Dalam mewujudkan Visi Kementerian Kelautan dan Perikanan: “Indonesia Penghasil Produk Kelautan dan Perikanan Terbesar Tahun 2015″ dengan Misi Mensejahterakan Masyarakat Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan menetapkan perikanan budidaya sebagai ujung tombak penghasil produk perikanan. Untuk mewujudkan visi dan misi tersebut, peningkatan produksi budidaya perikanan sebesar 353% telah dicanangkan sebagai program andalan. Peningkatan produksi budidaya perikanan tersebut terus diupayakan sampai memenuhi target dari Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan total produksi hasil perikanan Indonesia mencapai 353% pada tahun 2014 dengan menargetkan sasaran produksi ikan sampai dengan tahun 2014 sebesar 16,89 juta ton dengan 11 komoditas unggulan utama yaitu udang, bandeng, patin, lele, nila, rumput laut, kerapu, kakap, gurame, mas dan lainnya. Adapun yang melatar belakangi perikanan budidaya sebagai ujung tombak penghasil perikanan terbesar tahun 2015 yaitu

  • Semakin berkembangnya usaha budidaya ikan/udang;
  • Potensi pasar lokal dan luar negeri;
  • Tuntutan konsumen terhadap mutu;
  • Meningkatkan jaminan mutu;
  • Persaingan usaha yang sehat.

Pencapaian angka 353% produksi perikanan budidaya pada tahun 2015 bukanlah sesuatu yang mustahil. Melihat potensi pengembangan perikanan budidaya yang masih sangat luas maka hal tersebut dapat dicapai dan cita-cita untuk menjadi yang terbesar terwujud tentu dengan ketekunan dan kerja keras. Untuk mewujudkan target tersebut maka arah kebijakan perikanan budidaya yaitu

  • Program percepatan peningkatan produksi perikanan budidaya untuk ekspor (Propekan) dengan fokus peningkatan daya saing melalui pengembangan dan penguatan penerapan teknologi yang super efisien dan ramah lingkungan;
  • Program percepatan peningkatan produksi perikanan budidaya untuk konsumsi ikan masyarakat (Proksimas) dengan fokus peningkatan komoditas yang mudah dikembangkan, penguatan komoditas spesifik daerah dan pengembangan kolam pekarangan masyarakat;
  • Program perlindungan dan rehabilitasi sumberdaya perikanan budidaya (Prolinda) dengan fokus peningkatan kepedulian masyarakat pembudidaya ikan dalam pelestarian ekosistem sumberdaya perikanan budidaya.

Capaian peningkatan produksi perikanan budidaya 353% dapat ditunjukkan dengan outcomes indicator:

  • Volume dan nilai produksi perikanan budidaya;
  • Volume produksi perikanan budidaya untuk konsumsi ikan masyarakat;
  • Volume produksi budidaya untuk ekspor;
  • Jumlah tenaga kerja yang terserap.

Dengan target peningkatan produksi 353% seperti yang telah diuraikan di atas, maka strategi difokuskan pada tiga hal mendasar dalam strategi dasar pencapaian produksi yakni:

  • Ekstensifikasi, memperluas dan atau menambah unit usaha budidaya.
  • Intensifikasi, meningkatkan produktivitas dari setiap unit usaha budidaya.
  • Diversivikasi, menambah jenis/komoditas yang diusahakan.

Ketiga hal tersebut dapat bersamaan, tetapi khusus untuk komoditas udang windu dan bandeng, hanya dilakukan melalui intensifikasi. Tentunya, ketiga strategi dasar tersebut tidak hanya digunakan sebagai kerangka konseptual untuk mencapai visi dan misi Kementerian Kelautan dan Perikanan tetapi lebih dari itu ketiga strategi dasar tersebut tersirat dalam kebijakan KKP secara faktual. Beberapa langkah strategi dasar tersebut perlu diikuti dengan strategi utama pencapaian sasaran produksi perikanan budidaya yang dapat mendukung keberhasilan visi dan misi Kementerian Kelautan dan Perikanan yakni:

1. Pemilihan spesies kultivan

Makin banyak alternatif spesies kultivan makin kecil ketergantungan untuk satu species tertetu dan makin banyak tersedia alternatif usaha. Pemilihan spesies kultivan harus mempertimbangkan:

  • Permintaan pasar domestik dan ekspor yang cukup besar
  • Dapat dikembangkan di perairan umum (danau, waduk, rawa dan sungai), laut dan lahan- lahan Marjinal (gambut dan rawa dangkal)
  • Teknologinya sederhana, sehingga mudah diterapkan Pokdakan baik pembenihan dan pembesaran ikan
  • Merupakan kegiatan usaha terutama skala kecil yang menguntungkan.

2. Penggunaan induk/benih unggul

Salah satu unsur yang berperan penting dalam penyediaan induk unggul dan benih bermutu adalah Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Perbenihan, tidak hanya memberikan kontribusi bagi penyediaan benih bermutu, tetapi juga berperan dalam mendorong berkembangnya kawasan usaha budidaya baru, memberi kontribusi pendapatan asli daerah (PAD), serta sebagai pembina dan pendamping teknologi kepada masyarakat pembenih (UPR dan HSRT) termasuk dalam hal penerapan CPIB.

Benih merupakan input sarana produksi yang sangat penting dan menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan usaha perikanan budidaya. Selain harus tersedia dalam jumlah yang cukup dan berkelanjutan, mutu benih juga haruslah terjamin. Benih yang bermutu dicirikan antara lain; pertumbuhan cepat, seragam, sintasan tinggi, adaptif terhadap lingkungan, bebas parasit dan tahan penyakit serta efisien dalam penggunaan pakan. Penyediaan benih bermutu dapat dicapai bila unit pembenihan menerapkan Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) dalam proses produksi benihnya. Strategi utama pencapaian produksi melalui penggunaan induk/benih unggul yaitu:

  1. Pembangunan brood stock centre untuk ikan bersirip (fin fish) dan udang
  2. Induk unggul yang sudah di release:
  • Nila (JICA, Gesit, Nirwana, Umbulan, Larasati, BEST, Wanayasa)
  • Patin (Jambal, Pasupati)
  • Udang Cherax (C albertisii, C quadricarinatus)
  • Mas (Sinyonya, Majalaya)
  • Lele (Sangkuriang)
  • Udang Galah (G-Macro)
  • Udang Vaname (Nusantara I)
  • 3. Disetiap provinsi didirikan Balai Benih Ikan Sentral (BBIS) dimana produksi induk penjenis dan mendistribusikan ke BBI dan UPR

3. Penyediaan sarana dan prasarana budidaya yang memadai

Ketersediaan sarana dan prasarana pendukung baik fisik kewilayahan maupun sarana dan prasarana usaha perikanan mutlak dikemukakan sebagai prasyarat keharusan sekaligus acuan pertimbangan bagi kemudahan pengembangan budidaya ikan kedepan. Berkenaan dengan jenis usaha/komoditas yang akan dikembangkan dan dikaitkan dengan sebaran wilayah usaha budidaya/produksi perikanan, maka sarana dan prasarana fisik yang perlu mendapatkan perhatian meliputi prasarana dan sarana tranportasi, kelistrikan, dan telekomunikasi. Penyediaan sarana dan prasarana budidaya yang memadai melalui:

  • Penguatan kelembagaan UPT Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya;
  • Penguatan kelembagaan Balai Benih Sentral & Lokal;
  • Pembangunan prasarana budidaya melalui Kementerian Pekerjaan Umum;
  • Pembangunan sarana budidaya di masyarakat (kolam, KJA, karamba)

4. Peningkatan daya saing

Ikan merupakan salah satu pembatas dalam budidaya. Keberadaannya baik secara kualitas, kuantitas dan kontinyuitas tidak saja menentukan dapat tidaknya usaha perikanan berjalan tetapi juga produktivitas, kualitas dan daya saing global dalam pasar global. Daya saing dapat ditingkatkan dengan menerapkan pola tujuh tepat yakni jenis, jumlah, mutu, ukuran, waktu, tempat dan harga. Strategi utama pencapaian produksi melalui peningkatan daya saing:

  • Pemilihan Lokasi yang tepat
  • Penerapan Teknologi Tepat Guna
  • Penerapan food safety dan food security
  • Mengurangi biaya produksi (pakan, sarana dan prasarana)

5. Pengendalian hama dan penyakit ikan

Pengendalian hama dan penyakit ikan adalah upaya pencegahan masuk dan tersebarnya, pengobatan, dan pemberantasan hama dan penyakit ikan, yang meliputi kegiatan-kegiatan persiapan dan pelaksanaan pengendalian hama dan penyakit ikan, analisis dan evaluasi hasil pengendalian hama dan penyakit ikan, bimbingan pengendalian hama dan penyakit ikan, dan pengembangan metode pengendalian hama dan penyakit ikan, serta pembuatan koleksi, visualisasi, dan informasi. Strategi utama pencapaian produksi melalui pengendalian hama dan penyakit ikan:

  • Benih tahan penyakit SPR (Specific Pathogen Resistant);
  • Penerapan Good Aquaculture Practice (CPIB dan CBIB) yang tepat;
  • Penguatan laboratorium kesling di UPT-Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya;
  • Pembangunan pusat laboratorium kesling di Serang-Banten;
  • Penyelenggaraan lab-keliling (mobile-lab).

6. Bantuan permodalan (DPM, BS-PUKPB, subsidi benih, wirausaha, PUMP dll).

Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) memberikan paket bantuan langsung bagi masyarakat melalui Program Nasional Pengembangan Usaha Mina Perdesaan (PUMP). Kegiatan PUMP merupakan pemberdayaan masyarakat kelautan dan perikanan di perdesaan. Paket bantuan langsung tersebut pada tahun 2010 telah digulirkan kepada pelaku wirausaha perikanan pemula dimana paket budidaya ditujukan bagi 273 kabupaten/kota pada 33 provinsi. Pelaku wirausaha pemula ini diutamakan kepada para sarjana, baik sarjana perikanan maupun sarjana bidang lain. Komoditas perikanan yang dikembangkan antara lain rumput laut, ikan lele, patin, bandeng, mas, nila, dan polikultur udang. KKP juga mengalokasikan PUMP tahun 2011 pada 300 kabupaten/kota .

Sumber : Ditjen Perikanan Budidaya

Comments

comments