Lahan rawa merupakan salah satu sumberdaya alam yang mempunyai fungsi hidrologi dan fungsi ekologi lain yang penting begi kehidupan seluruh makhluk hidup. Indonesia memiliki kawasan rawa yang diperkirakan mencapai 39,4 juta Ha yang sebagian besar tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua (Barchia, 2006). Hal yang perlu digarisbawahi adalah kerancuan antara lahan rawa dengan lahan gambut. Gambut adalah tanah yang mengandung bahan organik lebih dari 30%, sedangkan lahan gambut adalah lahan yang ketebalan gambutnya lebih dari 50 cm. Lahan yang ketebalan gambutnya kurang dari 50 cm disebut lahan bergambut. Gambut terbentuk dari hasil dekomposisi bahan – bahan organik seperti daun, ranting, semak belukar yang berlangsung dengan kecepatan lambat dan dalam suasana anaerob.

Berbeda dengan kolam tanah biasa, kegiatan budidaya ikan di lahan gambut memerlukan perlakuan khusus karena lahannya yang spesifik dan merupakan lahan marjinal untuk kegiatan budidaya, antara lain kegiatan pengolahan lahan dan air sebagai berikut :

Pembersihan Kolam

Kegiatan pengolahan lahan dimulai dengan pembersihan kolam dari rumput-rumput liar serta akar-akar tanaman yang telah lapuk dan mengapung di pinggir kolam dan permukaan air.

Pengapuran dan Pemupukan Kolam

Dalam pelaksanaan kegiatan awal pengapuran dilakukan dengan dua metode yaitu dengan penyedotan air kolam menggunakan pompa, dan tanpa penyedotan. Metode dengan penyedotan dimaksudkan agar kolam dapat kering dan lumpur dasar dapat dibuang, dalam kenyataannya kolam sulit untuk dikeringkan mengingat rembesan air gambut dari luar cukup kuat. Berdasarkan pengamatan menunjukkan bahwa kolam yang telah disedot sampai kedalaman air 50 cm (kedalaman kolam 2,5 – 3 m) dalam waktu 2 hari telah kembali penuh seperti semula, dalam keadaan tersebut penebaran kapur segera dilakukan dengan dosis sebanyak 700-900 gram/m2. Jenis kapur untuk pengapuran dasar yang digunakan adalah jenis kapur tohor Ca(OH)2 dengan tujuan membasmi hama/penyakit dan menaikkan pH air dari 3 menjadi 5 atau 6. Pengapuran dilakukan dengan cara ditebarkan secara merata dipermukaan kolam serta pinggir kolam

Pemberian pupuk kandang dilakukan dengan menebarkan secara merata didalam kolam, dan sebagian diapungkan di air, setelah seminggu kemudian diberikan pupuk UREA dan NPK yang diberikan secara bersamaan pemberian dapat dilakukan dengan cara ditebar secara merata dalam kolam. Kolam kemudian didiamkan tanpa ada perlakukan sampai beberapa hari (paling lama 15 hari). Apabila pH air telah mencapai 5 kemudian dilakukan penebaran benih ikan.

Penyedotan Lumpur

Untuk menjaga kualitas air kolam, maka secara periodik dilakukan penyedotan lumpur setelah dilakukan pemanenan ikan dan sebelum persiapan kolam tahap berikutnya.

Pemeliharaan Ikan

Kegiatan pemeliharaan ikan yang dilakukan adalah pemeliharan ikan dan patin dan papuyu di kolam, lele, papuyu dan nila di jaring. Pakan yang diberikan berupa pelet dengan dosis 3 – 5 % dari berat total perhari, dengan frekuensi pemberian 2 kali sehari (pagi dan sore hari). Pemberian pakan dengan cara sedikit demi sedikit agar jangan sampai ada pakan yang tidak termakan. Pemberian pakan dihentikan apabila ikan patin yang dipelihara terlihat sudah tidak mau makan lagi walaupun pakan yang diberikan masih belum sampai 5%.

Sumber : Ditjen Perikanan Budidaya

Comments

comments