Danau/waduk pada umunya dimanfaatkan sebagai pencegah banjir, pembangkit tenaga listrik, pensuplai air bagi kebutuhan irigasi pertanian, kegiatan perikanan dan untuk kegiatan pariwisata. Danau/waduk merupakan perairan tertutup yang keberadaanya telah memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya. Dengan adanya berbagai aktivitas tersebut akan memberikan dampak tersendiri bagi kualitas perairan waduk, terutama fitoplankton sebagai produsen primer perairan yang berperan mendukung kehidupan organisme air lainnya (ikan). Salah satu pemanfaatannya yaitu kegiatan budidaya ikan sistem karamba.

Sifat perairan danau/waduk yang masih dianggap sebagai common property (milik bersama) dan open access (sifat terbuka) menyebabkan pertumbuhan KJA di berbagai tempat berkembang sangat pesat dan cenderung tidak terkontrol dan tak terkendali. Maraknya KJA menghasilkan permasalahan tersendiri bagi lingkungan yaitu akan menghasilkan sejumlah limbah organik (terutama yang mengandung unsur nitrogen dan fosfor) yang besar akibat pemberian pakan yang tidak efektif dan efisien sehingga terjadi sisa pakan yang menumpuk di dasar perairan. Pada saat jumlahnya melampaui batas tertentu, limbah tersebut akan menyebabkan pencemaran danau/waduk. Pencemaran perairan yang diakibatkan oleh kegiatan pertanian, pariwisata dan perikanan dapat memacu peningkatan kandungan bahan organik yang pada akhirnya menimbulkan proses penyuburan perairan atau sering disebut eutrofikasi. Akibat yang ditimbulkan dari penyuburan perairan yaitu tidak terkendalinya perkembangbiakan tumbuhan air seperti enceng gondok (Eichornia crassipes) dan ganggang rantai (Hydrilla).

Berkaitan dengan kenyataan tersebut di atas dan manfaat danau yang besar bagi masyarakat sekitar serta kondisi perairan yang sudah terganggu khususnya masalah pencemaran, untuk menjaga agar kondisi waduk tidak terus menurun maka upaya pengelolaan yang perlu dilakukan di bidang perikanan budidaya yaitu menerapkan perikanan budidaya sistem KJA yang berbasis trophic level (Trophic Level Based Aquaculture). Maka tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui penerapan budidaya perikanan sistem KJA yang berbasis trophic level untuk mencegah eutrofikasi.

Eutrofikasi adalah proses pengayaan (enrichment) sistem biologi oleh elemen-elemen nutrisi (unsur hara) terutama oleh nitrogen dan fosforus (Barus, 2002). Dampaknya yaitu peningkatan produksi dan biomassa alga, perifiton dan biomassa tanaman air yang lebih tinggi yang disimilasi oleh peningkatan unsur-unsur tersebut. Penyebab eutrofikasi menurut Morse et al. (1993 dalam Saefumillah, 2003), 10% berasal dari proses alamiah di lingkungan air itu sendiri, 7% dari industri, 11% dari detergen, 17% dari pupuk pertanian, 23% dari limbah manusia dan 32% dari limbah peternakan. Menurut Azwar dkk (2004), jumlah pakan sistem KJA yang diberikan per hari mencapai 3,3% bobot ikan dan dari jumlah pakan yang diberikan tersebut ada bagian yang tidak dikonsumsi mencapai 20–25% pakan yang dikonsumsi diekskresikan ke lingkungan.

Eutrofik merupakan kondisi perairan yang kaya akan unsur hara. Peningkatan unsur hara ini akan memacu pertumbuhan fitoplankton yang cepat dan berakibat pada peningkatan turbiditas perairan yang akan menghambat pertumbuhan produsen-produsen bentik, memutus rantai makanan dan hilangnya habitat bagi beberapa spesies (Nebel and Wright, 1993). Nitrogen dan fosfor merupakan nutrien yang berperan cukup dominan dalam kaitan dengan produktivitas (Sawyer et al, 1994). Unsur N dan P biasanya menjadi unsur utama dalam produktivitas primer (fitoplankton). Hampir setengah dari fosfor yang tekandung dalam limbah rumah tangga berasal dari detergen (Goldman dan Horne, 1983). Nitrogen dan fosfor ini diperlukan tumbuhan dan produsen primer sebagai unsur pembentuk enzim metabolisme dan penyusun klorofil. Selain itu, kandungan unsur-unsur ini di perairan dapat juga sebagai variabel penentuan kualitas perairan dalam kaitan penyuburan perairan (eutrofikasi). Air berada tingkatan eutrofik jika fosforus (total fosforus) dalam air dalam rentang 35 – 100 µg/l.

Kondisi eutrofik sangat memungkinkan alga untuk tumbuh berkembang dengan pesat (blooming) akibat ketersediaan fosfor yang berlebihan. Perairan dikatakan blooming fitoplankton jika kelimpahan fitoplanktonnya mencapai 5 x 106 sel/l (Goldman dan Horne, 1983). Akibatnya eutrofikasi menjadi masalah bagi perairan danau/waduk yang dikenal dengan algal bloom. Hal ini dikenali dengan warna air yang menjadi kehijauan, berbau tidak sedap dan kekeruhannya menjadi semakin meningkat serta banyak enceng gondok yang bertebaran di danau/waduk. Kualitas air di perairan danau/waduk menjadi sangat rendah yang diikuti oleh rendahnya konsentrasi oksigen terlarut, bahkan sampai batas nol. Hal ini menyebabkan ikan dan spesies lainnya tidak bisa tumbuh dengan baik pada akhirnya terjadi kematian massal ikan. Permasalahan lain yaitu Cyanobacteria (blue-green algae) yang diketahui mengandung toksin sehingga membawa resiko bagi kesehatan manusia`dan hewan. Algal bloom juga menyebabkan hilangnya nilai konservasi, estetika, rekreasional dan pariwisata. Jika kondisi ini dibiarkan terus menerus akan menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem danau/waduk. Untuk menjaga agar kondisi waduk tidak terus menurun maka upaya pengelolaan yang perlu dilakukan di bidang perikanan budidaya yaitu menerapkan perikanan budidaya sistem KJA yang berbasis trophic level (Trophic Level Based Aquaculture).

Kegiatan budidaya KJA intensif membawa konsekuensi penggunaan pakan buatan yang besar sehingga hasil produksi dari komoditas ungulan lebih banyak yaitu ikan trophic level tinggi daripada produksi jenis ikan trophic level rendah. Dalam sistem budidaya berbasis trophic level, jumlah ikan pemakan plankton, perifiton dan detritus (trophic level rendah) jauh lebih besar dari pada jumlah ikan karnivora (trophic level tinggi). Budidaya ikan berbasis trophic level yaitu sistem budidaya ikan yang menggabungkan kegiatan usaha budidaya ikan karnivora, omnivora, herbivora, plankton feeder dan detritus feeder dalam perairan umum (danau/waduk). Sisa pakan utuh yang diberikan kepada ikan karnivora akan menjadi pakan bagi ikan omnivora seperti halnya dalam budidaya ikan mas dan nila dalam karamba jaring apung ganda di Waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur. Sisa pakan tersuspensi akan menjadi makanan bagi plankton feeder dan detritus feeder sedangkan sisa pakan yang terurai akan menjadi nutrient dan berfungsi sebagai pupuk bagi kompleks makhluk yang epiphyton yang pada gilirannya akan menjadi mangsa ikan pemakan epiphyton seperti ikan nilem, sepat siam, baronang dan lain-lain serta ikan herbivora. Selain dapat memanfaatkan pakan yang tersisa, budidaya perikanan berbasis trophic level akan berfungsi pula sebagai pembersih air (Cholik dkk, 2005).

Prinsip budidaya ikan berbasis trophic level yaitu semua nutrien limbah budidaya yang jumlahnya lebih banyak daripada nutrien yang diretensi menjadi daging ikan, dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya kembali. Budidaya ikan berbasis trophic level dapat menghasilkan komoditas utama (yang diberi pellet dan bernilai ekonomis tinggi) dan komoditas ber-trophic level rendah dalam jumlah yang besar dari komoditas utama dengan biaya murah sehingga banyak menyerap tenaga kerja dan menyediakan pangan protein bagi banyak orang, mengurangi biaya produksi komoditas utama, berperan meningkatkan daya saing ekspor sebagai pemakan limbah budidaya berperan sebagai “cleaning service” (Harris, 2006).

Danau/waduk berisi variasi jenis ikan yang memiliki tingkat kesukaan pakan berbeda-beda namun bersifat saling menguntungkan. Komposisinya merupakan gabungan dari jenis ikan karnivora, omnivora, herbivora, plankton feeder, dan detritus feeder. Dengan demikian, badan danau/waduk layaknya sebuah kolam besar bermotifkan polikultur. Komoditas utama dan bernilai ekonomis tinggi ditepatkan pada KJA, sedangkan pada hamparan di luarnya berisi komoditas “biaya murah” yang bisa menempatkan ikan tambakan, ikan nilem, iken tawes, ikan sepat siam, ikan mola juga kijing terpilih sebagai penghuninya. Penerapan budidaya perikanan sistem KJA berbasis trophic level di danau/waduk diharapkan akan menciptakan ekosistem perairan waduk terbebas dari berbagai limbah sisa pakan dan kotoran, sekaligus meningkatkan kelestarian lingkungannya.

Akuakultur yang berkelanjutan (sustainable) memiliki ciri-ciri efisien dalam penggunaan sumber daya, produktif dan tidak merusak lingkungan. Hal ini dapat dicapai melalui penerapan konsep sistem perikanan budidaya berbasis tingkat kesukaan pakan (trophic level based aquaculture). Dalam sistem ini, wadah budidaya seperti KJA dipelihara berbagai jenis biota air yang memiliki kesukaan pakan yang berbeda-beda namun bersifat saling menguntungkan. Komposisi biota ditandai dengan dominasi jumlah biota autotrophe dan pemakan plankton disusul dengan biota herbivora, omnivora dan karnivora yang jumlahnya terkecil. Penerapan budidaya perikanan berbasis trophic level akan terciptanya ekosistem perairan danau/waduk terbebas dari berbagai limbah sisa pakan dan kotoran, sekaligus meningkatkan kelestarian lingkungannya.

Saran-saran budidaya ikan sistem KJA dengan trophic level, antara lain, yaitu :

Perlu mengembangkan budidaya ikan sistem KJA di danau/waduk bersifat ramah lingkungan.
Perlu menempatkan KJA yang disesuaikan dengan kondisi fisik waduk dan tata ruang yang ditetapkan.
Perlu digalakkan usaha budidaya ikan yang ber-trophic level rendah (herbivora) dalam rangka mengurangi buangan limbah ke perairan melalui pemberian pakan.

Sumber : Ditjen Perikanan Budidaya

Comments

comments