehingga menarik untuk dilihat dan dipelihara.

Kepala Dinas Perikanan dan kelautan Riau, Surya Maulana dalam keterangannya Senin (22/9) di Pekanbaru mengatakan, meskipun ikan Botia itu berasal dari Riau, namun Riau sendiri tidak begitu tertarik untuk mengembangkannya.

Malahan provinsi di luar Riau kini sedang berusaha mengembangkannya, seperti yang dilakukan di Bogor dan jambi. “Ini tentunya sangat memprihatinkan, karena yang mengembangkan ikan hias asli Riau justru provinsi tetangga,” jelasnya.

Karena itu, Surya Maulana mengungkapkan pihaknya akan berusaha mendalami potensi ikan hias asli Riau dan berupaya untuk emngembangkannya. Dia yakin, ikan-ikan hias asli Riau jika dikembangkan lagi akan bisa bernilai ekonomis tinggi.

Selain mengembangkan ikan hias asli Riau, pihaknya juga akan melakukan pengawasan terhadap potensi ikan hias yang ada agar tidak dicapok daerah lain. “Kita akan berusaha mengembangkannya sendiri agar nanti bisa menjadi komoditi unggulan daerah ini,” ungkapnya.(rgi/ad)

Sumber : RIAU.GO.ID