Archive for the ‘ Rumput Laut ’ Category

Menjelajah Bawah Laut Selat Bali yang Eksotis

Bali – Menjelajahi alam bawah laut Selat Bali yang terkenal berarus kuat itu ibarat menguji nyali. Apalagi bulan Agustus merupakan periode angin kencang yang mengundang gelombang tinggi. Namun saya mengabaikan bayangan ngeri tentang Selat Bali. Bersama tujuh kawan, saya berhasrat menaklukkannya pada Ahad, tepat pada Hari Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 2014.

Ada dua spot di Selat Bali yang kini dikembangkan sebagai wisata bawah laut, yakni di Desa Bansring, Kecamatan Wongsorejo, dan Pulau Tabuhan. Kedua spot wisata yang baru populer tiga bulan lalu tersebut dikelola oleh Kelompok Nelayan Samudera Bakti.

Saya memulai penjelajahan alam bawah laut dari Desa Bansring, sekitar 15 kilometer arah utara Kota Banyuwangi. Sebagai pemula, saya hanya menyelam di permukaan alias snorkeling. Seperangkat alat antara lain snorkel, masker, pelampung, dan sepatu katak saya sewa dengan tarif Rp 25 ribu.

Titik yang saya coba ini memang belum terkenal, seperti Pulau Menjangan, Bali, meski lokasinya sama-sama berada di Selat Bali. Kelebihannya, saya tidak perlu menempuh jauh ke tengah laut seperti di Menjangan untuk snorkeling. Dari pantainya saja, saya sudah bisa melihat terumbu karang yang hidup di balik air laut yang jernih. Terumbu karang di wilayah ini memang tersebar mulai kedalaman setengah meter hingga 30 meter.

Terumbu karang ini pernah hancur akibat pemakaian potasium yang sering dipakai nelayan ikan hias. Banyuwangi memang menjadi pengekspor ikan hias nomor wahid di Jawa Timur, yang rutin mengirim ke Jepang, Taiwan, Cina, hingga Eropa. Sayangnya, nelayan sering menggunakan cara-cara instan untuk mendapatkan ikan hias walau harus dibayar mahal dengan kerusakan ekosistem lautnya.

Menurut Wakil Ketua Kelompok Nelayan Sukirno, baru pada 2008, ada 31 nelayan yang “bertobat”. Mereka menyadari bahwa pemakaian potasium telah menyebabkan terumbu karang rusak, yang efeknya juga mengurangi populasi ikan hias. Mereka lantas membentuk Kelompok Nelayan Samudera Bakti yang berkomitmen berhenti menggunakan potas dan menggantinya dengan jaring yang lebih ramah lingkungan. “Kami juga membuat terumbu karang buatan dan menebarkan benih ikan ke laut,” kata mantan nelayan ikan hias ini.

Upaya itu akhirnya memulihkan populasi ikan hias. Bila sebelumnya penghasilan nelayan hanya Rp 50 ribu sehari, saat ini bisa mencapai Rp 500 ribu. Keberhasilan upaya ini akhirnya menarik nelayan lainnya sehingga ada 150 nelayan yang bergabung.

Saya berenang ke sana-kemari, sesekali menyelam lebih dalam. Menyaksikan terumbu-terumbu karang beraneka warna diterpa matahari. Beberapa jenis ikan, seperti nemo, lion fish, dan kepe merah, seolah menyambut kedatangan saya. Terumbu karang alami itu mulai tumbuh menjadi rumah yang nyaman bagi ratusan jenis ikan. Meski saya juga melihat masih banyak terumbu karang yang rusak sisa eksploitasi besar-besaran.

Berdampingan dengan terumbu karang alami itu, masih terdapat bekas-bekas transplantasi alias terumbu karang buatan yang pernah ditenggelamkan para nelayan. Inilah nilai lebih menyelam di Selat Bali. Selain bisa menikmati keindahan alamnya, saya bisa menyaksikan bagaimana perjuangan para nelayan untuk menyelamatkan biota laut.

Gelombang setinggi 1-1,5 meter disertai arus memang menjadi kesulitan ber-snorkeling di Selat Bali. Sebab, saya harus berenang sekuat tenaga agar tidak terbawa arus terlalu jauh. Termasuk, agar bisa kembali ke pantai. Namun capek dan napas yang ngos-ngosan terbayar lunas dengan rasa takjub karena bisa menyelesaikan spot pertama tanpa hambatan berarti.

Setelah beristirahat setengah jam, saya melanjutkan perjalanan menuju spot kedua ke Pulau Tabuhan. Pulau kosong ini terletak sekitar 5 mil dari spot pertama. Letaknya berada di antara Pulau Bali dan Pulau Jawa. Saya dan rombongan menyewa kapal nelayan berkapasitas sepuluh orang, dengan tarif sewa Rp 500 ribu.

Ini pengalaman pertama juga menyeberangi Selat Bali dengan kapal kecil. Merasakan goyangan kuat karena ombak besar mempermainkan kapal yang saya naiki, belum lagi angin kencang yang menampar tubuh saya. Empasan ombak yang menghantam kapal mengguyur tubuh saya. Dalam situasi seperti ini, bersikap tenang alias tak panik adalah obat yang manjur. Toh, ada pelampung yang sudah saya kenakan sehingga tetap merasa aman.

Pulau Tabuhan dengan pasirnya yang bersih dan putih berkilau dari kejauhan. Semakin dekat, air lautnya berwarna kehijauan bening, sehingga saya bisa melongok ribuan ganggang laut yang melambai-lambai. Setelah kapal berhenti, saya tak sabar langsung memakai snorkel dan berenang. Dari pantai hingga berjarak 300-an meter, kedalaman lautnya hanya sepaha, cukup oke untuk penyelam pemula dan anak-anak sekalipun.

Pulau Tabuhan seluas 5 hektare ini hanya dihuni sekelompok burung pantai berwarna putih. Ditumbuhi lebat pepohonan dengan sebuah mercusuar yang sepertinya sudah tak aktif. Ada pula reruntuhan bangunan dari batu bata, yang menurut para nelayan dibangun pada zaman Belanda. Reruntuhan bangunan yang menghadap persis ke Pulau Bali itu diperkirakan sebagai menara pengintai. Ya, perpaduan yang sempurna: laut yang eksotis dengan pulaunya yang cantik.

Ketua Kelompok Nelayan Samudera Bakti Ikhwan Arief mengatakan, sejak wisata menyelam dibuka tiga bulan lalu, respons pengunjung sangat tinggi. Setiap bulan, mereka melayani sekitar seribu penyelam yang datang dari berbagai kota. “Ada yang dari Surabaya hingga Jakarta,” katanya. Selain snorkeling, mereka juga melayani diving dengan tarif Rp 300 ribu per orang.

Teguh Siswanto, 55 tahun, seorang penyelam, mengatakan dirinya sudah menyelam di 40 lokasi, mulai Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Menurut dia, laut di Banyuwangi sebenarnya punya potensi besar untuk dikembangkan sebagai wisata menyelam, tak kalah dengan Bali atau Lombok. Hanya, laut di Banyuwangi pernah rusak sehingga keanekaragaman biota lautnya tak selengkap di Bali dan Lombok. “Di Bali, biota lautnya sangat dijaga,” kata lelaki asal Banyuwangi ini.

Menurut dia, menyelam adalah salah satu wisata yang banyak diminati wisatawan. Namun syarat untuk mengembangkan wisata ini mutlak harus menjaga keutuhan biota lautnya. Dia mengapresiasi upaya yang dilakukan nelayan Desa Bansring yang mengembangkan wisata menyelam sebagai salah satu penghasilan alternatif.

