Asal mula kegiatan akuakultur tidak diketahui secara pasti kapan dan oleh siapa dimulai. Kegiatan akuakultur pertama kali diduga dilakukan oleh orang Mesir pada ikan nila dan/atau orang China pada ikan mas. Kegiatan pemeliharaan kedua jenis ikan tersebut kemudian menyebar ke Asia dan Eropa (LANDAU 1992). Kegiatan akuakultur atau budidaya biota air kini telah banyak diketahui dan dipraktekan oleh sefragian besar penduduk dunia, terutama yang mendiami daerah dataran rendah, sekitar daerah aliran sungai, waduk, danau.dan pantai. Bahkan pada era globalisasi saat ini, kegiatan pemeliharaan biota air telah merambah ke masyarakat yang mendiami daerah perkotaan, di dalam rumah sederhana sampai di rumah mewah, dari toko kelontong sampai ke pusat perbelanjaan (mall).
Kegiatan akuakultur tersebut dilakukan oleh masyarakat yang sekedar ikut-ikutan dan tanpa pengetahuan yang memadai hingga oleh orang-orang yang betul-betul mendalami, menekuni, dan mempunyai bekal pengetahuan yang mendasar tentang akuakultur. Berbekal pengetahuan yang memadai itulah biasanya pembudidaya biota air akan berhasil menikmati hasil kegiatan budidayanya, baik sebagaipengembangan kegemaran (hobby), penghasil bahan pangan untuk keluarga, maupun sebagai sumber penghasilan. Sebagai hobby misalnya pemeliharaan biota air pada akuarium; sebagai penghasil pangan untuk keluarga misalnya budidaya skala keluarga pada ikan lele dan belut; dan sebagai sumber penghasilanmisalnya budidaya skala komersial pada ikan lele, gurameh, bandeng, udang dan kerapu.
Produksi perikanan dunia dari sector akuakultur adalah lebih dari 13 juta metrik ton per tahun (LANDAU 1992), dan produksi tersebut cenderung terus meningkat. Peningkatan produksi hasil usaha akuakultur tersebut sangat penting artinya untuk kawasan Asia yang mayoritas padat penduduk dengan tingkat penghasilan per kapita relatif rendah. Meskipun kegiatan budidaya biota air telah banyak dipraktekan oleh masyarakat Indonesia, namun pengetahuan dasar tentang budidaya biota air kadang-kadang belum banyak diketahui dan dipahami. Oleh karena ltu, pada tulisan ini akan disajikan secara nngkas tentang pengetahuan dasar akuakultur.
Apa Itu Akuakultur ?
Beberapa pakar ada yang mendefinisikan akuakultur sebagai kegiatan pemeliharaan biota air pada kondisi yang terkontrol, baik secara intensif maupun semimtensif. Namun demikian, ada pakar yang menyatakan bahwa akuakultur merupakan kegiatan pemeliharaan flora dan fauna air, tetapi tidak termasuk dalam kegiatan yang berkaitan dengan pemeliharaan dan pembenihan jenisjenis biota untuk akuarium, biota untuk eksperimen atau percobaan di laboratorium, dan biota yang dipelihara khusus untuk memenuhi kebutuhan perseorangan (LANDAU 1992). Selain itu, beberapa pakar ada juga yang mendefinisikan akuakultur sebagai kegiatan untuk memproduksi biota air (termasuk di dalamnya: pemeliharaan, penanganan, pengolahan, dan pemasaran) untuk tujuan komersial (BARNABE 1990).
Akuakultur yang di Indonesia dikenal dengan istilah budidaya air dibedakan menjadi dua, yaitu budidaya air tawar dan budidaya air laut (termasuk air payau). Budidaya air laut lebih dikenal dengan istilah marikultuf. Usaha marikultur semakin popular pada decade terakhir ini, khususnya setelah berhasil dikembangkan teknik budidaya pada kurungan jaring apung (ANONIM 1972,1991, SUNYOTO 1994).
Akuakultur sebagai usaha untuk memproduksi biota air pada skala besar (komersial) berkaitan dengan beberapa disiplin ilmu, termasuk ilmu pertanian, perikanan, hukum, ekonomi, kimia, teknik dan biologi. Pembudidaya harus familiar dan mengetahui dasar-dasar dari ilmu tersebut untuk menunjang keberhasilan usahanya.
PUSTAKA
  • ANONIM 1972. Fishing gear design. Fishing News (Books), London, Hal: 8-25.
  • ANONIM 1991. Operational pembesaran ikan kerapu dalam keramba jaring apung. Balai Penelitian Perikanan Budidaya Pantai Maros, Balitbangtan, Deptan, Jakarta.
  • BARNABE, G. 1990. Aquaculture- Vol I. Ellis Horwood, New York. 528 p.
  • LANDAU, M. 1992. Introduction to aquaculture. John Wiley & Sons, Inc. New York. 440 p.

Comments

comments