Dalam mewujudkan Visi Kementerian Kelautan dan Perikanan: “Indonesia Penghasil Produk Kelautan dan Perikanan Terbesar Tahun 2015″ dengan Misi Mensejahterakan Masyarakat Kelautan dan Perikanan. Kementerian Kelautan dan Perikanan menetapkan perikanan budidaya sebagai ujung tombak penghasil produk perikanan untuk mewujudkan target tersebut maka arah kebijakannya yaitu percepatan peningkatan produksi perikanan budidaya untuk konsumsi ikan masyarakat (Proksimas), ekspor (Propekan) dan Perlindungan dan Rehabilitasi Sumberdaya Perikanan Budidaya (Prolinda). Peningkatan produksi budidaya perikanan tersebut terus diupayakan sampai memenuhi target dari Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan total produksi hasil perikanan Indonesia mencapai 353% pada tahun 2014. Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan sasaran produksi ikan sampai dengan tahun 2014 sebesar 16,89 juta ton.

Peningkatan produksi mendorong upaya untuk meningkatkan kualitas mutu sehingga dapat bersaing di pasar global antara lain melalui efisiensi biaya produksi, peningkatan mutu produk agar diterima pasar, dan jaringan pemasaran yang lebih luas. Upaya efisiensi biaya produksi dalam usaha budidaya ikan dapat terwujud jika tersedianya: 1). pakan dalam kualitas yang baik, kuantitas yang cukup, harga yang relatif murah, tepat waktu dan berkesinambungan, 2). ketersediaan benih unggul yang memenuhi syarat kualitas dan kontinuitas serta 3). segmentasi usaha. Upaya yang harus dilakukan untuk mengurangi biaya produksi dalam usaha budidaya ikan yaitu antara lain benih berkualitas, pakan mandiri dan segmentasi usaha.

1. Pakan

Ketersediaan pakan merupakan faktor penting yang dapat mendukung keberhasilan dan keberlanjutan usaha budidaya. Biaya operasional yang dikeluarkan untuk pakan menyerap hingga 35–60% total biaya operasional usaha dan untuk menjamin pertumbuhan ikan secara maksimal pakan harus selalu tersedia selama masa produksi. Harga pakan ikan terus meningkat 2–3 kali sedangkan harga jual ikan terutama ikan air tawar meningkat kurang lebih 2 kali untuk pasar lokal sehingga kondisi ini menyulitkan pembudidaya untuk mengembangkan usaha. Terjadinya peningkatan harga pakan ikan disebabkan karena bahan baku pakan ikan diimpor sekitar 90%. Sumber bahan baku penyusun pakan yang terbesar saat ini adalah dari tepung ikan yang diimpor. Penggunaan tepung ikan 40-50% dari total bahan baku penyusun pakan. Tepung ikan harus diimpor dari luar negeri seperti Chile karena kualitas tepung ikan lokal masih relatif rendah. Sementara itu permintaan tepung ikan di pasar dunia cenderung meningkat dari waktu ke waktu karena berkompetisi dengan kebutuhan konsumsi manusia, energi dan fluktuasi harga serta nilai tukar rupiah terhadap US dollar. Selain itu, hasil perikanan tangkap yang merupakan bahan baku pembuatan tepung ikan mengalami stagnasi atau bahkan menurun. Penurunan produksi yang diikuti dengan meningkatnya permintaan tentunya menyebabkan harga produk tepung ikan semakin lama semakin mahal.

Adapun strategi untuk mengantisipasi mahalnya harga pakan buatan adalah pembuatan pakan mandiri dengan memanfaatkan bahan baku lokal. Pembuatan pakan mandiri dengan bahan baku lokal mendorong pembudidaya untuk tidak lagi bergantung pada pakan pabrik yang harganya mahal dan jauh dari jangkauan mereka. Bahan baku alternatif pakan seyogyanya memiliki kandungan gizi yang cukup, mudah diperoleh dan sedapat mungkin tersedia di daerah setempat, harganya yang stabil dan layak, ketersediaannya sepanjang waktu dan jumlah yang mencukupi kebutuhan, dan tidak adanya persaingan dengan kebutuhan pangan manusia. Produksi pakan mandiri sebagai upaya mengurangi biaya produksi akibat harga pakan buatan yang mahal sehingga pada akhirnya akan memberikan margin profit/keuntungan yang lebih besar.

Kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam rangka efisiensi biaya produksi khususnya pakan yaitu:

  • Pemerintah, pengusaha dan pakar mencari solusi bagi penyediaan bahan baku lokal alternatif untuk pembuatan pakan ikan yang bermutu dan berkualitas sesuai SNI;
  • Pengendalian pakan sesuai Permen KP No.PER.02/ MEN/2010 tentang Pengadaan dan Peredaran Pakan Ikan;
  • Untuk menekan harga pakan ikan, pemerintah membebaskan PPN dan BM (bea masuk) atas impor tepung ikan dan pembebasan PPN atas impor bahan baku/pakan ikan;
  • Pemerintah sedang merumuskan insentif melalui keringanan PPh bagi Badan Usaha termasuk produsen pakan ikan;
  • Pemerintah mendorong pemanfaatan sumber bahan baku lokal melalui: perekayasaan teknologi pembuatan pakan ikan berbasis bahan baku lokal, bantuan mesin pakan ikan mini kepada pokdakan dan pelatihan dan pendampingan teknis pembuatan pakan ikan bagi pokdakan.

2. Benih

Benih merupakan input sarana produksi sebagai kunci sukses dalam pengembangan usaha perikanan budidaya. Target sasaran kebutuhan benih ikan/udang sampai dengan tahun 2014 mencapai 69,70 milyar ekor. Sekitar 20% biaya produksi digunakan untuk pengadaan benih. Sediaan benih baik kuantitas maupun kualitas belum memenuhi persyaratan tujuh (7) yaitu tepat, jenis, mutu, jumlah, tempat, ukuran, waktu & harga. Hal ini karena kebutuhan benih sebagian besar masih dipenuhi dari hasil usaha pembenihaan skala kecil dengan kualitas benih cenderung maih rendah, selain itu ketersediaan benih/ikan konsumsi disuatu wilayah pada umunya masih banyak yang didatangkan dari luar daerah, akibatnya biaya transport dan mortalitas selama pengangkutan menambah beban biaya produksi.

Strategi dalam pengadaan benih berkualitas/bermutu yaitu:

Pemilihan benih berkualitas/bermutu dari induk unggul. Syarat benih yang berkualitas/bermutu yaitu tumbuh cepat, seragam, sintasan tinggi, adaptif terhadap lingkungan budidaya, efisien dalam menggunakan pakan, tahan terhadap penyakit dan tidak mengandung residu obat dan bahan kimia. Oleh karena itu sebaiknya benih dibeli dari tempat pembenihan yang dapat dipercaya atau yang telah mendapat rekomendasi dari pemerintah seperti unit-unit pembenihan ikan yang telah menerapkan Cara Pembenihan Ikan Yang Baik (CPIB) agar dapat meningkatkan efisiensi produksi, memperkecil resiko kegagalan serta meningkatkan daya saing dengan peningkatan mutu benih.
Pembenihan secara teknis bukan merupakan sesuatu yang sulit dilakukan, terbukti dengan banyaknya Unit Pembenihan Rakyat (UPR) yang mampu melakukan pembenihan jenis ikan ini. Meskipun umumnya dengan produktifitas yang rendah serta kualitas benih yang dihasilkannya pun cenderung kurang layak serta harga yang cukup mahal. Oleh karena itu sebaiknya memulai produksi benih sendiri dengan menggunakan teknologi yang lebih baik dari yang telah dilakukan UPR dengan menerapkan CBIB. Perbaikan teknis pembenihan dimulai dengan penyediaan induk yang unggul, teknis pemijahan dengan bantuan hormonal, penyediaan pakan alami, enrichment pakan benih, sortasi yang ketat dan manajemen pemberian pakan yang tepat jumlah, ukuran dan waktu yang kesemuanya itu dapat meningkatkan produktifitas benih dengan kualitas yang lebih baik. Tentu pada ujungnya akan menghasilkan keuntungan secara ekonomis maupun teknis bagi pengembangan budidaya pada tahap selanjutnya.

Berkaitan dengan benih berkualitas, Kementerian Kelautan dan Perikanan mendukung efisiensi biaya produksi budidaya ikan berupa:

  • Mempercepat produksi dan penyebaran induk unggul;
  • Revitalisasi BBIS/BBIL, UPR, HSRT;
  • Penerapan CPIB (sertifikasi);
  • Perbaikan data statistik perbenihan.

3. Segmentasi Usaha

Sepeti usaha lainnya, budidaya ikan tidak dapat lepas dari berbagai kendala dan resiko. Sejauh ini, kendala yang sering muncul disebabkan oleh masalah lingkungan dan serangan penyakit. Kendala lain yang tak kalah pentingnya adalah kesalahan penanganan pasca panen dan turunnya harga ikan yang sering dialami oleh petani benih dan pendederan. Munculnya berbagai persoalan dalam budidaya ikan tersebut dapat diatasi dengan baik dengan berbagai cara. Yang merupakan bagian terpenting dari praktek budidaya ikan melalui pendekatan segmentasi atau pemilahan. Segmentasi usaha merupakan upaya menjaga stabilitas produksi dengan mengurangi ketergantungan pada pihak lain dalam proses produksi. Beberapa manfaat dari segmentasi atau pemilahan yaitu:

  • Perputaran modal dan aktivitas budidaya akan lebih cepat berputar.
  • Biaya operasional dan investasi yang diperlukan lebih murah/kecil.
  • Menghasilkan produk dan dapat dipasarkan secara cepat.
  • Mengefisienkan usaha sekaligus membuat peluang kerja baru bagi masyarakat.

Inti segmentasi usaha adalah melakukan pemilahan secara tegas setiap fase dari siklus kehidupan ikan. Pola pemilahan tersebut pada intinya memberikan perlakuan khusus, terpisah dan berbeda terhadap tempat pemeliharaan, pemilihan benih, perawatan dan pencegahan hama dan penyakit pada setiap fase pertumbuhan ikan. Membudidayakan ikan dapat dilakukan dalam skala besar ataupun skala kecil yang meliputi tiga hal yakni usaha pembenihan, pendederan dan pembesaran.

Sumber : Ditjen Perikanan Budidaya

Comments

comments