Potensi perikanan budidaya yang tersedia di Kota Langsa tercatat 5.180,1 Ha, potensi ini baru sekitar 2.374,5 Ha atau 45,84% yang berproduksi. Usaha perikanan budidaya yang telah berjalan di Kota Langsa terdiri dari Budidaya Air Payau, Budidaya Air Tawar dan Budidaya di Perairan Umum seperti Budidaya Ikan Kerapu di Karamba Jaring Apung.

Perkembangan perikanan di Kota Langsa sempat terhambat pada masa-masa konflik di Prov. NAD. Saat ini, pemerintah daerah mulai membangkitkan kembali produktifitas di sektor perikanan dan kelautan. Khususnya perikanan budidaya yang didominasi oleh usaha budidaya air payau dengan komoditas budidayanya antara lain Udang windu, Kepiting Bakau, Kepiting Soka, Bandeng dan Kerapu (Macan dan Lumpur) mulai dikembangkan kembali. Selain itu, budidaya laut juga mulai dikembangkan yaitu budidaya ikan kerapu di Karamba Jaring Apung. Jenis kerapu yang dibudidayakan di KJA Kota Langsa adalah Kerapu Macan, untuk jenis Kerapu Tikus belum dikembangkan.

Di tahun 2009, produksi Udang mencapai 194,2 ton dari luas tambak 1.439 Ha, Bandeng 254 ton dengan luas tambak 1.094 Ha, Kerapu 56 ton dengan luas lahan 50 Ha, dan Kepiting Soka 86 ton dari luas tambak 40 Ha. Komoditas air payau yang dikembangkan di Kota Langsa antara lain Budidaya Kepiting Soka, Bandeng, Kerapu dan Udang Windu. Benih Udang Windu diperoleh masih dari produksi lokal, Nener didatangkan dari Bali, benih kerapu dan Kepiting Bakau masih diperoleh dari alam. Kota langsa dengan kondisi pantai yang masih padat tanaman bakau menjadikan wilayah ini kaya akan benih dari alam. Seperti kepiting bakau dan kerapu yang mayoritas benihnya dikumpulkan dari alam.

A. BUDIDAYA KEPITING SOKA

Kepiting Soka merupakan salah satu komoditas andalan Kota Langsa. Dengan luas tambak operasional 40 Ha tercatat di tahun 2009 produksinya mampu mencapai 85 ton. Salah satu pembudidaya Kepiting Soka Bpk. Mansur Musa telah mengembangkan budidaya Kepiting Soka sejak Tahun 2000. Teknologi diperoleh dari buyer yang langsung memberikan ilmu dan teknologinya kepada pembudidaya di Kota Langsa. Kepiting Soka adalah Kepiting Bakau yang dipanen pada saat Kepiting mengalami pembentukan cangkang baru (moulting atau cangkang lunak), benih kepiting diperoleh dari alam melalui pengumpul-pengumpul benih disekitar lokasi budidaya.

Permintaan akan Kepiting Soka cukup tinggi, sehingga berapapun produksi yang dihasilkan oleh Bpk. Musa tertampung. Pasar utama Kepiting Soka dari Kota Langsa untuk lokal adalah Medan dan untuk luar negeri adalah Singapore. Produksi Kepiting Soka ini mampu mencapai 10 ton per bulan di musimnya. Kepiting Soka di ekspor melalui Medan Sumatera Utara.

B. BUDIDAYA IKAN BANDENG

Benih Bandeng masih didatangkan dari luar daerah antara lain dari Bali dan Situbondo. Budidaya Bandeng masih dilakukan dengan teknologi Tradisional. Di Kota Langsa tercatat luas tambak bandeng yang operasional adalah 1.094 Ha dari luasan tersebut menghasilkan produksi 254 ton pada tahun 2009.

Salah satu Pembudidaya Bandeng yang di sana adalah Bpk. Supendi. Produksi dari tambak yang berukuran 0,5 – 1 ha mencapai 1 ton dengan lama pemeliharaan 4 bulan. Hasil produksi dipasarkan lokal maupun daerah luar di sekitar pulau Sumatera.

C. BUDIDAYA KERAPU LUMPUR DAN KERAPU MACAN

Budidaya Kerapu Lumpur dan Kerapu Macan di Kota Langsa cukup menjanjikan dengan harga Kerapu Lumpur senilai Rp. 65.000/kg dan Kerapu Macan Rp. 85.000/kg menarik minat pembudidaya tambak untuk terus mengembangkan dan meningkatkan jumlah produksinya. Salah satu pembeli adalah Bpk. Asenk yang langsung membeli hasil produksi tanpa membatasi jumlah produksi. Tercatat di Kota Langsa dengan luas areal budidaya Kerapu yaitu 50 Ha dapat menghasilkan produksi 56 ton, hal ini tentunya dapat terus dikembangkan. Pasar Kerapu Lumpur dan Kerapu Macan untuk lokal adalah Kota medan sedangkan pasar ekspor adalah Singapura.

Perolehan benih kerapu macan atau kerapu lumpur mayoritas dari alam, uniknya pengumpul – pengumpul benih kerapu macan maupun kerapu lumpur hampir setiap hari menjual hasil benih tangkapan mereka langsung ke pembudidaya tambak. Benih kerapu yang masih berukuran 200 – 250 gram dijual dengan harga Rp. 10.000-Rp. 15.000 per ekornya. Hal ini memudahkan pembudidaya kerapu di tambak untuk tetap berproduksi.

Budidaya Kerapu Macan di Karamba Jaring Apung juga sudah mulai dilirik oleh pembudidaya Kota Langsa. Salah satunya adalah Bpk. Zubir yang memiliki 40 Kantong budidaya Kerapu Macan di Karamba Jaring Apung. Bpk. Zubir ini memulai usahanya dengan berbudidaya Udang Windu, namun setelah mengenal usaha Budidaya Kerapu Macan, beliau tertarik untuk serius dengan usaha budidaya Kerapu Macan di KJA.

D. BUDIDAYA UDANG WINDU

Provinsi NAD salah satu Provinsi penghasil Udang Windu di Indonesia. Namun sejak adanya serangan penyakit yang mewabah, pembudidaya Udang Windu enggan untuk melanjutkan usaha budidayanya. Ditambah dengan masa – masa konflik di daerah ini menjadikan usaha budidaya Udang Windu seperti mati suri.

Namun, saat ini pemerintah daerah khususnya Diskanlut Kota Langsa mencoba untuk membangkitkan kembali usaha budidaya udang windu di Kota Langsa, dengan melihat potensi Luas areal tambak budidaya udang di Kota Langsa adalah 1.439 Ha dan di tahun 2009 tercatat mampu mencapai produksi 194,5 ton. Hal ini membangkitkan semangat pemerintah khususnya Diskanlut Kota Langsa dan masyarakat pembudidaya Udang untuk mencoba mengembangkan kembali budidaya Udang Windu.

Salah satu pembudidaya Udang Windu Bpk. Sofyanto mencoba untuk menghidupkan kembali budidaya Udang Windu. Tambak seluas 20 Ha yang pada saat ini baru operasional 15 Ha, dengan luasan petakan tambak berkisar 2,5 – 3,7 Ha per petak tambak. telah menghasilkan produksi pertamanya yang mencapai 1 ton Udang Windu dengan size 15 – 22 ekor/ kg. Hasil produksi Udang Windu Kota Langsa dibeli langsung oleh PT. Red Ribbon, dan PT. SAS yang berlokasi di Medan, Sumatera Utara.

Comments

comments