Archive for the ‘ Sidat ’ Category

Ikan Sidat Komoditas Potensial

Ikan sidat ditemukan di perairan laut, payau dan air tawar dengan penyebaran di dunia 18 spesies, 12 spesies di antaranya tersebar di perairan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia yang dianggap sebagai daerah asal-usul (home land) dari jenis Anguilidae (ikan sidat dunia).
Ikan sidat mempunyai siklus hidup reproduksi yang unik dan rumit, di mana ikan sidat dewasa yang telah matang gonad akan bermigrasi ke laut dan berpijah di kedalaman laut lebih dari 300 m. Setelah telur menetas, larva sidat (leptocephalus) yang berbentuk seperti pita transparan, akan terbawa oleh arus laut dan kembali ke perairan pantai. Sebelum memasuki perairan pantai, larva akan bermetamorfosa menjadi glass eel. Hingga berumur sekitar 5-7 bulan, glass eel akan terbawa oleh air pasang surut, memasuki perairan estuari, sungai dan berkembang menjadi elver. Sekitar 1-3 tahun, elver akan tumbuh dan berkembang menjadi sidat dewasa, di mana setelah matang gonad, akan kembali ke laut untuk berpijah. Semua sidat berpijah hanya sekali dan kemudian mati. Durasi hidup ikan sidat cukup panjang bisa mencapai 10-20 tahun, namun ini tergantung dari jenis dan lokasi.

Informasi Pasar Dunia

Sidat Jadi Primadona

Ikan sidat (Anguilla sp) mungkin tidak di kenal banyak orang di sini. Tapi, dia berbagai negara ikan sidat njadi makanan primadona yang harganya sangat mahal. Sidat adalah sejenis belut, namun bentuknya lebih panjang dan besar. Ada yang mencapai 50 cm. Memang tidak enak dilihat. Tapi siapa sangka, konsumen asing aggap cita rasa ikan sidat enak dan memiliki kandungan gizi yang tinggi. Kalau di restoran Jepang, ikan ini sebutannya Unagi, dengan harga sangat mahal. Dan sidat inilah menjadi salah satu primadona yang terus dikembangkan dan diteliti di BLUPPB Karawang.

Guna melihat secara langsung komoditi ini, belum lama ini Pusat Data Statistik, dan Informasi (Pusdatin) menyelenggarakan Kunjungan Pers Komuditas Wartawan Kelautan dan Perikanan (Komunikan) ke balai ini. Dihadapan 30 wartawan ibukota, IMade Suitha, Kepala BLUPPB Karawang menjelaskan budidaya ikan sidat di Indonesia baru dimulai sekitar tahun 2007 oleh Satuan Kerja Tambak Pandu Karawang.

“Melihat permintaan pasar dunia yang sangat besar mendorong kami untuk melakukan penelitian budi daya ikan sidat diBLUPPB Karawang,”jelasnya.

Sekarang, pengenbangan budidaya ikan sidat di Pandu Karawang sangat berhasil. Kendati Jepang dan Thailand cukuip lama membudidayakan, kedua negara menggunakan benih dari Indonesia.

BLUPPB Karawang, menurutnya, siap memberikan batuan dalam bentuk teknologi budidaya bagi masyarakat yang ingin berwirausaha. Saat ini, beberapa kelompok masyarakat dan perorangan telah melakukan pembudidayaan ikan sidat di tambak Pandu Karawang,

“Kami menyediakan lahan yang bisa disewa maksimal dua tahun. Setelah itu mereka harus mandiri, untuk memberi kesempatan pada masyarakat lain yang ingin belajar budi daya ikan sidat,” jelasnya.

Sidat kini menjadi salah satu peluang bisnis yang sangat besar. Ekspor ikan sidat teutama ke Mancau, Taiwan, Jepang, China dan Hongkong, Potensi pasar negara lain yang belum digarap antara lain Singapura, Jerman, Italia, Belanda dan Amerika Serikat.

Harga ikan sidat memang sangat menggiurkan, di tingkat petani ikan sidat utuk elver dijual mencapai Rp 250 ribu per kg. Untuk ukuran 10-20 gram berkisar antara Rp. 20 ribu sampai Rp. 40 ribu per kg,sedangkan ukuran konsumsi lebih dari 500 gram untuk jenid Anguilla bicolor pada pasar lokal rata-rata Rp. 75.000/kg, jenis Anguilla marmorata Rp. 125 ribu Rp. 175 ribu per kg.

Sidat juga banyak keunggulan, diantaranya terdapat kandungan vitamin A, kandungan EPA rata-rata lebih tinggi DHA ikan sidat 1.337 mg/100 gram mengalahkan ikan salmon yang hanya tercatat 820 mg/100 gram atautenggiri 748 mg/100 gram.

Sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia