Archive for the ‘ Udang ’ Category

Yogyakarta – Pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bakal menggenjot produksi udang nasional di semester II-2014 demi mencapai target 690 ribu ton hingga akhir tahun. Alasannya, pada awal semester sebelumnya, kawasan andalan penghasil udang seperti di daerah pantai utara (pantura) Jawa sempat mengalami kendala banjir sehingga sepanjang semester I-2014 lalu produksi udang Indonesia menembus angka 300 ribu ton.

“Semester I-2014 sekitar 150 ribu ton untuk vaname. Kalau total dengan udang windu dan lain-lain sekitar 300 ribu ton. Di awal tahun kemarin ada banjir, khususnya di daerah pantura (pantai utara Jawa), itu cukup mengurangi produksi di awal semester pertama. Tapi peluang yang sangat besar di semester II ini kita genjot, karena sekarang sudah panen yang sangat banyak di Pantura, Sulawesi Selatan, Lampung, termasuk di Kalimantan,” kata Dirjen Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto kepada pers dalam acara panen Udang Galah bersama Padi (UGADI) di Yogyakarta, dua pekan lalu.

Menurut Slamet, peningkatan produksi udang nasional, salah satunya dengan menggenjot produktivitas udang galah yang hidup di air tawar. UGADI sendiri merupakan bentuk inovasi teknologi dengan cara budidaya udang galah yang dilakukan berbarengan dengan menanam padi di sawah. Saat ini model percontohan UGADI telah dilaksanakan sejak tahun 2013 di 6 lokasi di Provinsi Jawa Barat (Kab. Cianjur, Garut), Jawa Tengah (Kab. Sragen, Temanggung), Jawa Timur (Kab. Malang) dan Banten (Kab. Pandeglang). Dan di Tahun 2014 sedang dilaksanakan percontohan UGADI di Prov. Jawa Tengah (Kab. Boyolali), DI Yogyakarta (Kab. Sleman) dan NTB (Kab. Lombok Tengah dan Lombok Timur).

“Ada pengakuan para pembudidaya UGADI. Padinya bisa untuk makan sehari-hari. Ikannya atau udangnya bisa untuk beli sepeda motor. Bisa untuk membangun rumah. Katanya seperti itu. Dengan percontohan UGADI ini, bisa dicontoh pembudidaya dan petani, lebih luas lagi. Dapat memberi peningkatan pendapatan dan menyerap tenaga kerja dari masyarakat,” tambahnya.

Kegiatan UGADI ini, sambung Slamet, didukung penuh oleh Kementerian Pertanian. Apalagi, petani mendapatan hasil panen yang lebih besar dari udang yang dipelihara tersebut. “Masyarakat tidak perlu khawatir, dengan lahan 1-2% saja, tidak akan mempengaruhi produktivitas padi. Malah akan meningkat dari 6,5 ton menjadi 6,6 ton per hektar. Ikan akan memakan hama di pangkal dan rumpun padi. Di samping itu, padi akan lebih banyak rumpunnya, tikus tidak akan ada selama pemeliharaannya benar. Padi yang dihasilkan juga organik. Padi organik dihasilkan bersama-sama ikan,” jelas Slamet.

Dirjen Slamet juga menjelaskan, kendati baru proyek percontohan, keberhasilan panen UGADI di beberapa daerah, diharapkan dapat menginspirasi para petani dan pembudidaya untuk mengulang kesuksesan tersebut. “Dan saya kira ini akan terus bertambah. Karena di beberapa tempat, bukan hanya udang dengan padi, tapi mereka mengintegrasikan beberapa komoditas. Ini jadi tren sekarang,” ujarnya.

Memang, sebagaimana dijelaskan Slamet Soebjakto, biaya sistem UGADI lebih besar ketimbang budidaya udang galah secara monokultur. Hal ini disebabkan adanya tambahan biaya untuk bertani padi. “Tapi pendapatannya lebih tinggi UGADI. Karena ada hasil padinya. Angka kehidupannya lebih tinggi di UGADI. Karena udang ini ada tempat berlindung dan mencari makan. Termasuk pemanfaatan akan lebih efisien dibanding monokultur. Biayanya sekitar 15% lebih efisien UGADI. Untuk 1 hektar biayanya sekitar Rp 10 jutaan. Untuk beli bibitnya dan sebagainya. Keuntungannya bisa sampai Rp 60 jutaan,” tukasnya.

Dijelaskan, budidaya UGADI dengan manfaatkan lahan sawah irigasi dinilai mampu meningkatkan produksi udang galah dan pendapatan masyarakat termasuk pendapatan daerah. Budidaya ini dilaksanakan dalam rangka Gerakan Sejuta Lahan Mina Padi (GENTANADI) untuk mendukung ketahanan pangan dan gizi.

“GENTANADI adalah usaha budidaya yang dilakukan dalam upaya pengoptimalan produktivitas lahan sawah secara terpadu dengan ikan/udang dalam rangka meningkatkan performa sawah melalui peningkatan pendapatan petani sawah dengan tambahan pendapatan dari ikan/udang. Sehingga kebutuhan gizi masyarakat terpenuhi tanpa mengurangi produktivitas padi bahkan meningkatkannya,” tutur Slamet.

Di lain pihak, lanjutnya, budidaya UGADI merupakan salah satu langkah guna meminimalisasi alih fungsi lahan padi. Seperti sudah banyak diketahui bahwa banyak lahan padi yang berubah fungsi dan menggerus lahan sawah yang mengancam ketahanan pangan nasional. Dengan sistem budidaya terintegrasi seperti UGADI diharapkan alih fungsi lahan sawah dapat berkurang dan dapat meningkatkan produktivitas pembudidaya dan meningkatkan ketahanan pangan nasional.

Slamet menambahkan bahwa nilai strategis dari MINAPADI/UGADI antara lain: meningkatnya nilai pendapatan Rp. 30-60 jt/ha sawah, sehingga dapat mencegah alih fungsi lahan sawah karena banyak lahan padi/sawah yang setiap tahun berubah fungsi, mencegah urbanisasi (menjamin tersedianya tenaga pengolah sawah), menambah lahan produksi ikan/udang dalam hamparan luas (potensi 4 juta hektar) untuk capaian target produksi ikan nasional.

Sumber : Neraca.co.id

UDANG BARU : VANAME GLOBAL GEN

Sejalan dengan program peningkatan produksi perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menetapkan target produksi perikanan sebesar 22,54 juta ton pada tahun 2014, dimana sebanyak 16,89 juta ton berasal dari perikanan budidaya. Kementerian ini telah menetapkan 10 komoditas unggulan perikanan budidaya, salah satunya adalah udang. Komoditas ini diproyeksikan mengalami peningkatan produksi tiap tahun sebesar 13% untuk udang windu dan 16% untuk udang vaname. Produksi udang pada tahun 2014 ditargetkan sebesar 699 ribu ton, terdiri atas 188 ribu ton udang windu dan 511 ribu ton udang vaname. Demikian disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad saat melepasan induk udang vaname ”global gen” di Lombok Utara, NTB (22/11).

Menurut data Food and Agricultural Organization (FAO) 2010, Indonesia menempati rangking 4 dunia dengan total ekspor udang vaname sebesar 140 ribu ton untuk tahun 2007. Rangking Indonesia pada tahun 2008 ”naik kelas” menjadi 3 dunia di bawah China dan Thailand karena total ekspor mencapai 168 ribu ton atau naik sebesar 21%. Salah satu upaya menggeser China dan Thailand adalah perakitan jenis-jenis unggul yang tahan penyakit, berkembang cepat dan efisien dalam pemanfaatan pakan. Hasilnya, pelepasan Udang Unggul Vaname Global Gen yang telah memenuhi persyaratan, diyakini dapat menjadi batu loncatan dalam menggalakkan produksi udang vaname kita, tegas Fadel.

Dalam pengembangan usaha perikanan budidaya, penyediaan induk unggul dan benih bermutu merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha. Permasalahan penurunan kualitas, baik induk maupun benihnya masih sering ditemui dan pada akhirnya berdampak terhadap penurunan produktivitas pengembangan usaha budidaya di masyarakat. Dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut, pembenihan secara terkontrol yang menghasilkan benih bermutu serta mengarah kepada produksi benih tahan penyakit harus terus dilakukan, termasuk upaya penelusuran genetik untuk menemukan induk-induk unggul dalam upaya memenuhi permintaan induk berkualitas di masyarakat.

Pelepasan Strain ini mempunyai arti penting dalam rangka mendukung peningkatan produksi budidaya air payau. Dibandingkan dengan jenis udang lainnya yang telah berkembang di Indonesia (seperti udang windu, udang galah), udang vaname Global Gen ini mempunyai keunggulan, khususnya dalam pertumbuhan yang lebih baik dan bebas dari 9 jenis virus yang berbahaya bagi udang. Keberhasilan dalam perakitan strain unggul Udang Vaname Global Gen ini tidak terlepas dari kerja keras tim perekayasa dari PT Bibit Unggul. Usaha pemuliaan yang dilakukan oleh PT Bibit Unggul merupakan yang pertama dilakukan pihak Swasta di Indonesia.

Penyediaan induk unggul harus diikuti dengan produksi benih unggul yang tepat jenis, tepat kualitas dan tepat waktu, serta terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat pembudidaya. Dalam upaya mengembangkan kawasan perikanan budidaya yang terencana, salah satu model pengembangan kawasan yang diterapkan adalah pengembangan kawasan minapolitan. Pengembangan kawasan minapolitan telah akan dilaksanakan pada 41 kawasan, 24 kawasan diantaranya adalah berbasis perikanan budidaya. Lainnya, 9 kawasan untuk perikanan tangkap dan 8 kawasan untuk industri garam. Dalam kunjungan kerjanya ke NTB, Menteri Kelautan dan Perikanan berkesempatan untuk membuka Rapat Kerja Menteri Kelautan dan Perikanan dengan gubernur, bupati/walikota se-NTB dan stakeholders kelautan dan perikanan se-NTB, dan juga melakukanpanen mutiara di PT. Autore Pearl.

Jakarta, 22 November 2010
Kepala Pusat Data, Statistik, dan Informasi

Dr. Soen’an H. Poernomo, M.Ed

Narasumber

  1. Dr. Ktut sugama
    Plt. Dirjen Perikanan Budidaya (HP. 08129516895)
  2. Dr. Enday Kusnendar
    Plt. Kepala Balitbang KP (HP.0811911083)
  3. I Wayan Mertayasa
    Pengelola PT. Bibit Unggul (HP.0811130643)
  4. Dr. Soen’an H. Poernomo, M.Ed
    Kepala Pusat Data Statistik dan Perikanan (HP. 08161933911)

DATA DUKUNG:

  1. 1. Breeding Centre terletak di Desa Rempek, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Timur dengan luas lahan 7.5 Ha pada ketinggian 30 meter dari permukaan laut, pada September tahun 2007 dengan Konsep dasar Seleksi Famili. Pemilihan lokasi berdasarkan beberapa faktor utama, yaitu: * Peta Laut Indonesia No.2 dan No. 3 terlihat bahwa Selat Lombok Makassar ke arah Barat adalah Perairan dangkal (shallow waters) kedalaman hanya antara 50 s.d 70 meter, namun bila kita lihat Selat Lombok ke arah Timur Indonesia termasuk Perairan Laut dalam (Deep Sea waters) dimana banyak nutrisi dan plankton dibawa dari dasar laut (up welling) ke permukaan dari kedalaman 1000 s.d 2000 meter. Kondisi ini adalah prasyarat utama air laut yang cocok untuk kegiatan Breeding. * Lahan memiliki sarana dan prasarana jalan yang memadai untuk menuju airport terdekat yang memakan waktu tempuh tidak lebih dari 1(SATU) Jam perjalanan, ada power Listrik yang cukup memadai untuk menggerakkan mesin-mesin pompa maupun compesor udara. * Lokasi tidak padat pemukiman atau terhindar dari kontaminasi limbah tambak udang atau limbah rumah tangga.
  2. Sumber Daya Genetik yang digunakan dalam program pemuliaan di PT Bibit Unggul berasal dari 5 supplier induk vaname terbaik yang bersertifikat Specific Pathogen Free. Dari 15 batch Sumber Daya Genetik yang berhasil didatangkan, sebanyak 12 batch berkontribusi untuk menghasilkan famili-famili generasi-1 dan sebagian famili-famili generasi-2.
  3. Sejak Januari 2008 sampai sekarang telah dilaksanakan sebanyak 5 kali pemeriksaan kesehatan terhadap populasi udang vaname yang berada di Nuecleus Breeding Centre(NBC) dan Broodstock Multiplication Centre(BMC) dengan hasil negatif untuk 9 virus yang diujikan. Berdasarkan hasil inspeksi tim OIE di Indonesia yang dalam hal ini diwakili oleh Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian Republik Indonesia, bahwa produk udang vaname dari fasilitas NBC dan BMC PT Bibit Unggul telah dinyatakan bebas penyakit dan layak untuk dieksport.
  4. Seleksi famili yang dilakukan di fasilitas NBC terdiri dari beberapa tahap kegiatan. Pertama adalah pemilihan famili-famili umur PostLarva-11 yang akan dilakukan uji performa. Pemilihan famili pada tahap ini berdasarkan sintasan saat pemeliharaan larva, informasi silsilah dan sintasan uji toleransi salinitas rendah. Setelah mencapai ukuran 2 gram, sebanyak 350 ekor udang dari masing-masing family terpilih diberi penanda Elastomer dan selanjutnya dibesarkan dalam kolam uji performa fase 1 (UP-1). Satu kolam UP-1 pada generasi-1 dan generasi -2 masing-masing terdiri dari 18 famili dan 24 famili dengan kepadatan 120 ekor/m2. UP-1 berakhir saat populasi udang mencapai bobot rata-rata 20 gram. Seleksi diantara famili digunakan pada tahap akhir UP-1 untuk menyeleksi udang yang akan dibesarkan dalam tahap uji performa fase 2 (UP-2). Udang-udang yang terseleksi di kolam UP-2 kemudian dibesarkan sampai berukuran 35 gram. Diakhir UP-2, Seleksi diantara famili digunakan juga untuk memilih individu-individu yang akan dipelihara sampai siap menjadi induk untuk generasi selanjutnya.
  5. Semua kegiatan tersebut termasuk dalam uji multi lokasi di beberapa wilayah di Indonesia seperti di Jawa Timur, Lampung, Sumatera Utara dan Sulawesi telah kami lakukan dan hasilnya telah dilaporkan dalam proposal yang kami ajukan pada sidang Tim Penilai pada tanggal 26 Agustus 2010 di Ruang Rapat Pusat Riset Perikanan Budidaya, Jl.Ragunan No.20, Pasar Minggu, Jakarta, dari hasil sidang tersebut diputuskan Induk Udang Vaname produk Perusahaan kami layak untuk dilepas sebagai Varietas Induk Udang Vaname.
  6. Fasilitas modul BMC yang dimiliki PT Bibit Unggul terdiri dari empat modul pembesaran di dua lokasi yang berbeda. Sebanyak 4 modul BMC yang sudah ada sekarang memiliki kapasitas produksi induk udang vaname sebanyak 60,000-75,000 ekor/tahun.
    Kapasitas produksi saat ini bisa ditingkatkan menjadi 2-3 kali lipat dalam waktu 6-12 bulan ke depan. Jika terjadi lonjakan permintaan induk dalam waktu 18-24 bulan kedepan, maka jumlah induk vaname yang mampu dipasok dari fasilitas BMC sebanyak 300.000 ekor/tahun.