Ya, saya sepakat dengan Teguh. Laut sangat penting bagi kehidupan manusia dan sebagai penjaga keseimbangan alam. Menyaksikan keindahan biota laut adalah salah satu cara untuk menikmati karunia Tuhan yang tiada taranya itu.

IKA NINGTYAS

Sumber : Tempo.co

Teknik Pembuatan Pupuk Rumput Laut

Rumput laut dapat digunakan untuk pupuk organik bagi tumbuh-tumbuhan.Rumput laut yang merupakan komoditas perikanan yang berupa tumbuhan, sekarang telah banyak dilakukan budidaya di perairan lepas pantai. Berikut teknik pembuatan pupuk dari rumput laut

  1. Rumput laut dalam bentuk padat diawali dengan menghancurkan rumput laut sampai halus. Tujuannya, agar bakteri penghancur dalam proses fermentasi dapat bekerja maksimal. Selain itu, senyawa laktosa (senyawa gula) dapat mudah menyatu;
  2. Semua bahan baku pembuatan pupuk laut itu dicampur dan dimasukkan ke dalam wadah semisal drum, plastik, atau tempat yang memungkinkan berlangsungnya proses fermenatasi kedap udara;
  3. Waktu fermentasi optimal untuk membuat pupuk rumput laut padat itu sekitar dua pekan;
  4. Selain pupuk pada, ada pula pupuk rumput laut cair, Bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat pupuk cair tidak berbeda dengan pupuk padat;
  5. Perbedaan hanya terletak pada proses pembuatan dan lamanya waktu fermentasi. Pupuk rumput laut cair membutuhkan penambahan air dengan waktu fermentasi selam lima hari.

Pupuk Ramah Lingkungan dari Rumput Laut

Berbagai jenis rumput laut yang dianggap tidak memiliki nilai ekonomis ternyata bisa digunakan sebagai bahan baku pupuk organik. Kandungan unsur hara mikro dan makronya lebih tinggi dari pupuk urea.

Lautan menyimpan begitu banyak sumber daya hayati yang bernilai jual tinggi. Selain beragam jenis ikan, kekayaan laut lainnya yang bermanfaat bagi manusia ialah rumput laut. Selama ini, rumput laut banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan, seperti jelly atau agar-agar, roti, salad, saus, dan es krim.

Selain bahan makanan, tumbuhan laut yang termasuk keluarga gangga itu dapat diolah menjadi minuman semisal yoghurt dan sirup. Rumput laut juga kerap diekstrak untuk dijadikan bahan baku farmasi, kosmetika, dan bahan bakar. Karenanya, tidak heran jika rumput laut jenis tertentu banyak dibudidayakan untuk memasok kebutuhan industri.

Menurut peneliti utama bidang produk alam laut dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Rachmaniar Rachmat, ada beberapa jenis rumput laut bernilai ekonomi tinggi dan banyak dibudidayakan di Indonesia. Beberapa di antaranya Eucheuma, Gracilaria, dan Microphylum.

Ada lebih dari 600 spesies rumput laut yang tersebar di perairan Indonesia. Spesies-spesien rumput laut itu digolongkan ke dalam empat kelas, yaitu ganggang merah {Rhodophyceae), ganggang cokelat {Phaeophyceae), ganggang hijau (Chlorophyceae), dan ganggang hijau-biru [Cyanophyceae).

Sayangnya, sebagian besar rumput laut itu belum diteliti dengan lebih mendalam mengenai kandungan zat-zatnya. Alhasil, jenis-jenis rumput laut itu dianggap memiliki nilai ekonomi yang rendah.

Rachmaniar mengatakan kebanyakan rumput laut yang kurang prospektif itu hidup liar di wilayah perairan Indonesia Timur, terutama di sekitar Pulau Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Jumlah rumput laut yang dianggap bernilai ekonomi rendah itu sebenarnya berpeluang untuk dijadikan pupuk yang mengandung unsur hara makro dan mikro cukup tinggi.

