Guna menunjang visi Kementerian Kelautan dan Perikanan menjadikan Indonesia sebagai penghasil ikan terbesar Tahun 2015 yang tentuya dikaitkan dengan program prioritas Kabinet Indonesia Bersatu II berupa kegiatan ketahanan pangan serta sesuai dengan misinya meningkatkan kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan yang merupakan penjabaran dari Triple Track Pembangunan Nasional tentunya perlu dilihat potensi sumber daya yang kita miliki. Diantara potensi yang terbesar yang dimiliki dalam rangka peningkatan produksi tersebut adalah lahan sawah yang selama ini sudah tertata dan memiliki manajemen usaha yang sudah relatif bagus tapi belum dimanfaatkan.

Pemanasan global telah nyata berpengaruh terhadap perubahan iklim yang ditandai dengan perubahan karakteristik musim hujan dan musim kemarau. Hal ini akan menyebabkan terjadinya pergeseran awal musim tanam 2–4 minggu sejak 5 tahun terakhir, bahkan di beberapa daerah di Pantura awal musim tanam mundur hingga 1–2 bulan. Pada daerah-daerah tertentu terjadi tingkat curah hujan yang sangat tinggi, sementara di daerah lain tidak ada hujan sama sekali. Perubahan iklim ini bukan hanya ditandai dengan turunnya hujan musim kemarau di beberapa daerah, tetapi ada juga yang mengalami angin kencang dan gelombang laut yang tinggi. Akibat dari musim yang tidak menentu tersebut, banyak petani yang tidak memetik hasil panennya karena kebanjiran. Hal ini mengakibatkan kerugian seperti : tanaman terserang hama dan penyakit (wereng) dan pertumbuhannya lambat. Anomali iklim tidak dapat dihindari tetapi harus diwaspadai, sehingga dapat mempertahankan kondisi ketahanan pangan yang ada serta berupaya kembali untuk meningkatkan ketahanan pangan tersebut.

Menyikapi anomali iklim dalam rangka keta­hanan pangan dapat dilakukan dengan cara meningkatkan kemampuan pengembangan penelitian un­tuk menghasilkan benih, bibit dan teknologi budidaya yang mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim yang ekstrim, menerapkan pertanian organik yang ramah Iingkungan, serta meningkatkan efektifitas sistem penyuluhan dan penyebaran informasi. Dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan, saat ini telah diluncurkan program Gerakan Sejuta Hektar Mina Padi (GENTANADI). Program ini sangat memungkinkan untuk dilaksanakan karena luas hamparan lahan sawah mempunyai potensi untuk pengembangan mina padi yaitu seluas 1,54 juta hektar di seluruh Indonesia dan baru dimanfaatkan sekitar 7,7%.

Budidaya mina padi adalah budidaya terpadu yang dapat meningkatkan produktivitas lahan sawah, yaitu selain tidak mengurangi hasil padi, juga dapat menghasilkan ikan. Lahan sawah menjadi subur dengan adanya kotoran ikan yang mengandung berbagai unsur hara, sehingga dapat mengurangi penggunaan pupuk. Ikan dapat juga membatasi tumbuhnya tanaman lain yang bersifat kompetitor dengan padi dalam pemanfaatan unsur hara, sehingga dapat juga mengurangi biaya penyiangan tanaman liar.

Sistem mina padi kembali digalakkan karena terbukti meningkatkan produktifitas lahan sawah, meningkatkan kesuburan tanah dan air, sekaligus mengurangi hama penyakit pada tanaman padi. Sistem minapadi ini merupakan integrasi antara penanaman padi dengan pemeliharaan ikan. Selain menyediakan pangan sumber karbohidrat, sistem ini juga menyediakan protein, sehingga cukup baik untuk meningkatkan kebutuhan gizi masayarakat. Dengan teknologi yang tepat, mina padi dapat memberikan keuntungan bagi petani. Keuntungan yang didapat dari usaha tani mina padi berupa peningkatan produksi padi dan ikan, mengurangi penggunaan pestisida, pupuk organik, penyiangan dan pengolahan tanah. Pada saat harga gabah turun, petani tetap mendapatkan pendapatan dari pemeliharaan ikan. Petani dapat memilih jenis ikan yang hendak dibudidayakan untuk mina padi sesuai permintaan pasar.

Mina padi telah lama dikenal di masyarakat tetapi belum berkembang secara intensif dan berkelanjutan. Dengan adanya program Gentanadi, mina padi akan digalakkan kembali dan hal ini didukung dengan tersedianya potensi lahan sawah berpengairan teknis pada kabupaten/kota yang ada. Gerakan mina padi merukan sinergi antara pertanian dan perikanan sekaligus pendapatan petani. Berdasarkan kondisi tersebut, maka perlu dilakukan kegiatan temu lapang mina padi untuk mensosialisasikan program-program mina padi.

Tujuan dari kegiatan temu lapang ini adalah untuk mensosialisasikan program mina padi, membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan berbagai informasi teknologi mina padi, memecahkan dan menampung segala permasalahan yang dihadapi pokdakan khususnya pembudidaya yang terkait dengan usaha mina padi, menjalin hubungan kerjasama yang baik antara intansi pemerintah guna mendorong Program Kementerian Kelautan dan Perikanan yaitu Gerakan Sejuta Hektar Mina Padi (GENTANADI) sampai dengan Tahun 2015. Temu lapang mina padi Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya telah dilaksanakan di Balai Desa Mondoretno Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah pada tanggal 22 Maret 2011 dan di Kampung Bukareh, Jorong Ampek Surabayo, Nagari Lubuk Basung, Kecamatan Lubuk Basung Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat pada tanggal 28 Juni 2011. Peserta yang hadir dalam kegiatan ini dihadiri unsur pemerintah (Bupati, Tim Terpadu Pengelolaan Mina Padi, rombongan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, rombongan Dinas Kelautan dan Perikanan) dan pembudidaya mina padi.

Materi yang disampaikan dalam temu lapang mina padi yakni Pengembangan Mina Padi untuk Upaya Antisipasi Anomali Iklim dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Masyarakat oleh Ir. Maxdeyul Sola, MM dan Penerapan Teknologi Budidaya Mina Padi oleh DR. Ir. Murdjani, M.Sc.

Beberapa hal yang dapat disimpulkan dalam acara ini antara lain:

1. Mina padi telah lama dikenal dan dilaksanakan sejak lama. Bahkan dapat dikatakan bahwa sampai saat ini kegiatan mina padi tidak pernah berhenti karena program mina padi diangap menguntungkan.

2. Beberapa permasalahan yang dihadapi oleh pembudidaya mina padi adalah tidak tersedia bibit secara kualitas, kuantitas dan kontinyuitas, pupuk, teknologi mina padi, induk.

3. Banyak pembudidaya yang mengintegrasikan mina padi dengan kegiatan memelihara kambing dan unggas di atas petakan sawah.

4. Pengembangan mina padi diperlukan adanya pemupukan permodalan, salah satunya dapat diakses dari perbankan. Namun permasalahan pada saat pengajuan kredit selalu ditolak oleh bank dikarenakan harus disertai dengan adanya jaminan.

Setelah diskusi antara pemerintah dan pembudidaya, selanjutnya kunjungan ke lokasi mina padi guna meninjau sejauh mana kegiatan mina padi dan penebaran benih ikan mas berukuran 5–7 cm sebanyak 4.000 ekor. Momentum ini dilakukan sebagai wujud perhatian pemerintah guna mendukung program pengembangan mina.
Kedepannya, diharapkan adanya partisipasi dari pembudidaya untuk mengembangkan program mina padi dengan cara menerapkan teknologi-teknologi dan informasi yang didapat dari acara temu lapang mina padi. Berbekal dari acara ini juga pembudidaya diharapkan dapat menyebarluaskan teknologi mina padi yang berkembang saat ini ke daerah-daerah lainnya, sehingga program pengembangan mina padi dapat berjalan dengan optimal dan berkelanjutan.

Sumber : Ditjen Perikanan Budidaya

Comments

comments