Semua orang tentu butuh makan. Bahkan menurut Abraham Maslow, pakar psikologi sejak tahun 1959-an, makan dianggap sebagai kebutuhan dasar, atau basic needs, yang ia sebut physiological needs. Hierarchynof needs berikutnya adalah safety needs, love and belonging needs, esteem needs. dan yang cukup tinggi adalah self-actualization needs. Adapun kebutuhan psikologis tertinggi adalah untuk rasa ingin tahu, atau needs to know and understand.

Dalam hal makan, atau lebih khusus makan ikan, dapat kita golongkan menjadi kelompok. Pertama, adalah makan hanya agar merasa kenyang, tidak kelaparan. Kelompok ini mengandalkan tersedianya staple food, atau bahkan pangan pokok. Indikator ini sering dipakai sebagai capaian dalam program ketahanan pangan. Konsumen ekonomi lemah, memilih ikan dalam jumlah yang relatif sedikit. Nasi, jagung, singkong, terigu atau sagu, menjadi dominan. Sambal dan ikan asin hanya sebagai penyerta, agar ada rasa. Yang penting kenyang.

Kelompok kedua, mempertimbangkan rasa. Tentu saja subyektif dan didasarkan atas pengalaman kultural dan sosial. Menurut yang satu, sejenis makanan dirasakan sebagai lezatnya bukan main, sedangkan makanan yang sama, menurut yang lain bisa menjadi bahan cibiran. Tapi secara umum, rasa adalah suatu yang universal, sehingga berbagai jenis makanan telah menjadi menu favorit bagi banyak orang, lintas etnis maupun kultur. Aneka hidangan seafood dinikmati berbagai kalangan dan tingkatan, dari yang kaki lima, sampai ke restoran mewah di hotel bintang lima.

Ketiga, kalangan menengah ke atas, memilih makanan dikaitkan dengan aspek kesehatan. Karbohidrat dan lemak mulai dikurangi, lantaran sebagai biang kegemukan dan sakit jantung. Protein lebih dipilih, karena dipersepsikan tidak membawa akses, atau dampak buruk, bahkan menyumbangan efek pertumbuhan fisik maupun psikologis, serta memelihara atau mengganti bagian tubuh yang memerlukan. Disini ikan menjadi berperan, karena tergolong sebagai pemasok protein hewani. Kalaupun ada kandungan lemak, toh dari jenis yang baik, yaitu berasam lemaktak jenuh, bahkan sangat dibutuhkan untuk kesehatan dan kecerdasan.

Yang keempat juga berkaitan dengan kesehatan, namun yang memiliki tujuan khusus. Misalnya terhadap kualitas anak, terutama usia di bawah lima tahun, bahkan yang masih di dalam kandungan ibunya. Problem yang banyak dinegara berkembang adalah kondisi balita yang mengalami marasmus, atau kekurangan kalori, dan kwasiorkor, atau kekurangan protein. Kasus malnutrisi diduga bisa menyebalkan Indonesia kehilangan lebih dari 200 juta angka potensi IQ per tahun, atau setara dengan 30% dari peluang produktivitas. Ikan tentu bisa menjadi andalan, karena kelengkapan komposisi kandungan asam amino esensial, karena mutu daya cernanya yang tinggi. Ditambah, lagi, asam lemak tak jenuh omega-3 (DHA, docusa hexaenoic acid) terkenal sebegai penyebab pencerdasan anak, dan tidak terdapat pada hewan daratan. Peneletian dan pendapat berbagai pakar di Bristol University, National Institute Of Health, dan Brain Bio Central di AS; Global Seafood For Health di Australia; serta berbagai pakar di Denmark, setelah masing – masing meneliti 9.000 sampai 25.000 sample, mendapatkan hasil bahwa anak yang lebih banyak mengkonsumsi Omega-3, memiliki kecerdasan, motorik dan verbal yang baik.

Bahkan kepada para ibu setelah melahirkan juga dianjurkan untuk banyak mengkonsumsi ikan. Institute Of Epileptology, Kingstone College di London menyampaikan bahwa kandungan Omega-3, selenium, vitamin D dan vitamin B12 pada ikan dapat mengurangi problem postpartum psychology, depresi pasca melahirkan sebagai kelanjutan dari syndroma baby blues, yakni termasuk mood swing, atau perubahan emosi yang sangat cepat. termasuk juga efek perubahan hormonal thyroid, estrogen, dan progesteron. Tidak hanya bagi ibu dan anak, masyarakat pada umumnya juga banyak memahami bahwa asam lemak Omega -3 pada ikan dapat memberikan efek positif pada kesehatan jantung, saluran darah, mengatasi authitis, asma, depresi, dan bahkan jerawat.

Kelompok kuliner yang terakhir adalah berdasarkan kepercayaan spiritual. Di Hongkong dan Shanghai, ikan Kerapu yang berasal dari dasar laut, menjadi sangat mahal harganya karena diyakini dapat membawa keberuntungan bagi orang yang menyantapnya. tentu lima hal di atas bukan multiplr-choice, atau hanya single faktor semata. Tentu banyak pula yang memilih ikan karena rasanya yang nikmat, membuat badan sehat dan mencerdaskan. Paling tidak dalam Al-Quran, surat Al-Maidah, Allah berfirman bahwa” Dihalalkan bagimu hewan buruab di laut, dan makanan dari laut, sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang – orang dalam perjalanan”. Dalam surat lainnya, An-Nahl, Allah juga berfirman” dan Dialah yang menundukkan lautan, agar kamu dapat memakan daging yang segar darinya.

Sumber : Majalah Demersal

Comments

comments