Hal itu dapat dibuktikan dari adanya tumpukan limbah rumput laut di lingkungan sekitar industri yang memanfaatkan sumber daya nabati laut itu. Di tumpukan limbah rumput laut yang telah melapuk itu biasanya tumbuh gulma atau beraneka ragam tanaman.

“Hal itu menjadi indikasi rumput laut mengandung senyawa yang bermanfaat bagi tanaman,” ujar Rachmaniar yang juga menjadi Sekretaris Eksekutif Asosiasi Rumput Laut Indonesia.

Karena merupakan limbah industri, tumpukan rumput laut itu sudah terkontaminasi berbagai macam bahan kimia. Alhasil, kandungan pupuk yang dihasilkannya pun turut tercemar.
Berdasarkan hal itu ditelitilah kemungkinan membuat pupuk dari rumput laut yang bebas dari bahan kimia. Rumput laut yang dimanfaatkan ialah rumput laut yang dianggap bernilai ekoriomi rendah.
Berdasarkan hasil penelitian Rachmaniar diketahui rumput laut jenis Turbinaria dan Sargasum memiliki unsur hara makro dan mikro yang cukup lengkap. Unsur hara makro di antaranya nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, magnesium, dan sulfur. Sedangkan unsur hara mikro antara lain besi, mangan, tembaga, seng, molibden, boron, dan klor.

“Unsur-unsur yang terkandung dalam pupuk rumput laut itu lebih banyak daripada pupuk urea yang dijual di pasaran,” klaim Rachmaniar.

Lebih lanjut, Rachmaniar menjelaskan pembuatan pupuk rumput laut dalam bentuk padat diawali dengan menghancurkan rumput laut sampai halus.
Tujuannya, agar bakteri penghancur dalam proses fermentasi dapat bekerja maksimal. Selain itu, senyawa laktosan (senyawa gula) dapat mudah menyatu.
Semua bahan baku pembuatan pupuk rumput laut itu dicampur dan dimasukkan ke dalam wadah semisal drum, plastik, atau tempat yang memungkinkan berlangsungnya proses fermentasi kedap udara. Apabila selama fermentasi terdapat udara, maka proses pembuatan pupuk pun akan gagal. Waktu fermentasi optimal untuk membuat pupuk rumput laut padat itu sekitar dua pekan. Setelah itu, pupuk dapat diberikan pada tanaman sayur, buah, dan bunga.

Selain pupuk padat, ada pula pupuk rumput laut cair. Bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat pupuk cair tidak berbeda dengan pupuk padat.

Perbedaan hanya terletak pada proses pembuatan dan lamanya waktu fermentasi. Pupuk rumput laut cair membutuhkan penambahan air dengan waktu fermentasi selama lima hari.

Lebih Subur

Rachmaniar memaparkan berdasarkan hasil uji antara pupuk rumput laut baik padat, cair, maupun campuran keduanya dengan urea diketahui kondisi tanaman menggunakan pupuk rumput laut lebih subur. Dalam uji coba penyemprotan pupuk rumput laut dilakukan dua kali selama masa tanam.

Secara umum, tanaman yang diberi pupuk rumput laut menghasilkan batang lebih besar dan tegak, urat daun terasa kasar, batang tidak mudah patah, dan daun berwarna hijau serta tidak mudah sobek. Sedangkan tanaman yang disiangi pupuk urea memiliki batang yang mudah rebah dan patah, daun berwarna hijau tua, urat daun terasa halus, serta mudah sobek.

Uji efektivitas pupuk rumput laut pada tanaman selama empat pekan memberikan hasil tinggi tanaman yang diberi pupuk padat mencapai 32,8 sentimeter. Sedangkan tanaman yang diberi pupuk urea tingginya mencapai 32,2 sentimeter.

Panjang daun tanaman yang menggunakan pupuk rumput laut padat mencapai 13,7 sentimeter, sedangkan daun tanaman yang menggunakan pupuk urea memiliki panjang 9,3 sentimeter.

