Rumput laut merupakan salah satu komoditas unggulan yang diharapkan dapat menjadi tulang punggung dalam mencapai produksi perikanan terbesar pada tahun 2015. Rumput laut merupakan komoditas yang produksinya sangat besar bahkan sekitar 30 persen dari total produksi perikanan budidaya adalah rumput laut. Pada tahun 2009 produksi rumput laut secara nasional telah mencapai 2.963.556 ton. Dengan produksi sebesar itu rumput laut menyumbangkan volume produksi nasional sebesar hampir 2/3 dari total produksi nasional yang volumenya sebesar 4.708.565 ton.

Rumput laut memiliki kandungan esensial yang sangat lengkap, yaitu air, protein, karbohidrat, lemak, serat kasar, abu, enzim, asam nukleat, asam amino, vitamin (A,B,C,D, E dan K), makro mineral seperti nitrogen, oksigen, kalsium, selenium serta mikro mineral semacam zat besi, magnesium dan natrium. Dalam sebuah tulisan yang pernah dimuat oleh website kementerian kelautan dan perikanan , manfaat dari rumput laut antara lain :
Sebagai Bahan obat-obatan (anticoagulant, antibiotics, antihehmethes, antihypertensive agent, pengurang cholesterol, dilatory agent, dan insektisida).
Mampu meningkatkan sistem kerja hormonal, limfatik, dan juga saraf, dengan kandungan gizinya yang tinggi
Meningkatkan fungsi pertahanan tubuh, memperbaiki sistem kerja jantung dan peredaran darah, serta sistem pencernaan.
Obat tradisional untuk batuk, asma, bronkhitis, TBC, cacingan, sakit perut, demam, rematik, bahkan dipercaya dapat meningkatkan daya seksual.
Kandungan yodiumnya diperlukan tubuh untuk mencegah penyakit gondok.
Kandungan klorofil rumput laut bersifat antikarsinogenik, kandungan serat, selenium dan seng yang tinggi pada rumput laut dapat mereduksi estrogen. Disinyalir level estrogen yang terlalu tinggi dapat mendorong timbulnya kanker, sehingga konsumsi rumput laut memperkecil resiko kanker bahkan mengobatinya.
Kandungan vitamin C dan antioksidannya dapat melawan radikal bebas.
Kaya akan kandungan serat yang dapat mencegah kanker usus besar, melancarkan pencernaan, meningkatkan kadar air dalam feses.
Membantu metabolisme lemak, sehingga menurunkan kadar kolesterol darah dan gula darah.
Rumput laut juga membantu pengobatan tukak lambung, radang usus besar, susah buang air besar dan gangguan pencernaan lainnya.
Dapat membantu penyerapan kelebihan garam pada tubuh.
Baik untuk diet, mengurangi resiko obesitas, serat pada rumput laut bersifat mengenyangkan dan kandungan karbohidratnya sukar dicerna sehingga akan menyebabkan rasa kenyang lebih lama.
Anti oksidan yang berperan dalam penyembuhan dan peremajaan kulit. Vitamin A (beta carotene) dan vitamin C nya bekerja dalam memelihara kolagen, sedangkan kandungan protein dari rumput laut penting untuk membentuk jaringan baru pada kulit. Sehingga Mencegah penuaan dini.
Mengandung kalsium sepuluh kali lebih tinggi dibandingkan dengan susu, sehingga rumput laut sangat tepat dikonsumsi untuk mengurangi dan mencegah gejala osteoporosis.
Rumput laut pada awal perkembangannya hanya terdapat di beberapa provinsi. Produksi terbesar tentu saja ada di provinsi sulawesi selatan. Namun seiring dengan perkembangan budidaya rumput laut itu sendiri dan teknik budidaya yang mudah, membuat perkembangan rumput laut menjadi sangat pesat. Saat ini rumput laut sudah dapat dibudidayakan hampir diseluruh provinsi Indonesia. Produksi rumput laut memang masih menjadi milik provinsi yang ada di pulau sulawesi. Perlahan tapi pasti beberapa provinsi di luar sulawesi mulai memproduksi rumput laut dan hasil produksi sangat lumayan besar. Contohnya adalah jawa timur, produksi rumput lautnya mengalami kenaikan yang cukup fantastis pada beberapa tahun belakangan ini.
Rumput laut yang saat ini berkembang dan dibudidayakan oleh para pembudidaya Indonesia ada dua jenis, yaitu Euchema contonii dan Gracilaria sp. Kedua jenis rumput laut ini dikembangkan pada media air yang berbeda dan kegunaan atau olahannya pun berbeda. Euchema cottonii dibudidayakan dengan media air laut sementara Gracilaria sp dibudidayakan pada media air payau yang biasanya berupa tambak. Metode dan teknik budidaya pada rumput laut ada tiga cara saat ini, yaitu metode lepas dasar, metode rakit dan metode long line.
Berdasarkan hasil kompilasi data statistik pada tingkat pusat dan sudah dilakukan validasi dan scrutinize maka 10 provinsi terbesar penghasil rumput laut pada tahun 2009, yaitu :

1. Provinsi Sulawesi Selatan
Provinsi Sulawesi Selatan sejak dulu memang terkenal sebagai penghasil rumput laut nasional. Provinsi yang saat ini terkenal dengan slogannya untuk mengembalikan produksi udang dan bandeng sebagai produksi unggulannya selain rumput laut, memang sangat ngotot untuk terus berpacu memproduksi rumput laut dan menjadi penghasil rumput laut nomor satu di Indonesia. Provinsi ini juga merupakan penghasil rumput laut jenis gracilaria nomor satu di Indonesia dan belum ada yang mampu mengimbangi produksi gracilaria milik provinsi Sulawesi Selatan.

2. Provinsi Sulawesi Tengah
Kalau provinsi sulawesi adalah penghasil nomor satu rumput laut untuk jenis gracilaria maka provinsi sulawesi tengah adalah penghasil rumput laut nomor satu untuk jenis euchema cottonii untuk saat ini. Produksinya yang sebesar 713.562 ton pada tahun 2009 ini adalah berasal dari budidaya rumput laut jenis euchema cottonii. Tekad provinsi ini untuk menjadi penghasil rumput laut nomor satu secara nasional akhirnya kesampaian. Dalam kurun waktu dua tahun ini, provinsi ini sudah mampu melewati saudara tuanya dalam hal rumput laut, provinsi sulawesi selatan.

3. Provinsi Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Timur adalah provinsi penghasil rumput laut terbesar dalam beberapa tahun, utamanya untuk jenis euchema cottonii. Namun akibat adanya pencemaran air laut pada kabupaten penghasil rumput laut di provinsi ini maka pada tahun 2009 ini, provinsi nusa tenggara timur mengalami penurunan produksi rumput yang sangat drastis akibat adanya musibah pencemaran yang merusak perairan budidaya rumput laut.

4. Provinsi Jawa Timur
Perlahan tapi pasti provinsi di luar pulau sulawesi dan nusa tenggara mulai unjuk gigi akan produksi rumput lautnya. Salah satunya adalah provinsi jawa timur. Dengan potensi perairan lautnya yang sangat cocok untuk pengembangan budidaya rumput laut maka tidaklah mengherankan jika kemudian jawa timur menjelma menjadi salah satu lumbung produksi rumput laut nasional. Pada tahun 2009 produksi rumput laut jawa timur meningkat sangat tajam. Pada tahun 2008, produksi rumput lautnya sebesar 74.823 ton lalu naik drastis pada tahun 2009 menjadi sebesar 340.238 ton.

5. Provinsi Sulawesi Tenggara
Seperti pada provinsi-provinsi di pulau sulawesi lainnya, provinsi sulawesi tenggara juga mengembangkan rumput laut jenis euchema cottonii. Walaupun tidaklah sebesar produksi rumput laut pada provinsi sulawesi selatan dan sulawesi tengah, tapi produksi rumput laut pada provinsi ulawesi tenggara tidaklah dapat dipandang remeh. Dengan produksinya sebesar 185.229 ton pada tahun 2009 ini tentu bukanlah angka yang kecil. Pada tahun 2010 ini, provinsi sulawesi tenggara berharap akan semakin tinggi produksi rumput lautnya dan bisa menyaingi provinsi sulawesi selatan dan provinsi sulawesi tengah.

6. Provinsi Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Barat terkenal dengan produksi udangnya dan merupakan salah satu penghasil udang yang besar secara nasional. Akan tetapi, hal ini tidak menghalangi provinsi ini untuk mengembangkan rumput laut. Produksi memang masih kalah dibandingkan saudaranya provinsi nusa tenggara timur. Provinsi yang terkenal dengan pariwisata tiga gilinya ini pada tahun 2009 produksi rumput laut sudah mencapai 147.251 ton. Angka ini akan terus ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang.

7. Provinsi Bali
Bali yang terkenal dengan kepariwisataannya, pada tahun 2009 produksi rumput laut adalah sebesar 135.811 ton. Ini naik dibanding tahun 2008 yang sebesar 129.095 ton. Dengan produksi yang sebesar 135.811 ton pada tahun 2009 ini, provinsi Bali menempati urutan ketujuh sebagai penghasil rumput laut secara nasional.

8. Provinsi Gorontalo
Gorontalo adalah termasuk provinsi muda dibandingkan dengan provinsi lainnya. Namun dengan usia mudanya tidak membuat provinsi ini kalah bersaing dalam menghasilkan rumput laut. Memang jika dibandingkan dengan provinsi lainnya di pulau sulawesi produksi rumput lautnya jauh tertinggal. Dengan produksi sebesar 48.280 ton pada tahun 2009 adalah suatu prestasi tersendiri jika melihat kenyataan bahwa provinsi ini masih berusia muda.

9. Provinsi Maluku
Maluku sangat terkenal dengan produksi mutiaranya yang sudah menembus pasar dunia. Disamping produksi mutiaranya yang diakui dunia kualitasnya ternyata provinsi maluku yang bentuknya berpulau-pulau, memiliki potensi untuk pengembangan rumput. Perkembanngannya selama lima tahun terakhir ini cukup menggembirakan. Pada tahun 2009 provinsi maluku produksi rumput lautnya telah mencapai 47.783 ton.

10. Provinsi Jawa Barat
Jawa barat sebenarnya terkenal akan produksi perikanan budidaya air tawarnya dan merupakan penghasil ikan air tawar terbesar secara nasional. Namun secara diam-diam provinsi ini ternyata menyimpan potensi pengembangan budidaya rumput laut dan jawa barat merupakan penghasil rumput laut nomor dua untuk jenis Gracilaria sp. Yah, sebagian besar hasil produksi rumput laut jawa barat adalah jenis gracilaria. Dari volume produksi rumput laut yang sebesar 13.213 ton, 95 persennya adalah jenis Euchema cottonii sedangkan sisanya adalah jenis Gracilaria sp.
Itulah 10 (sepuluh) provinsi penghasil rumput laut terbesar di Indonesia berdasarkan data nasional hasil validasi dan scrutinize pada tingkat pusat untuk data nasional tahun 2009.

Sumber : Ditjen Perikanan Budidaya

Comments

comments