Program peningkatan produksi perikanan budidaya sebesar 353% sampai tahun 2015 harus dilaksanakan dengan suatu program besar. Salah satu strateginya adalah program minapolitan. Sesuai Kepmen No. 12/MEN/2010, minapolitan adalah konsepsi pembangunan ekonomi kelautan dan perikanan berbasis kawasan berdasarkan prinsip-prinsip terintegrasi, efisiensi, berkualitas, dan percepatan (akselerasi). Minapolitan diterapkan pada komoditas-komoditas unggulan, termasuk ikan patin. Pemerintah menetapkan bahwa Riau, Jambi, dan Kalimantan Selatan sebagai propinsi percontohan klaster minapolitan ikan patin.

Tujuan dari sistem klaster ikan patin di tiga provinsi itu adalah mengerek produksi. Jika produksi sudah banyak, Indonesia bisa lebih banyak lagi mengekspor ikan patin.1 Akan tetapi, hambatan otonomi tampaknya bisa menjadi ganjalan. KKP wajib berkordinasi lebih intens dengan pemda. Hal yang dikhawatirkan adalah Pemda merasa lebih berhak mengatur daerahnya, ketimbang semua urusan minapolitan diserahkan ke KKP. Padahal, pemda belum tentu paham konsep minapolitan.

Minapolitan Patin Kampar, Riau

KKP mengembangkan minapolitan patin di Kampar, Riau. Di kawasan minapolitan itu KKP menargetkan membangun salah satu industri pengolahan patin terbesar di Indonesia. Kampar diketahui banyak waduk sungai, waduk, dan kolam alam. Selama ini konsumsi patin di Indonesia selain dipenuhi dari produksi sendiri, juga diimpor dari Thailand dan Vietnam. Dengan demikian, pengembangan minapolitan patin di Kampar ditargetkan bisa mensubtitusi impor. Pengembangan industri perikanan berlabel minapolitan tersebut menyinerjikan usaha produksi yang dimulai dari hulu hingga hilir. Pengembangan minapolitan itu melibatkan tiga pihak dan KKP bertindak sebagai fasilitator. Investasinya bisa mencapai Rp 145 miliar. Produk patin Kampar diharapkan bisa masuk ke supermarket Indonesia, yang selama ini berasal dari Thailand dan Vietnam. Dalam jangka panjang bisa diekspor ke Eropa, Timur Tengah, dan USA. Saat ini produksi ikan budidaya di Kabupaten Kampar mencapai sekitar 60 ton per hari, sekitar 30 ton di antaranya adalah ikan patin. Seluruh produsen adalah pembudidaya skala kecil, bukan korporasi. Seluruh produksi saat ini dapat dengan mudah diserap pasar lokal di provinsi Riau, serta provinsi lainnya, yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan. Guna mendukung pengembangan kawasan minapolitan, Pemda Kampar membentuk konsorsium bersama pelaku usaha swasta. Konsorsium itu mendirikan PT Kampa-ricom dengan pemegang saham PT Bonecom Budidaya Kampar dengan Pemerintah Provinsi Riau melalui PT Sarana Pembangunan Riau memiliki 24% saham, 38% saham dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten Kampar. Konsorsium PT Kamparicom merencanakan investasi pabrik pengolahan dengan nilai Rp 145 miliar. Pabrik akan dibangun dalam tiga tahap, yakni tahap satu dengan kapasitas produksi 30 ton filet patin per hari, tahap kedua menghasilkan 80 ton filet patin per hari, dan tahap ketiga menghasilkan 180 ton filet patin per hari secara kumulatif.2

Dirjen Perikanan Budidaya KKP, Made L Nurdjana mengatakan tak lama lagi Indonesia segera menggeser Vietnam setelah budidaya Patin di Kabupaten Kampar, Riau, berhasil meningkatkan produksi patinnya. Bupati kampar Burhanuddin Husin menyatakan, produksi Patin dari daerahnya mencapai 63 ton perhari. Selain Patin. Kampar juga menghasilkan ikan nila, mas, dan lele. Prioritas program kami adalah Perikanan, setelah itu baru ternak, kelapa sawit dan perkebunan lainnya. Target yang ingin dicapai Kampar mencakup pembangunan 82.000 unit keramba dan 6.111,3 ha kolam. Kini sudah tercapai 7.150 unit keramba (8,7%) dan 700,03 ha kolam (11,46%). KKP berniat membangun pabrik pakan guna mendukung budidaya Patin. Patin di Kampar kini berada pada sungai yang jauh lebih bersih. Bupati Kampar Burhanuddin berupaya segera membangun perusahaan pembekuan fillet patin. Sementara itu, anggota DPR dari komisi IV Wan Abubakar mendukung tekad Bupati Kampar upaya KKP. Kabupaten Kampar memilih potensi yang besar untuk budaya Patin, perlu mendapat dukungan semua pihak.3 Made menjanjikan KKP akan membangun pabrik pakan ikan di Kampar. Dianjurkan pula agar Kampar yang kaya kelapa sawit memanfaatkan maggot, sejenis serangga bunga dari bungkil kelapa sawit untuk pakan patin.4

Selain diimpor, 50% pakan patin Kampar dipasok dari desa Koto Mesjid dengan harga Rp 3.500 per kg.Bahan utama pakan adalah ikan asin yang diperoleh dari daerah Bagan Siapi-api, dan dedak (bekatul) yang diperoleh dari daerah sekitar. Sentra minapolitan ikan patin Kampar meliputi Sentra Kampung Patin Desa Koto Masjid. PLTA Koto Panjang Desa Ranah, Kecamatan AirTiris, dan Kampung Ikan Jelawat. Sejumlah sentra itu akan bernaung di bawah konsorsium PT Kamparicom milik pemda dan swasta setempat.5 Keunggulan Vietnam melalui VASEP (Vietnam Association for Seafood Exporters and Processors) juga telah mengembangkan Good Aquaculture Product (GAP), sehingga produk ikan patin dengan mudah dapat menembus pasar dunia. Belajar dari upaya Vietnam dalam membudidayakan ikan patin, maka Riau bertekad akan mengutamakan kualitas budidaya patin yang didasarkan kepada kualitas ikan yang baik, sesuai dengan standar ekspor. Dengan demikian, produk ikan patin juga dapat dengan mudah diterima oleh pasar dunia.6

Minapolitan Patin Jambi

Sentra patin di Jambi berada di Kasang Pudak dan Tangkit. Potensi produksi ikan Patin di Jambi sangat prospektif dengan produksi harian mencapai 35 ton perhari di 12 sentra patin yang memiliki 6.000 kolam dan 5.600 keramba jaring apung. Potensi ini didukung oleh luas lahan produksi perikanan yang mencapai sekitar 121.850 Ha, terdiri dari lahan air payau seluas 18.000 Ha, perairan umum seluas 97.350 Ha, mina padi seluas 350 Ha dan potensi budidaya kolam seluas 6.150 Ha. Kondisi ini dipandang sangat prospektif untuk pengembangan budidaya ikan Patin. Provinsi Jambi juga dipandang sangat mampu untuk menyamai prestasi Vietnam dalam memanfaatkan sungai untuk usaha budidaya ikan Patin di karamba sungai. Sungai Batanghari sepanjang 1470 km, merupakan sungai terpanjang di Sumatera, dengan badan sungai yang lebar dan aliran yang cukup tenang, sangat ideal untuk budidaya Patin dengan sistem karamba.7

Untuk mengisi program pemerintah menuju swasembada ikan nasional tahun 2015. Bupati Kabupaten Muarojambi H Burhanuddin Mahir, pastikan di masa yang akan datang Kabupaten Muarojambi menjadi sentra ikan patin terbesar di Provinsi Jambi. Dicanangkannya program ini dia minta fokus artinya yang akan dibudidayakan hanya satu jenis ikan yakni ikan patin, Sementara itu katanya untuk mensukseskannya haruslah idustri hilirnya terlebih dahulu di perhatikan. Harus tersedia tempat penampungan ikan. Dalam mendukung program pemerintah menuju swasembada ikan nasional, di masa yang akan datang. sekitar 24 000 hektar lahan di kabupaten ini sudah cukup tersedia dan siap di jadikan lahan sentra ikan.8

Minapolitan Patin Kalimantan Selatan

Pengembangan minapolitan di Kalimantan Selatan dilakukan di Kabupaten Banjar yang memiliki potensi dengan 3 sungai utama, antara lain sungai Martapura dengan areal yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya 427.133 hektar. Kemudian sungai Riam Kanan dengan luas areal potensi budidaya 161.132 hektar, serta sungai Riam Kiri dengan luas areal potensi budidaya 191.132 hektar. Dari potensi sungai yang ada, sudah dimanfaatkan masyarakat untuk budidaya ikan dalam karamba sebanyak 2.525 unit. Kabupaten Banjar memiliki beberapa lokasi yang dapat dikembangkan untuk kawasan minapolitan yaitu Desa Cindai Alus, Kecamatan Martapura Kota dan kawasan budidaya Riam Kanan, sedangkan daerah hiterlandnya berada di kecamatan Martapura Kota, Kecamatan Martapura Barat dan kecamatan Aranio.

Minapolitan Kabupaten Banjar diperkirakan mencapai 1.671 ha dengan ikan patin sebagai komoditas unggulan. Kabupaten Banjar dipilih karena kawasan ini memiliki akses entry-point dari semua penjuru, berdekatan langsung dengan pelabuhan udara dan laut, berdekatan dengan jalur Trans Kalimantan. Sedangkan kondisi perkembangan infrastruktur yakni terdapat 2 waduk yakni waduk Riam Kanan dengan luas 7.000 ha dan waduk Mindakapau dengan luas 530 ha, potensi yang diperbolehkan untuk kegiatan perikanan 376 Ha. Kawasan ini memiliki potensi rawa meliputi rawa tergenang sepanjang tahun seluas 79.255 ha dan Rawa tergenang selama 6 bulan seluas 65.030 Ha, Mangrove seluas 250 Ha Kec. Aluh-aluh dan telah dimanfaatkan untuk usaha tambak udang seluas 10 ha. Ditunjang juga dengan irigasi teknis terbentang sepanjang 40 km dan telah dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian dan perikanan bididaya. Potensi perikanan budidaya seluas 1.295 ha dan telah dimanfaatkan untuk usaha kolam 413 ha. Program ini dirasakan sangat penting karena selama ini pembudidaya menghadapi berbagai persoalan di antaranya kebutuhan benih masih kurang, pemanfaatan air masih belum optimal, teknologi budidaya belum intensif, industri pengolahan hasil perikanan belum berkembang, serta sistim budidaya minapadi kurang berkembang.9

Referensi:

1 “Peluang Ekspor Ikan Patin ke AS Terbuka Lebar”, dalam http://agromaret.com/arsip/64/ peluang_ekspor_ikan_patin_ke_as_terbuka_lebar.htm, diakses tanggal 27 Desember 2010.

Julius Jera Remajakarta, “Komisi IV DPR RI Kritik KKP, Minapolitan Lele Boyolali Tak Berkembang”, 14 September 2010, dalam http://bataviase.co.id/node/379498.htm, diakses tanggal 27 Desember 2010.

“Pasok Patin Dunia, RI Segera Geser Vietnam”, dalam http://faridmudlofar.blogspot.com/201003/pasok-patin-dunia-ri-segera-geser.html, diakses tanggal 27 Desember 2010.

4 “Kampar Siap Gantikan Vietnam Pasok Patin Dunia”, 10 Maret 2010, dalam http://www.antaranews.com/berita/1268212046/kampar-siap-gantikan-vietnam-pasok-patin-dunia.htm, diakses tanggal 27 Desember 2010.

, 12 Mei 2010, hal.30, dalam http://www.dkp.go.id/index.php/archivesc/582703/kampar-bangun-industri-pengolahan-patin.htm, diakses tanggal 27 Desember 2010.

6 “Pasar Ikan Patin Dunia Dikuasai Vietnam”, Raiu Pos, 14 Juli 2009, dalam http://www.pekanbaruriau.com/ 2009/07/pasar-ikan-patin-dunia-dikuasai-vietnam.html, diakses tanggal 27 Desember 2010.

7 “Patin Jambi untuk Nusantara”, dalam http://www.dkp.go.id/index.php/ind/news/151/kampanye-gemarikan, diakses tanggal 27 Desember 2010.

, 17 Februari 2010, dalam http://www.radartanjab-news.com/berita-6713-bupati-pastikan-muarojambi-jadi-sentra-patin.html, diakses tanggal 27 Desember 2010.

9 “Minapolitan Banjar Patin Jadi Komoditas Unggulan”, dalam http://hobiikan.blogspot.com/201003/ minapolitan-banjar-patin-jadi-komoditas.html, diakses tanggal 24 Januari 2011.

Comments

comments