“Dari hasil uji efektivitas dapat ditarik benang merah bahwa dengan melihat kekuatan tanaman, ketahanan terhadap lingkungan, serta ukuran tanaman, maka paling efektif menggunakan pupuk rumput laut padat,” ujar Rachmaniar. Formula pupuk rumput laut itu rencananya akan dikomersialkan lewat suatu perusahaan swasta pada tahun ini.

Menurut doktor bidang kimia bahan alam dari Universitas Padjajaran, Bandung, itu meski memiliki banyak kelebihan, pupuk rumput laut juga memunyai kelemahan. Daun tanaman yang diberi pupuk rumput laut banyak yang berlubang karena dimakan ulat ketimbang daun tanaman yang diberi pupuk berbahan kimia.
Namun, di sisi lain, hal itu bisa menjadi indikator bahwa tanaman tidak membahayakan kesehatan manusia ketika dikonsumsi. “Kalau ulat saja takut mengonsumsi kimia, tentu ada sebabnya. Hal itu menujukkan tanaman yang diberi pupuk berbahan kimia sebenarnya berbahaya jika dikonsumsi manusia” ujar Rachmaniar.

Sumber : Koran Jakarta

Rahasia Rumput Laut

Unit Kegiatan Kemahasiswaan (UKK) Seaweed satu-satunya unit kegiatan kemahasiswaan yang berkecimpung di bidang rumput laut, khususnya di Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Kelompok studi ini mengkaji segala sesuatu yang berhubungan dengan rumput laut secara luas, baik riset maupun kewirausahaan.

UKK Seaweed tidak hanya bergerak di lingkungan mahasiswa, tetapi juga bergerak di tataran publik. Membantu masyarakat pemerhati rumput laut, baik dalam pembudidayaan maupun pengolahan produk rumput laut, serta pertemuan-pertemuan workshop dari para peneliti rumput laut. UKK Seaweed berlokasi di Jalan Ngesrep Timur V Semarang berhasil berprestasi di bidang program Mahasiswa Wirausaha Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti). Kami mengajukan wirausaha produk rumput laut yaitu seaweed jelly drink.

Produknya tidak kalah bagusnya dari perusahaan besar, rasa dan bahan memiliki keunggulan tersendiri walaupun hanya olahan rumah tangga. UKK Seaweed juga bekerja sama dengan SMK 1 Jepara dalam membuat inovasi produk makanan seperti dodol, es krim, permen, sirup, donat, seaweed crispy, manisan rumput laut, nata de seaweed, kue, kecap, bakso dan lainnya. Semua bahannya dari rumput laut.

Tak sedikit anggota UKK Seaweed juga bergerak memanfaatkan rumput laut sebagai biogas, bioetanol, biodiesel, antibakteri, pulp, dan pupuk. Selain bergerak di Indonesia, UKK Seaweed berharap dapat dikenal dan bekerja sama dengan pihak-pihak di lingkup nasional ataupun internasional karena kami yakin rumput laut memiliki po-tensj besar dalam segala bidang.

Rumput laut mujarab buat menghasilkan produk makanan dengan rasa lebih mantap, kenyal, dan gurih. Sekarang rekan kami mulai berwirausaha jelly drink rumput laut. Setelah penghasilannya terbilang memuaskan, ia pun berhasil membuat rumput laut lebih dikenal. Namun, penjualannya masih di kalangan teman-teman mahasiswa.

Rencana bisnis kami, ingin memasar- kan produk rumput laut hingga tingkat Asia. Laut Indonesia luas dan panen rumput laut hanya 42 hari, jadi produk ini jelas akan membuat Indonesia lebih maju.

Rumput mengandung komponen unik yang kuat berupafncoidan, alginates, dan polifenol. Komposisi tersebut mirip air susu alias bredst milk sehingga kerap disebut brown milk.

Fncoidan adalah polisakarida kompleks pada dinding sel rumput laut. Berbagai penelitian modern membuktikan fucoidan yang merupakan komponen terbesar di dalam tumbuhan taut mampu meningkatkan imunitas dengan merangsang produksi sel-sel imun.

Ia juga membantu melawan virus dan bakteri, melawan alergi, dan menghambat penggumpalan darah sehingga memperkecil risiko stroke dan serangan jantung. Fucoidan mampu menurunkan kadar kolesterol darah, menurunkantekanan darah tinggi, menstabilkan kadar gula atau glukosa darah dengan memperlambat pelepasan glukosa ke dalam darah. Selain itu, fucoidan mampu meredakan gangguan pencernaan dengan mencegah masuknya bakteri Helicobacter pylori, meningkatkan fungsi lever, menjaga kelembapan dan keken-cangan kulit, serta menghambat pertumbuhan sel abnormal.

Penelitian menunjukkan polisakarida dalam rumput laut bisa merusak sel-sel kanker. Itu sebabnya, dahulu di Mesir digunakan untuk terapi kanker payudara. Rumput laut juga merupakan multivitamin alami yang memiliki aktivitas antitumor secara konsisten.

Rumput laut tidak mengandung lemak yang bermakna, tetapi kaya selenium yang bersifat antioksidan.

Ini artinya rumput laut mampu membantu tubuh mencegah penyerapan zat kimia beracun, termasuk sampah radioaktif dan polusi.

Sangat dianjurkan mengonsumsi rumput laut selama menjalani kemoter-api. Nutrisi yang optimal dalam rumput laut membuatnya mampu memberikan fungsi imun terbaik, merevitalisasi tubuh, mendukung kesehatan jantung, memperbaiki pencernaan, menguatkan sistem saraf, dan menyeimbangkan hormon.

Bahan pangan ini juga baik untuk menyehatkan rambut serta memperkuat kuku dan gigi. Selain untuk industri makanan, agar-agar juga digunakan dalam industri farmasi atau bahan baku kapsul pembungkus obat-obatan dan vitamin, campuranobat pencahar dan pasta gigi, industri kosmetika sebagai bahan baku lipstik, sabun, salep, lotion dan krim, serta industri lain. Kandungan gizinya yaitu vitamin, mineral colloidal, iodin, asam lemak esensial, asam amino, dan berbagai enzim.

Rumput laut adalah salah satu makanan tradisional yang populer di Jepang. Salah satunya, wakame. Bagi yang pernah tinggal di Jepang tentunya mengetahuinya. Wakame atau Undariapinnatifida sering disajikan sebagai salad, sup, dan penghias sajian makanan.

Beberapa studi menyebutkan wakame mempunyai beberapa manfaat kesehatan, mencegah hiperlipidemia atau kelebihan lemak, dan mencegah terjadinya kanker berdasarkan percobaan pada tikus, serta sebagai bahan yang dapat menurunkan tekanan darah manusia.

Tanpa kita sadari, sekarang banyak masyarakat Indonesia mulai memanfaatkan rumput laut menjadi bahan atau bumbu campuran dalam aneka makanan tradisional Indonesia. Salah satunya yaitu pecel rumput laut, perpaduan makanan tradisional Indonesia dengan rumput laut.

Pecel rumput laut ini menjadi salah satu makanan favorit di Teluk Awur, Jepara. Tak terlalu beda dengan pecel umumnya, sajian ini lebih komplet, yaitu sayur, bumbu kacang atau bumbu pecel, dan tentunya rumput laut. Rumput lautyang digunakan ialah Gracilaria dan Caulerpa. Rasanya crispy dan lebih kenyal, dijamin ketagihan, deh!

Kandungan vitaminnya, A, C, zat besi, yodium juga kalsium serta kadar serat tinggi. Selain itu, masyarakat juga mulai mengombinasikannya dalam bakso tahu rumput laut serta bakso rumput laut. Rasanya lebih kenyal, halus, dan tidak amis. Mau coba? (M-2)

Sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia