Nanoteknologi telah menjadi harapan umat manusia dalam menyelesaikan berbagai permasalahan teknologi yang dihadapi saat ini. Dengan nanoteknologi, material dapat didesain sedemikian rupa dalam orde nano, sehingga sifat-sifat yang belum dikenal dapat diakses. Aplikasi nanoteknologi akan membuat revolusi baru dalam dunia industri, dan diyakini bahwa pemenang persaingan global di masa yang akan datang adalah negara-negara yang dapat menguasai teknologi nano dan mengintegrasikan dalam seluruh aspek ilmu pengetahuan dan teknologi di negaranya. Untuk menguasai teknologi nano, kita bangsa Indonesia memerlukan kerjasama berbagai pihak dan mensinergikan berbagai potensi bangsa.

Masyarakat Nano Indonesia (MNI) sebelumnya bernama Masyarakat Nanoteknologi Indonesia, dibentuk dengan harapan dapat menjadi forum komunikasi para peneliti dan pelaku industri, baik yang berada di pemerintahan, lembaga riset, universitas maupun dunia industri yang tertarik atau bergerak di bidang sains dan teknologi nano.

Dengan dilatarbelakangi hal tersebut di atas, maka pada Rabu, 23 Juni 2010 di ruang Komisi, Gd. II BPPT Jl. M.H. Thamrin 8 Jakarta Pusat, diselenggarakan Seminar Nanoteknologi dengan tema “Kitosan: Biomaterial Masa Depan Aplikasi Nanopartikel Kitosan untuk Daya Saing Industri”.

Kitosan adalah biopolymer alami dan dapat dirombak secara biologis. Kitosan dan turunannya dapat digunakan untuk berbagai keperluan dalam bidang medis, pangan ataupun lingkungan.

Kitosan sudah dikenal luas sebagai bahan antibakteri yang lebih kuat dari asam laktat, antiparasitik, antasid, penghelat radikal bebas, pengemulsi, pengental, dan immobilisasi enzim. Kitosan juga digunakan sebagai bahan pengawet alami. Dengan nanoteknologi, fungsi kitosan menjadi lebih efektif dan efisien sehingga dapat menambah daya saing.

Tujuan diselenggarakannya seminar ini diharapkan agar peserta memperoleh informasi tentang sumber daya kitosan di Indonesia, mengetahui proses pembuatan material kitosan, mengetahui sifat-sifat nanopartikel, mengetahui metode sintesa nanopartikel melalui metode bottom up dan mengenal beberapa aplikasi terkini nanopartikel di industri.

Seminar ini dihadiri oleh Masyarakat Nanoteknologi Indonesia dari Kemenristek, LIPI, berbagai Perguruan Tinggi, dan perorangan. Hadir sebagai pembicara pada acara tersebut adalah Hari Eko Irianto, Kepala Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan – Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Moeryati Soedibyo, Presiden Direktur PT. Mustika Ratu, Tbk., Pipih Suptijah, Peneliti Kitosan IPB, Anggota Business Innovation Center Indonesia, Bambang Srijanto, Kepala Bidang Teknologi Bahan Baku Farmasi, PTFM BPPT, dan Etik Mardliyati, Pakar farmasi dan kesehatan, PTFM-BPPT, Ketua bidang Nano Farmasi & Kesehatan MNI.

Dalam paparannya, Bambang menyampaikan tentang “Aplikasi Biomaterial Kitosan Dalam Industri: Peluang dan Tantangan”. “Pemanfaatan Biomaterial Kitin/Kitosan dan turunannya seringkali terkendala oleh faktor keekonomian dan informasi keamanannya yang masih mini,” kata Bambang. Selanjutnya, Pemanfaatan untuk produk farmasi dan biomedika, kosmetika, pangan fungsional dan di bidang bioteknologi merupakan salah satu langkah untuk mengatasi keekonomia, selain itu, pengembangan produk berbasis kitin/kitosan masih akan terus berkembang di masa depan, terutama pada aspek modifikasi struktur, teknologi sediaan dan toksisitasnya,” jelas Bambang mengakhiri paparannya.

Sedangkan Etik Nardliyati dari Pusat Teknologi Farmasi dan Medika BPPT menyoroti Potensi dan Oprospek Aplikasi Nanopartikel Kitosan untuk Meningkatkan Daya Saing Industri. “Nanoparticles -Small Particles with a Big Future,” seru Etik.

Seminar dibuka oleh Nurul Taufiqu Rochman, Ketua Masyarakat Nano Indonesia. Dalam sambutannya, Nurul mengharapkan agar nanoteknologi kita maju menuju era teknologi ke depan. “Melihat perkembangan nanoteknologi akan (telah) menjadi tren teknologi dunia, sudah merupakan suatu keniscayaan untuk setiap negara mempersiapkan diri untuk menangkap peluang besar tersebut. Di masa mendatang akan terjadi percepatan yang luar biasa dalam kaitannya dengan penerapan nanoteknologi dalam dunia industri. Oleh karena itu, pengembangan nanoteknologi harus dilakukan dengan cepat pada masa sekarang ini. Jika tidak, maka peluang pengembangan nanoteknologi akan terlewatkan, dan sebagai konsekuensinya Indonesia akan kembali menjadi negara yang tertinggal dan kalah karena tidak akan mampu bersaing dengan negara-negara lain di dunia ini, bahkan untuk kawasan Asia Tenggara sekalipun,” sambut Nurul (iwr/humasristek)

Sumber : Ristek.go.id

Comments

comments