Kebutuhan ikan bagi penduduk Indonesia pada tahun 2015 diperkirakan 10,5 juta ton atau hampir dua kali lipat dari potensi stok ikan laut Indonesia saat ini. Pemenuhan kebutuhan protein hewani tersebut tentu sudah tidak mungkin lagi dipenuhi oleh ikan hasil tangkapan yang menunjukkan penurunan jumlah dari tahun ke tahun (Khairuman dkk, 2003). Untuk itu kebutuhan ikan harus dipasok dari hasil budidaya sehingga pengembangan budidaya ikan-ikan ekonomis penting menempati posisi yang sangat strategis. Salah satu pengembangan budidaya ikan ekonomis penting di Indonesia yaitu budidaya air tawar khususnya budidaya gurami (Osphronemous goramy Lac).

Gurami merupakan jenis ikan air tawar ekonomis penting yang sudah dikenal dan diperdagangkan secara luas di Indonesia serta komoditas unggulan selain patin, lele, nila dan mas. Gurami mempunyai harga cukup tinggi dan peluang pasar ekspor terbuka lebar. Di Indonesia, masyarakat Jawa menyebutnya gurami atau gurameh; di Sumatera dikenal sebagai ikan kalau, kala atau kaloi; sementara di Kalimantan disebut dengan ikan kala atau kalai (Khairuman dkk, 2003). Menurut the Complete Aquarist’s Guide to Freshwater yang diedit John Gilbert disebut gurami asli dari Kepulauan Sunda Besar.

Teknologi pembenihan dan pembesaran ikan gurami sudah dikuasai dengan baik dan sudah disebarluaskan ke berbagai daerah di tanah air. Namun teknologi yang sudah dikuasai tersebut masih banyak persoalan yang timbul yaitu masalah lingkungan dan serangan penyakit. Berbagai persoalan dalam budidaya gurami dapat diatasi dengan baik melalui pendekatan segmentasi atau pemilahan (Agus, 2001 dan Sitanggang dkk, 2007). Segmen-segmen usaha (pemeliharaan sistem berjenjang); mulai dari pemeliharaan larva, pendederan hingga pembesaran yang dapat mempersingkat periode usaha (Khairuman dkk, 2003).

Usaha budidaya gurami dapat dilakukan di kolam-kolam tradisional dan lahan-lahan sempit perkotaan. Jika usaha ini dilakukan dengan baik, maka kontinuitas produksi ikan gurami yang sering kali menjadi persoalan di restauran-restauran dan rumah makan-rumah makan atau konsumen ikan kiranya akan teratasi. Maka, usaha budidaya gurami di samping meningkatkan pendapatan bagi pemeliharanya sekaligus juga dapat menghasilkan devisa bagi negara (Sitanggang dkk, 2007).

Klasifikasi ikan gurami adalah sebagai berikut:

Klas : Pisces

Sub Kelas : Teleostei

Ordo : Labyrinthici

Sub Ordo : Anabantoidae

Famili : Anabantidae

Genus : Osphronemus

Species : Osphronemus goramy (Lacepede)

Jenis gurami yang sudah dikenal masyarakat diantaranya: gurami angsa, gurami jepun, blausafir, paris, bastar dan porselen. Ciri-ciri umum ikan gurami yaitu tubuh agak panjang, pipih, mulut kecil, memiliki garis lateral tunggal, sisiknya stenoid dan sirip ekornya membulat (Khairuman dkk, 2003).

Sumber : Ditjen Perikanan Budidaya

Comments

comments