Manvis yang juga dikenal dengan nama Angelfish merupakan salah satu jenis ikan hias yang digemari oleh masyarakat di Indonesia. Ikan ini berasal dari sungai Amazone di Amerika Selatan. Manvis memiliki bentuk dan warna tubuh serta gerakan yang sangat indah dan menarik sehingga sangat cocok untuk dipelihara di dalam akuarium sebagai pajangan. Budidaya Manvis di Indonesia telah berkembang dengan pesat baik sebagai kesenangan maupun usaha yang bersifat komersial.

Secara alami Manvis hidup di perairan yang tenang dan banyak tanamannya. Jenis ikan ini cocok sekali dipelihara di dalam akuarium bersama jenis ikan yang gerakannya lamban. Manvis sangat sayang terhadap anaknya dan bila ada gangguan dari luar manvis melindungi anaknya dengan jalan menyimpan di dalam mulutnya. Sifat seperti ini kurang menguntungkan pada saat pemijahan karena tempatnya harus benar-benar aman. Dalam usaha pembenihan biasanya pembudidaya menggunakan kolam yang terbuat dari semen.

Untuk memijahkan Manvis, induk yang digunakan harus yang benar-benar sudah dewasa dan matang gonad agar didapatkan anakan yang bagus dan sehat. Manvis siap memijah setelah berumur 9 – 12 bulan. Setiap kali memijah dapat menghasilkan 300 – 400 anakan. Pemilihan Induk Jenis kelamin Manvis dapat dibedakan dengan melihat bentuk morfologisnya :

1. Induk Jantan
* Pada umur yang sama, ukuran lebih besar daripada induk betina
* Jika dilihat dari atas, perut terlihat ramping
* Kepala agak besar, bagian antara mulut dan punggung berbentuk garis cembung.
2. Induk Betina
* Ukuran relative lebih kecil dari induk jantan
* Perut agak membesar dan menonjol
* Kepala agak kecil dan bagian antara sirip punggung dan kepala membentuk garis lurus

Tempat Memijah :

Ada beberapa tempat yang dapat digunakan, antara lain kolam dan akuarium.

1. Kolam

  • Kolam dibuat dari tanah biasa atau dari semen, berukuran 1 m2 dengan kedalaman 80 cm
  • Kolam yang masih baru tidak boleh langsung digunakan, bau semennya harus dihilangkan terlebih dahulu dengan cara direndam dengan air selama beberapa hari.
  • Setelah bau semen hilang, kolam direndam lagi dengan air biasa selama 4 hari, selanjutnya dibersihkan lagi dan dikeringkan.
  • Pada saat akan dipakai kolam diisi dengan air tawar sampai kedalaman 30 – 60 cm
  • Bila kolam pemijahan terletak di tempat terbuka, perlu diberi tanaman air, misalnya enceng gondok.

2. Akuarium

  • Akuarium yang digunakan berukuran sedang yaitu panjang 100 cm, lebar 75 cm dan tinggi 50 cm dengan ketebalan kaca 5 – mm.
  • Sebelum digunakan Akuarium dibersihkan terlebih dahulu, kemudian diisi air tawar dengan ketinggian 30 – 40 cm.
  • Di dalam akuarium diberi pecahan genteng untuk memberi bau air yang alami
  • Pada wadah pemijahan dimasukkan pula potongan paralon atau benda lain yang permukaannya halus sebagai tempat menempelnya telur yang telah dibuahi
  • Selanjutnya induk yang telah siap pijah dimasukkan ke dalam akuarium secara berpasangan.
  • Air yang digunakan untuk pemijahan harus jernih dengan keasaman normal (pH 6,8 – 8,2) dan suhunya antara 24 – 26 0C. apabila menggunakan air yang berasal dari PAM atau sumur hendaknya diendapkan terlebih dahulu selama ± 24 jam.
  • Saat memijah Manvis memerlukan tempat yang gelap, oleh karena itu wadah pemijahan diberi tanaman air yang mengapung (enceng gondok) dan dindingnya ditutup dengan kertas warna gelap.

Manvis memijah pada malam hari ketika suasana tenang dan sepi. Telur yang telah dibuahi menempel pada tempat yang telah disediakan. Setelah memijah induk secara bergantian menjaga telurnya dengan mengibaskan ekornya untuk menambah oksigen.

Telur akan menetas 24 – 36 jam dari saat dibuahi pada suhu optimal, antara 27-31 0C. Burayak sudah tumbuh sirip pada saat umur 40 – 60 jam. Pada masa tersebut makanannya masih berupa egg yolk sac (kuning telur) dan belum memerlukan makanan tambahan.

Pada umur 3-4 hari, persediaan egg yolk sac sudah habis. Burayak mulai aktif berenang dan induk mulai melepaskannya. Pada saat ini merupakan saat yang rawan dalam usaha budidaya manvis. Biasanya burayak segera dipindahkan ke kolam pendederan yang ukurannya lebih besar dan diberikan pakan alami berupa rotifera.

Pembesaran manvis dilakukan dalam kolam yang berukuran 3 – 4 m2 dengan kedalaman air 30 cm. Padat tebar untuk setiap kolam 150 – 200 ekor atau disesuaikan dengan ukuran kolam yang ada. Untuk memberi suasan teduh dan tenang, kolam diberi peneduh berupa enceng gondok, anyaman bambu atau seng.

Pakan yang diberikan sesuai dengan bukaan mulut dan umur burayak manvis. Pada minggu pertama biasanya masih diberi pakan rotifera, setelah agak besar diberi kutu air yang disaring, kemudian diberi kutu air yang tidak disaring dan terakhir diberi pakan cacing sutera atau rambut. Setelah mencapai usia dewasa, manvis dapat diberi pakan buatan/ pelet secara bergantian dengan cacing sutera.

Sumber : Ditjen Perikanan Budidaya

Comments

comments